Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN 2019 sudah memasuki hari ke-17, tapi momen tahun baru tentu selalu menarik. Tidak hanya menyangkut penanggalan kalender yang diciptakan secara sengaja oleh manusia, atau tak hanya hadir sekadar sebagai titik awal perhitungan sebuah masa baru. Lebih dari itu, ia mengungkap sebuah dialektika kehidupan yang di dalamnya manusia siap menenun rangkai demi rangkai peristiwa hidupnya. Ia akan membentangkan secara nyata ke depan filosofi tentang kehidupan.
Yang perlu dibangun pada tahun baru, tentu saja ialah pembaruan diri menjadi lebih baik. Membarui diri secara sungguh-sungguh berarti siap merelakan yang sudah lalu berlalu. Ada optimisme dan harapan baru akan hidup. Itu berarti pengalaman-pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan, sejarah hidup yang menyakitkan, bekas traumatis yang melekat dalam ingatan, torehan-torehan seperti ketakutan, juga kebencian dan rasa malu yang turut membentuk identitas kita perlu dibebaskan.
Narasi, menyitir F Budi Hardiman (2011), merupakan salah satu medium yang bisa membantu kita. Persis di dalam narasi inilah torehan-torehan traumatis itu 'ditafsirkan'. Dengan cara itu pula yang lewat direlakan. Narasi di sini bukan sekadar pelestarian ingatan, melainkan juga suatu teknik untuk 'menanggulangi' masa silam, suatu cara untuk merelakan yang lewat sebab relasi mengingat dan melupakan saling jalin-menjalin. Seperti halnya studi-studi sejarah, dokumentasi peristiwa-peristiwa negatif, monumen-monumen dan sebagainya tidak sekadar menghadirkan yang silam, tetapi juga merelakan dan mengatasinya.
Prioritas utama
Perdamaian pada hakikatnya berdampingan erat dengan keadilan. Namun, perdamaian tak dapat diartikan semata-mata sebagai tiadanya konflik. Ia lebih berarti ketenangan dan ketertiban yang penuh. Damai bukan soal 'tempat' seperti saat berada di taman yang indah. Damai bukan juga 'waktu' seperti ketika kita beristirahat sambil mendendangkan sebuah lagu indah. Damai itu suatu sikap batin karena ia menunjuk pada suatu keselarasan hidup antara apa yang ada dan apa yang diharapkan, dalam diri manusia sendiri.
Sebelum diejawantahkan ke luar, perdamaian pertama-tama harus dimulai dari dalam diri sendiri. Secara kolektif, perdamaian melibatkan hubungan intersubjektif. Dalam aplikasi yang sederhana, hal itu secara konkret dapat diwujudkan dengan memberikan ruang kepada setiap orang untuk dapat berkembang dan menjadi kreatif sesuai dengan kemampuan serta anugerah-anugerah yang dimilikinya. Di sini, kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak-hak asasi harus menjadi satu pemahaman yang tertanam dalam diri setiap manusia.
Bagaimana mendefinisikan perdamaian dalam konteks Indonesia, mengingat negeri ini baru saja terpilih kembali menjadi anggota Dewan Keamanan PBB 2019-2010. Ini merupakan salah satu prestasi besar Indonesia di kancah internasional. Pemerintahan Presiden Jokowi dinilai berhasil meyakinkan negara-negara di dunia bahwa Indonesia mampu memegang peran penting dalam menjaga perdamaian dunia.
Di sisi lain, ancaman terhadap perdamaian bukanlah suatu rahasia baru lagi di Indonesia. Perdamaian tergerus akibat eksploitasi sosial dan ekonomi oleh kelompok-kelompok yang punya kepentingan istimewa atau berfungsi sebagai elite dalam kelompok-kelompok lemah.
Ia sirna akibat perpecahan-perpecahan sosial ketika yang kaya menindas yang miskin. Ia tumbuh ketika penindasan ekonomi dan ketegangan-ketegangan intern mengenai struktur sosial membuat orang tak berdaya dan kecewa sehingga bila disulut sedikit saja, akan mudah berkobar menjadi kekuatan-kekuatan yang dapat membawa kehancuran. Ia hancur oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan manipulasi-manipulasi cerdik demi ideologi-ideologi dan sistem-sistem politik yang bertujuan mempertahankan kekuasaan.
Perdamaian telah dipasung ambisi golongan-golongan tertentu. Inilah alasan mengapa daerah kita begitu goyah oleh kecenderungan dan ambisi manusia-manusianya sendiri. Sebuah kesadaran fundamental menyebut bahwa tak ada manusia yang tidak akan beruntung dari perdamaian. Bagaimanapun, perdamaian ialah suatu nilai yang begitu penting dan yang mau tak mau harus diproklamasikan serta diusahakan semua orang.
