Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bosman dan Perbudakan di Sepak Bola

MI
16/12/2015 00:00
Bosman dan Perbudakan di Sepak Bola
Pembelian Gareth Bale dari Tottenham Hotspur sebesar 100 juta euro menjadi rekor tertinggi di dunia. melambungnya harga transfer pesepak bola dunia merupakan imbas dari Aturan Bosman.(AP)
DI era 90-an, nama Jean-Marc Bosman tidak setenar Diego Maradona atau Marco van Basten pada era 80-an. Namun, Jean Marc Bosman merupakan sosok pahlawan. Bukan karena dia seorang pejuang perang, tapi pejuang hak-hak pesepak bola di seluruh dunia. Berkat kegigihannya, sepak bola modern saat ini telah terlepas dari jeratan perbudakan.

Karier sepak bola Bosman memang tidak mentereng. Ia hanya berkutat di kompetisi domestik Belgia bersama Standard de Liege dan RFC de Liege sebelum menjajal aroma Prancis. Namun, di situlah ia melakukan perubahan.

Pada 1990, kala masih berusia 25 tahun, Bosman ingin meninggalkan tanah airnya untuk menjajal kompetisi di Prancis. Namun, proses kepindahannya dipersulit RFC Liege, meski sudah tidak ada ikatan kerja lagi alias kontraknya telah berakhir.

Status Bosman lantas dibekukan RFC Liege setelah peminatnya, klub Prancis Dunkerque enggan membayar 500 ribu pound jika ingin menggunakan jasa Bosman. Gaji Bosman juga dipotong 75%. Merasa dikelabui, Bosman membawa masalah tersebut ke Pengadilan Uni Eropa di Luksemburg. Setelah perjuangan selama dua tahun, akhirnya pengadilan memutuskan, jika kontrak pemain yang berlaga di klub Uni Eropa sudah habis, dia bebas pindah. Walhasil, status free transfer pemain dikenal hingga saat kini.

Aturan yang dikenal dengan nama Aturan Bosman itu mulai diberlakukan pada 15 Desember 1990. "Saat ini ada pemain yang mendapatkan puluhan ribu euro setiap minggu. Sementara, saya tidak mendapat apa-apa kecuali ucapan terima kasih. Setiap orang memiliki uang, kecuali saya," jelas mantan pemain yang kini berusia 51 tahun.

Memang perjuangan Bosman yang dilakukan dua dekade silam itu tidak berdampak langsung kepadanya. Ia tetap tidak menikmati limpahan uang yang diterima pesepak bola saat ini seperti Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo. Walau memenangi gugatan yang diajukan, dia tetap miskin. Uang kompensasi yang diterimanya habis untuk membayar pengacara.

Tapi, itu tidak membuatnya menyesali apa yang telah diperjuangkannya dulu. "Hari itu, pemain menjadi seperti halnya komoditas. Tapi, saat ini kami akhirnya menang. Saya sangat puas karena melakukan sesuatu yang baik," ujarnya. (AFP/Sat/R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik