Jumat 12 Juni 2020, 05:05 WIB

Menjaga Asa Neraca Perdagangan di Tengah Pandemi

Bagas Haryotejo Kepala Promosi Wilayah Eropa, Direktorat Pengembangan Promosi dan Citra, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan | Opini
Menjaga Asa Neraca Perdagangan di Tengah Pandemi

Dok. Pribadi

KURANG lebih empat bulan, dunia dan Indonesia telah terdampak pandemi covid-19. Bukan hanya di sektor kesehatan, melainkan juga sektor ekonomi. Secara makro ekonomi, dampak covid-19 terhadap perekonomian dunia sangat masif.

Di triwulan pertama 2020, pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia tumbuh negatif. Tiongkok -6,8%, Singapura -2.2%, dan Uni Eropa -2,7%. Beberapa tercatat positif, tapi menurun signifikan bila dibanding dengan kuartal sebelumnya. Seperti AS, turun dari 2,3% menjadi 0,3%, Korea Selatan dari 2,3% menjadi 1,3%, dan Vietnam dari 6,8% menjadi 3,8%.

Indonesia sendiri mengalami kontraksi yang cukup dalam, dari 4,9% di kuartal 4 2019 menjadi tumbuh hanya 2,9% di kuartal awal 2020. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih rendah dari asumsi dasar ekonomi makro, yaitu sebesar 5,3%.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian tumbuh hanya sekitar 2,3% dan yang terburuk -0,4%. *Dari perspektif sektor riil perdagangan nasional, komposisi ekspor selama periode Januari-April 2020 masih didominasi produk nonmigas sebesar 94,6%. Penyumbang utama ekspor nonmigas ialah produk industri pengolahan, disusul pertambangan dan lainnya, dan terakhir pertanian.

Sementara itu, komoditas utama ekspor migas masih berasal dari pertambangan gas dan minyak mentah.

Kontributor utama ekspor nonmigas selama periode tersebut ialah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, logam mulia, kendaraan dan bagiannya, serta mesin dan peralatan mekanis.

Sementara itu, negara yang menjadi tujuan ekspor utama produk nonmigas Indonesia ialah Tiongkok. Berikutnya, secara berturut-turut ialah AS, Jepang, Singapura, dan India dengan kontribusi mencapai 50,6% dari total nilai ekspor nonmigas. Dapat terlihat bahwa situasi pandemi sejak awal tahun belum membawa perdagangan Indonesia pada penyebaran tujuan ekspor ke negara mitra dagang nontradisional.

Di sisi impor, selama April 2020, nilai impor tercatat US$12,54 miliar atau turun 6,1% jika dibandingkan di Maret 2020, turun sebesar 18,6% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Impor utama selama kuarter pertama tahun ini ialah produk nonmigas sebesar 88%.

Sementara itu, sisanya ialah produk migas yang didominasi hasil olahan minyak bumi untuk bahan bakar dan bahan baku industri.

Berdasarkan utilitas, sebagian besar impor digunakan untuk bahan baku penolong, barang modal, dan sebagian kecil untuk penggunaan akhir atau konsumsi langsung. Kontributor utama impor nonmigas selama periode tersebut, yaitu mesin dan perlengkapan elektrik, besi dan baja, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, serta sisa industri makanan yang merupakan barang input esensial dalam proses produksi barang dan jasa dalam negeri.

Jika dilihat dari sisi volume barang, total ekspor pada April 2020 turun cukup signifi kan sebesar 16,4% jika dibandingkan dengan di Maret 2020. Sebaliknya, volume impor mengalami kenaikan 4,6%. Secara harga rata-rata, produk ekspor selama April meningkat sebesar 3,6% jika dibandingkan dengan di bulan sebelumnya. Sementara itu, untuk produk impor, turun 10,3%.

Dari fenomena tersebut, bisa disimpulkan bahwa defi sit pada April 2020 tidak diakibatkan turunnya nilai tukar riil. Namun, lebih disebabkan volume ekspor yang turun signifikan jika dibandingkan dengan di bulan sebelumnya.


Optimisme dan strategi di masa pandemi

Meskipun Indonesia saat ini masih berada dalam fase ‘fog of war’ yang mana semua masih berada dalam ketidakpastian, data BPS menunjukkan secara kumulatif sepanjang Januari-April 2020 posisi neraca perdagangan Indonesia masih surplus senilai US$2,25 miliar.

Adapun catatan defisit sebesar US$0,35 miliar terjadi pada April 2020 berasal dari nilai ekspor yang hanya sebesar US$12,19 miliar. Sementara itu, impor mencapai US$12,54 miliar. Walaupun demikian, capaian periode ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan di periode yang sama tahun lalu yang mana defisit mencapai US$2,3 miliar.

Catatan baik tersebut menunjukkan masih adanya optimisme bahwa Indonesia memiliki cukup leverage untuk menghadapi wabah pandemi dalam waktu yang cukup panjang. Selain itu, juga adanya kenaikan ekspor sebesar 2,9% jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2019 serta peningkatan ekspor berbagai produk seperti ekspor pakaian jadi yang meningkat 84,2%, kendaraan dan sparepart 36,2%, tekstil 15%, minyak sawit mentah 10,3% dan barang elektronik 2%.

Terlebih, berdasarkan publikasi dari lembaga riset Statista (25 Mei 2020), dampak covid- 19 terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Pasifi k, Indonesia mengalami dampak terkecil, yaitu hanya sebesar -0,26% jika dibandingkan dengan Tiongkok -0,91%, Korea Selatan -0,50%, Malaysia -0,49%, Thailand -0,44%, dan Jepang -0,3%.

Menyikapi hal ini, strategi pemerintah sangat menentukan keberlangsungan dan ketahanan perekonomian ke depannya.

Dalam jangka pendek, pemerintah bisa melakukan identifikasi secara lebih mikro untuk sektor atau industri penyumbang ekspor Indonesia yang cukup besar terkena dampak secara ekonomi serta memiliki hubungan yang kuat dengan sektor lain, yaitu sektor yang memiliki forward linkage, dengan menjadi input bagi sektor lain.

Selain itu, juga memiliki backward linkage karena menjadi output bagi sektor lain serta memiliki demand yang cukup tinggi, tapi mengalami kesulitan bahan baku.

Secara paralel, identifikasi sektor yang memiliki akses pasokan, tetapi mengalami kesulitan memasarkan produknya juga penting untuk dilakukan.

Selain itu, bantuan pemasaran dan promosi ke pasar ekspor nontradisional dan new potential market oleh pemerintah juga masih perlu dilakukan. *Di pasar dalam negeri, kelancaran sarana dan prasarana logistik transportasi barang antardaerah juga harus terjamin dan transaksi perdagangan di pasar retail berjalan dengan menerapkan protokol covid-19 yang ketat.

Secara jangka menengah dengan memanfaatkan new normal, beberapa perusahaan multinasional dari negara Eropa, misalnya Jerman dan negara lainnya, seperti AS dan Jepang, saat ini melakukan review sumber rantai pasok global. Mereka melihat rantai pasok global sangat fragile terhadap disrupsi seperti pandemi. Karena itu, perusahaan-perusahaan tersebut berencana merelokasi investasi dari Tiongkok ke negara yang lebih ramah investor serta cenderung netral dalam kondisi tingginya trade restriction dan tensi trade war.

Dengan begitu, akan terjadi perubahan investasi dan produksi pascapandemi sehingga muncul kemungkinan perusahaan memperpendek rantai pasok dengan melakukan sentralisasi produksi di sedikit negara saja.

Peluang paling besar ialah masuknya investasi ke Indonesia ada pada industri yang rantainya sederhana, memiliki pasar yang besar di Indonesia, dan dapat mengakomodasi SDM dan alam yang tersedia, misalnya industri peralatan elektronik serta industri makanan dan minuman olahan.

Tentunya Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan menjadi subtitusi pemasok bagi produsen yang tidak sepenuhnya bergantung kepada Tiongkok. Terlebih, dengan keunggulan komoditas yang secara kompetitif dan komparatif berdaya saing di pasar global.

Diharapkan, implementasi efektif strategi jangka pendek dan menengah itu dapat terus menjaga asa kinerja positif neraca perdagangan di sepanjang 2020 yang penuh tantangan dan ketidakpastian.

Indonesia harus dapat kembali membuktikan kepada dunia bahwa memiliki perekonomian yang resilient yang telah berulang kali berhasil mengatasi hambatan krisis ekonomi global yang melanda dunia.

Baca Juga

MI/SUSANTO

Dinamika Timur Tengah di Bawah Biden

👤Smith Alhadar Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDE) 🕔Rabu 20 Januari 2021, 00:50 WIB
KEMENANGAN Joe Biden akan mengubah dinamika politik Timur...
Dok.MI

Bangkit dan Pulih Pascabencana

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Rabu 20 Januari 2021, 00:40 WIB
GETARAN gempa bumi bermagnitudo 6,2 telah membangkitkan bencana yang melanda Mamuju dan Majene, Sulawesi...
MI/Seno

Menyikapi Ketidakpastian dan Kompleksitas Bencana

👤Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) 🕔Selasa 19 Januari 2021, 05:05 WIB
INDONESIA negara rawan gempa bumi karena berada pada zona tumbukan lempeng-lempeng tektonik aktif, yaitu lempeng...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya