AKTIVITAS vulkanis Gunung Bromo terus meningkat dan diperkirakan berkelanjutan hingga kurun waktu 9 bulan. Lamanya erupsi itu berdasarkan indikator terjadinya gempa tremor terus-menerus, dengan amplitudo terus meningkat dari hari ke hari.
Peningkatan gempa tremor tersebut juga dibarengi dengan meningkatnya semburan abu dari dalam magma kawah Gunung Bromo dengan warna putih kecokelatan yang makin pekat.
Sebelumnya gempa tremor terus-menerus terjadi dengan dominan amplitudo 6 milimeter dan ketinggian asap 400 meter. Saat ini gempa tremor amplitudo dominan 7 milimeter dengan ketinggian asap mencapai 600-700 meter dari bibir kawah.
"Kami perkirakan erupsi Gunung Bromo akan terus meningkat. Gempa tremor amplitudo akan makin besar. Asap yang keluar dari kawah juga makin tinggi," kata Gede Suantika, Kabid Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) saat berada di Pos Pantau PVMBG Gunung Bromo, di Pasuruan, Jawa Timur kemarin.
Dengan tren yang semakin meningkat sejak 4 November lalu dan peristiwa erupsi pada 2004, 2010, dan 2011, diperkirakan erupsi akan terjadi selama 9 bulan.
Gempa tremor Gunung Bromo saat ini mencapai 24 milimeter hingga 30 milimeter amplitudo dengan dominan amplitudo 7 milimeter. Sementara itu, asap yang keluar dari kawah berketinggian 600 hingga 700 meter berwarna putih kecokelatan membawa material vulkanis berupa belerang dan silika.
Di bagian lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memantau sebaran abu vulkanis Gunung Bromo berada di bawah awan dan kecepatan angin di bawah 10 knot. Hal itu tidak mengganggu seluruh penerbangan di Jawa Timur.
Menurut pantauan BMKG Juanda Jatim, pergerakan abu vulkanis Gunung Bromo sejak Senin pagi hingga Senin siang sudah tidak terlihat.
Pergerakan abu vulkanis gunung di perbatasan Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang itu masih berada di bawah awan atau sekitar 600 meter di atas permukaan laut.
Meski pergerakan abu vulkanis mengarah ke barat dan barat laut, dengan kondisi angin di bawah 10 knot atau sekitar 20 km per jam, abu vulkanis tersebut tidak akan sampai ke Malang. (AB/HS/N-4)