Filsuf Immanuel Kant (1724-1804) mengafirmasi pentingnya kehadiran perdamaian sebagai sesuatu yang bersifat imperatif. Antitesis dari perdamaian menurut Kant ialah ancaman-ancaman yang sebetulnya gila dan sama sekali tidak manusiawi.
Mengutip Hume (1711-1776), Kant menulis tentang kegilaan itu; "Bila saya melihat dua negara sedang berperang, kesan saya seolah-olah dua orang mabuk menghantam satu sama lain dengan pentungan di dalam toko barang pecah belah. Bukan saja perlu banyak waktu hingga babak belur mereka sembuh, melainkan juga mereka harus mengganti kerusakan yang diakibatkan oleh ulah mereka."
Dengan menggarisbawahi pernyataan Hume ini, Kant sebagaimana ditulis Bertens (2017) mendambakan kemungkinan ultima umat manusia untuk bertumbuh ke arah humanisasi, persatuan, hidup persaudaraan, dan perdamaian abadi.
Memberi secangkir air
Perdamaian berisi keutamaan-keutamaan hidup. Satu di antaranya ialah kasih (baca: cinta). Kasih menjadi satu keutamaan karena ia memampukan seseorang mencapai kehidupan yang bermutu dan bermakna. Kasih yang tulus menghancurkan sekat-sekat kesombongan antarmanusia, meruntuhkan tembok-tembok ingat diri, dan menyatukan jurang-jurang pemisah antarkelompok.
Cinta menurut Plato adalah bapak segala kehalusan, segala kepuasan dan kelimpahan, segala daya tarik, keinginan, dan asmara. Dalam penderitaan dan ketakutan, dalam keinginan dan pemikiran, dialah pemimpin yang terbaik. Aspek cinta yang universal terlihat dalam diri siapa saja.
Memberi cinta dalam konteks masyarakat Ibrani diumpamakan dengan memberi 'secangkir air' (Ibrani: potrion udatos). Mengapa harus menggunakan metafora air, dan bukan makanan, pakaian, rumah? Pemberian yang paling sederhana dari semua contoh di atas tentu saja ialah air. Memberi yang terbaik tidak selalu berarti memberi yang terbesar. Jika tak mampu menghadirkan pakaian atau rumah bagi orang lain, cukuplah beri secangkir air.
Mengapa tak memakai frasa 'sepiring nasi', 'sesuap jagung', 'seketul roti' atau barisan kata satuan lainnya saja? Jelas, selain karena persediaan air yang mudah ditemukan, juga karena pandangan bahwa setiap makanan, dari proses awal pembuatan hingga jadi, melibatkan kehadiran air. Itu sebabnya tak jarang setiap makanan mengandung air.
Masyarakat Ibrani bisa jadi sepakat dengan pemikiran Thales (624-546 SM), filsuf yang mengawali sejarah filsafat Barat, bahwa air adalah prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Dalam konteks kita, air ialah sumber kehidupan dari segala yang hidup. Ia selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Meneladani sifat air, kita seharusnya didorong untuk bisa menjadi penolong bagi orang lain yang sedang mengalami kesusahan atau masalah. Disimpan dalam wadah apa pun, diubah dalam bentuk apa pun, air tidak akan hilang.
Oleh karena itu, memberi secangkir air bagi mereka yang sedang kehausan (potiz) adalah tanda cinta (kasih) paling sederhana. Kendatipun dalam jumlah sedikit, secangkir air tentu sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup seseorang. Memberi secangkir air secara simbolis dapat berarti pula memberi hati, perhatian, kasih, waktu, tenaga, kepercayaan, tempat, dan kenyamanan bagi kehidupan seseorang. Memberi secangkir air berarti menghadirkan cinta kasih yang selanjutnya akan melahirkan perdamaian.
Tahun Baru 2019 sudah bergulir. Kita mulai menulis sejarah hidup, mengenal diri kita apa adanya, menerima, dan membentuknya. Siapa tidak rindu dicintai dengan kendati dan tanpa syarat? Ke mana dan di mana kita akan memberi dan menerima secangkir air yang membawa perdamaian? Lewat pengalaman sejarah hidup beserta pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya. Melalui proses, kita sedang berdamai dengan diri kita sendiri dan berjalan menuju kemerdekaan batin.
Tentu ada luka dan rahmat yang akan membentuk serta mewarnai hidup kita. Namun, kita harus terus berjalan. Bersama Widya Husein (2019), kita berujar, Ya Tuhan, semoga tahun ini/ aku tidak lebih buruk dari tahun kemarin/ supaya awal tahun berikutnya/ aku pantas untuk berdoa/ Ya Tuhan, semoga tahun ini/ aku menjadi lebih baik/ dari tahun kemarin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved