Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

PBSI Akui Kesulitan Cari Tunggal Putri Andalan

Alfa Mandalika
25/6/2019 12:15
PBSI Akui Kesulitan Cari Tunggal Putri Andalan
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susi Susanti.(MI/ADAM DWI)

KEPALA Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susi Susanti mengakui, hingga saat ini, PBSI masih berjuang mengejar ketertinggalan di sektor tunggal putri.

Saat ini, nomor tunggal putri, dinilai Susy, menjadi sektor yang paling tertinggal dibanding empat sektor lainnya di pelatnas.

Hadirnya Rionny Mainaky yang kini menjadi kepala pelatih tunggal putri, diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan prestasi Gregoria Mariska Tunjung cs.

"Saat ini tunggal putri yang harus ekstra kerja keras, makanya kenapa saya bawel ngomong terus. Bukan menganakemaskan tunggal putri, tapi saya mau memacu semangat mereka. Saya bilang 'saya nggak terima, lho. Kita tuh bisa, bukannya nggak bisa, walaupun cuma satu orang, tapi bisa'. Bagaimana caranya menemukan yang satu orang ini," kata Susi seperti dilansir Badmintonindonesia.org.

"Kami berharap di Gregoria, tapi dia masih on-off begitu, kadang bagus, kadang dia kalah dengan dirinya sendiri. Kurang jaga badan, dia harus disiplin sama diri sendiri. Kalau tidak bisa jaga kondisi dampaknya apa? Latihannya kepotong, sudah naik, turun lagi, bagaimana mau ke atas, kalau sudah mulai naik, sakit, nanti sudah naik lagi, sakit lagi, kan susah," ujar Susi.

Baca juga: Indonesia Bawa Pulang 3 Medali Emas dari Malaysia

Susi juga mengungkapkan, beberapa pemain yang sudah memiliki persiapan begitu bagus di latihan, namun tidak bisa mengeluarkan kemampuan saat bertanding.

"Sudah, tidak usah memikirkan apa-apa, nekad dulu di lapangan. Sampai saya bercandain, apa perlu dikasih daging macan ya biar galak? Ha ha ha. Jangan kelemer-kelemer, memang kita ini putri Timur, tapi kalau di lapangan kan bukan putri Timur lagi. Di depan kalian itu musuh, lho, harusnya berpikir, dia atau saya yang mati? Harusnya berpikir seperti perang, kalau kita tidak melawan, ya kita yang akan mati. Itu yang kami terapkan, saya sendiri juga gemas," tutur Susi.

Hal-hal yang terlihat sepele, dikatakan Susi, adalah hal yang terkadang menentukan karakter pemain. Kebiasaan-kebiasaan pemain yang terlalu pasrah bisa menjadi hambatan di lapangan, membuat si pemain dinilai kurang memiliki daya juang yang lebih.

"Di lapangan itu harus kejar bola ke manapun, mungkin ini sepertinya sepele, tapi kan kebiasaan. Mungkin sudah terbiasa 'ya sudah lah". Nggak bisa kayak gitu kan, makanya mindset-nya harus diubah, sikapnya diubah," ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 ini.

Perbaikan di tunggal putri, dituturkan Susi, masih akan memakan waktu yang tak sebentar. Dari target seratus persen, kini progress tunggal putri masih ada di tingkat 20%-30%.

"Ya, masih 20%-30%, bahkan belum setengahnya. Salah satunya memang kurangnya materi pemain putri, kan bisa dilihat sendiri. Tunggal putri sekarang kalau lagi bagus, lalu sakit, bagus lagi, sakit lagi," ujar Susi.

"Sambil kita cari, kalau yang atas nggak bisa, ya cari di yang bawahnya. Tapi kan nggak bisa instan, butuh proses. Kami berusaha kerja keras, sampai berpikir terus, bagaimana caranya. Cari pemain yang petarung, bukan yang 'ya sudah lah'. Menang kalah nggak ada urusan, itu belakangan. Bagaimana dia berani dulu, ngelawan," pungkas Susi.

Diakui Susi menemukan pemain yang memiliki potensi dan kemauan memang tidaklah mudah. Ada pemain yang memiliki potensi, tapi tidak memiliki kemauan dan sebaliknya.

Ia pun mengatakan sudah banyak memberikan masukan, nasihat dan bimbingan ke atlet, namun kembali lagi, si atlet lah yang akan menentukan nasibnya sendiri dan menjadi ujung tombak dalam menentukan prestasinya. (Medcom/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya