Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Cabang Butuh Acuan Federasi Internasional

Akmal Fauzi
09/6/2020 00:35
Cabang Butuh Acuan Federasi Internasional
Ketua Komite Olimpiade Internasional (KOI) Raja Sapta Oktohari(Micom/Vicky Gustiawan)

KOMITE Olimpiade Indonesia meminta setiap induk cabang olahraga untuk meminta rekomendasi dari federasi internasional masing-masing terkait dengan protokol kesehatan dalam menggelar baik latihan maupun pertandingan di fase kenormalan baru.

Ketua Komite Olimpiade Internasional (KOI) Raja Sapta Oktohari mengatakan rekomendasi dari federasi internasional itu nantinya dikomparasikan untuk menyusun protokol kesehatan olahraga yang dibuat pemerintah.

“Kami tidak mau serta-merta menyusun rekomendasi protokol kesehatan. Kami menunggu rekomendasi federasi internasional ke cabang. Setelah itu, baru kami berikan ke pemerintah, Kementerian Pemuda dan Olahraga,” kata Raja Sapta, kemarin.

Setiap cabang, kata dia, memiliki perbedaan dalam menerapkan protokol kesehatan. Untuk itu, rekomendasi dari federasi internasional cabang masing-masing akan menentukan protokol kesehatan baik dari tata kelola latihan, saat pertandingan, maupun di arena.

Pria yang akrab disapa Okto itu menambahkan, Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga telah mengeluarkan protokol kesehatan untuk jadi acuan diterapkan di negara anggota mereka.

“Sehingga memungkinkan ada klasifikasinya nanti. Pelaksanaannya bisa sama, bisa juga beda. Kami beri waktu dua pekan untuk cabang soal rekomendasi itu baru nanti kita sepakati,” jelas Okto.

Dimulainya kembali kegiatan olahraga dinilai penting mengingat ada sejumlah kompetisi internasional yang dijadwalkan bergulir pada paruh kedua tahun ini. Selain itu, atlet perlu menjaga performa untuk bisa mendapatkan tiket masuk Olimpiade 2020.

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali mengatakan pihaknya sudah berdiskusi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan Komite Olimpiade Indonesia dalam merumuskan protokol tersebut.

 

Acuan berbagai ajang

Salah satu induk cabang yang akan langsung meminta rekomendasi dari federasi internasional mereka ialah Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Sekjen PBSI Achmad Budiharto mengatakan pihaknya akan meminta arahan dari federasi internasional bulu tangkis, BWF. Menurut Achmad, BWF akan memutuskan soal protokol kesehatan atlet pada 3 Juli.

Meski demikian, saat ini atlet-atlet PBSI yang menghuni asrama di Cipayung, Jakarta, sudah menerapkan protokol kesehatan saat menjalani
latihan.

“Kami akan lakukan karantina atlet. Mereka rutin cek suhu kemudian kami juga telah melakukan tes virus korona (covid-19) untuk para atlet, pelatih, dan juga karyawan di (asrama) Cipayung,” jelasnya.

Di lain sisi, kata dia, protokol kesehatan yang akan dibuat BWF akan jadi acuan dimulainya turnamen internasional setelah ditunda karena pandemi covid-19. Dalam rilis jadwal terbarunya, BWF menjadwalkan turnamen dimulai pada Agustus 2020.

Turnamen level super 100, Hyderabad Terbuka di India, akan jadi pembuka, yakni pada 11-16 Agustus. Sementara itu, Indonesia Terbuka dijadwalkan digelar 17-22 November.

Pelatih sektor ganda campuran Richard Mainaky mengatakan atletnya kini tengah menjalani latihan pemulihan agar siap menyambut sejumlah kejuaraan. Tahap awal program pemulihan tersebut ditujukan untuk melatih kebugaran fisik akibat program latihan atlet tidak berjalan optimal selama masa pembatasan sosial berskala besar. (Dmr/R-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya