REALISASI penanaman padi di Banyumas, Jawa Tengah, baru tercapai sekitar 3.500 hektare (ha) atau sekitar 9,1%. Padahal, target luasan tanam untuk masa tanam (MT) I ialah seluas 32 ribu ha.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Banyumas Tjutjun Sunarti mengatakan masih minimnya lahan sawah yang memasuki MT I disebabkan mundurnya musim kemarau.
"Hingga kini, luas tanam baru mencapai 3.500 ha di 17 kecamatan, sedangkan 18 kecamatan lainnya masih belum melaporkan data," ujarnya, kemarin.
Dinas, katanya, telah melakukan gerakan serentak menanam beberapa waktu lalu. "Kami berharap adanya penanaman padi secara serentak bakal menggenjot luasan area sawah memasuki MT I. Percepatan masa tanam dilakukan agar MT II mendatang tidak terlalu mundur. Selain itu, penanaman serempak akan menurunkan serangan hama dan penyakit," katanya.
Di Yogyakarta, wilayah setempat surplus beras pada 2015. Pasalnya, jumlah padi yang dipanen jauh lebih besar daripada kebutuhan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, mengatakan target panen padi 2015 di DIY diharapkan bisa terpenuhi, yaitu sekitar 914.000 ton. Sampai akhir Desember 2015, lanjut dia, akan ada lebih dari 914.000 ton padi yang telah dipanen.
"Kebutuhan beras kita (di DIY) hanya sekitar 350 ribu ton, sedangkan gabah kering di DIY ada hampir 600 ribu ton. Kita masih surplus," katanya di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, kemarin.
Saat memasuki musim penghujan, petani mulai mengolah tanah dan sudah banyak pula yang menanam padi. Ia mengatakan sejak Senin (7/12) yang lalu hingga saat ini, Dinas Pertanian DIY dan kabupaten/kota turun ke lapangan untuk mendorong percepatan gerakan tanam. Saat ini, area sawah yang merupakan tadah hujan memang tengah masa tanam, tetapi banyak pula area persawahann yang beririgasi sedang memasuki masa panen.
"Tanaman pada Agustus kemarin memasuki masa panen," ungkapnya. Setelah panen, lanjut dia, petani langsung diminta mengolah tanah agar bisa langsung ditanami lagi.
Dikurangi Di bagian lain, alokasi pupuk urea dalam pengajuan usulan alokasi pupuk untuk 2016 Kabupaten Temanggung, Jateng, berkurang sekitar 2.000 ton jika dibandingkan dengan alokasi pada 2015. Penyebabnya ialah penggunaan pupuk urea cenderung menurun.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Temanggung, Harnani Imtikhandari, seusai rapat evaluasi pupuk di Kantor Distanbunhut, kemarin.
Sebelumnya, pada 2015 Kabupaten Temanggung mendapat alokasi sebanyak 26.100 ton urea, 12.950 ton Za, 3.900 ton pupuk SP-36, 10.000 ton pupuk NPK, dan 16.600 ton pupuk organik.
Hingga akhir November, total serapan alokasi pupuk di daerah itu hanya pada kisaran 20.866 ton pupuk urea atau terserap 80%, 3.798 ton pupuk SP-36 atau 97%, 11.350 ton pupuk ZA atau 87,6%, 8.145 ton pupuk NPK atau 81,5%, dan 14.740 ton pupuk organik atau terserap 88,8%.
"Rendahnya serapan pupuk urea karena berbagai faktor, seperti melimpahnya bantuan pupuk nonsubsidi untuk daerah irigasi, penggunaan urea pada petani berkurang atau perubahan pola, petani menggunakan pupuk yang dibutuhkan saja, serta pergeseran tanam akibat adanya kemarau panjang pada 2015," tutur Harnani, kemarin.
Atas dasar data serapan pupuk tersebut, menurut Harnani, pada pengajuan alokasi kebutuhan pupuk untuk 2016, pihaknya akan mengurangi jatah urea menjadi hanya 24.000 ton. Pengajuan alokasi pupuk jenis lain hampir sama dengan alokasi 2015, yakni sebanyak 13.000 ton untuk pupuk ZA, 4.000 ton pupuk SP-36, 10 ribu ton pupuk NPK, dan 15.000 ton untuk alokasi pupuk organik. (AT/TS/N-1)