BAGI sebagian orang, sampah merupakan sesuatu yang menjijikkan.
Namun, tidak bagi pemulung yang terbiasa hidup sehari-hari dengan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul di Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Bagi mereka, sampah merupakan 'mutiara' karena bisa menghasilkan nilai secara ekonomi.
Biasanya jenis sampah yang dicari mereka berjenis plastik yang memiliki nilai jual.
Setiap hari aktivitas para pemulung di TPA Cikundul memang cukup ramai. Mereka sudah kebal dengan yang namanya bau sampah.
Setiap kali truk pengangkut sampah tiba di TPA Cikundul, mereka beramai-ramai mengerumuninya.
Dengan peralatan seadanya, mereka mengubrak-abrik tumpukan sampah untuk mencari jenis sampah yang dibutuhkan untuk dijual kembali.
Tak ada rasa jijik, tak ada rasa risih, mereka dengan tekunnya memilah dan memilih sampah yang sekiranya bisa mereka jual.
Ujang, 50, misalnya. Dia sudah cukup lama tinggal di kawasan tersebut dengan tujuan mencari sampah yang akan dijualnya kembali.
Awalnya dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, lama-kelamaan akhirnya memilih tempat di TPA Cikundul.
"Biasanya saya mencari rongsokan. Tapi sekarang memilih di sini," kata Ujang, belum lama ini.
Jenis sampah yang dicarinya ialah seperti plastik bekas air mineral, kaleng, atau jenis sampai lainnya yang memiliki nilai jual.
Setiap hari rata rata Ujang bisa mengumpulkan sekitar 5 kilogram-10 kilogram sampah jenis plastik.
"Dari 1 kilogram sampah plastik bekas air minum, paling ia menerima Rp2 ribu-Rp3 ribu. Ya, bagi kami lumayan hasilnya jika dapat menghasilkan dalam jumlah banyak," akunya.
Keberadaan pemulung di TPA Cikundul dinilai Dinas Pengelolaan Sampah Pertamanan dan Permakaman setempat memang cukup membantu mengurangi volume sampah meskipun tidak terlalu signifikan.
"Kalau mengurangi (volume sampah), bisa dibilang iya, tapi tidak terlalu banyak sih," kata Kepala Dinas Pengelolaan Sampah Pertamanan dan Pemakaman Kota Sukabumi Lilis Astri Suryanita.
Bagi para pemulung, kata Lilis, keberadaan TPA Cikundul memang membantu roda perekonomian mereka.
"Mereka menjual lagi sampah plastik ke tengkulak atau pengepul yang juga berada di sana," ujar Lilis.
Jumlah pemulung di TPA Cikundul, sebut Lilis, tidak pasti. Jika sedang musim kemarau panjang, jumlahnya bisa mencapai sekitar 120-150 kepala keluarga.
Namun, jika musim hujan paling sekitar 50-75 kepala keluarga.
"Jumlahnya tidak konstan karena mereka hidupnya nomaden. Mereka memang tinggal di sana bersama keluarga masing-masing," sebutnya.
Volume sampah yang diangkut ke TPA Cikundul rata-rata mencapai 130 ton hingga 150 ton.
Mayoritas merupakan sampah rumah tangga.
Berdasarkan usia teknis, kapasitas TPA Cikundul seluas 10,33 hektare itu diperkirakan tinggal 3 tahun lagi.