Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Inasgoc Sayangkan Penjualan Barang KW di Galeri GBK

Satria Sakti Utama
05/4/2018 18:25
Inasgoc Sayangkan Penjualan Barang KW di Galeri GBK
(MI/Satria Sakti Utama)

PUSAT Pengelola Kawasan Gelora Bung Karno (PPK GBK) melakukan inovasi dengan membuka gerai resmi untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Gerai tersebut dinamai Galeri GBK. Galeri GBK terletak di area bangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, tepatnya di antara zona 11 b dan pintu VVIP.

Galeri GBK layaknya warung kopi dengan menjual beberapa item tambahan  seperti souvenir dan beberapa pakaian olahraga. Yang disayangkan, gerai resmi yang dikelola Koperasi PPK GBK ini juga turut menjual beberapa barang-barang tiruan alias KW.

Dari pengamatan langsung di lapangan, Galeri GBK menjual sejumlah apparel internasional tapi tidak orisinal. Salah satu yang paling mencolok ialah gantungan jersey klub-klub ternama luar negeri lengkap dengan logo apparel resmi terpampang.

Tapi setelah diamati kembali, jersey atau seragam tim sepak bola  tersebut merupakan buatan Thailand atau sering disebut KW Thailand. Galeri GBK membanderolnya dengan harga miring yakni Rp130 ribu. Padahal jika di toko resmi, harga jualnya dapat mencapai 10 kali lipat.

Fakta ini disayangkan oleh Asisten Keuangan Inasgoc Gatot S Dewa Broto yang ditemui di kantornya, Kamis (5/4). Menurut pria yang juga menjabat Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) ini penjualan barang-barang tiruan di toko resmi GBK dapat merusak nama baik Indonesia. Terlebih tidak lama lagi, pagelaran Asian Games 2018 akan berlansung.

"Kami menghormati siapa pun untuk mencari untung tapi bahwa ada ranah tertentu apalagi terkait hak paten kita harus berhati-hati. Jangan sampai menjadi sorotan entah dari OCA (Olympic Council of Asia) atau luar negari kan tidak enak. Nila setitik bisa merusak susu sebelanga," ujar Gatot.

Gatot juga menjelaskan bahwa Host City Contract Asian Games 2018 juga terdapat pasal terkait hak paten yang ketat. Ia tidak ingin permasalahan tentang logo lima ring KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) yang sebelumnya menjadi buah bibir kembali menjadi perhatian dunia internasional.

"Dalam Host City Contract itu ada pasal tentang property right dan itu sangat ketat sekali. Apalagi kami punya pengalaman buruk waktu zaman five ring KONI. Cepat atau lambat mungkin banyak pihak entah OCA atau lainnya berkomentar, lebih baik sekarang kita ingatan," imbuhnya. (A-5)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Agus Triwibowo
Berita Lainnya