AKTIVITAS vulkanis Gunung Bromo yang terletak di perbatasan empat daerah di Jawa Timur belum berkurang dengan status level III, siaga. Gempa tremor dari dalam kawah dengan semburan material berupa abu vulkanis menyebabkan hujan abu makin meluas.
Jika sehari sebelumnya hujan abu terjadi di lima desa di Kecamatan Sukapura dan dua desa di Kecamatan Tosari dengan radius sekitar 5 kilometer hingga 10 kilometer, kemarin hujan abu meluas hingga radius lebih dari 20 kilometer dari bibir kawah. Berdasarkan pengamatan Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pemantauan Gunung Bromo, hujan abu meluas karena dipengaruhi arah semburan dan kecepatan angin.
"Semburan dari abu vulkanis dipengaruhi arah dan kecepatan angin. Jika semburan mengarah ke timur laut atau barat daya dengan kecepatan angin di atas 25 kilometer/ jam, dipastikan permukiman warga terkena hujan abu," ujar Kepala PVMBG Gunung Bromo Ahmad Subhan, kemarin.
Dengan jangkauan lebih dari 20 kilometer tersebut, hujan abu tidak hanya terjadi di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Hujan abu meluas hingga sejumlah desa di Kecamatan Sumber, Probolinggo.
Debu menutupi atap serta lantai rumah. Agar abu tidak mengotori isi rumah, warga menutup rapat rumah. Warga menggunakan masker jika bepergian. Hujan abu cenderung tebal di malam hari.
"Kami sudah mendapat laporan hujan abu vulkanis Gunung Bromo turun di tujuh desa di Kecamatan Sukapura karena arah angin dan petugas masih melakukan pengecekan ke lokasi setempat," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Probolinggo Dwi Djoko, kemarin.
Dalam mengantisipasi hujan abu vulkanis gunung setinggi 2.329 meter dari permukaan laut itu, lanjut Dwi Djoko, pihaknya bakal membagikan masker ke warga.
"Kami memiliki stok 134 ribu masker, tapi belum dibagikan karena hujan abu vulkanis masih sangat tipis dan arah angin yang sering berubahubah," tutur Dwi Djoko. Sementara itu, hingga kemarin, amplitudo kegempaan Gunung Bromo selama 6 jam terakhir berkisar 6 milimeter hingga 20 milimeter. Cuaca mendung dengan semburan asap kelabu kecokelatan berketinggian 400 meter mengarah ke barat dan barat daya. Banjir lahar Di sisi lain, BPBD Klaten, Jawa Tengah, kembali meminta para penambang pasir di alur Kali Woro mewaspadai ancaman banjir lahar hujan Gunung Merapi.
Pasalnya, di puncak gunung masih terdapat sekitar 60 juta meter kubik material vulkanis sisa erupsi 2010 yang berpotensi longsor masuk sungai jika diguyur hujan lebat.
"Untuk keselamatan, jauhilah segera area penambangan jika puncak gunung sudah mulai diselimuti awan tebal," kata Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Klaten Bambang Sujarwo saat dihubungi, kemarin.
Bambang menjelaskan banjir lahar hujan menjadi ancaman serius di musim penghujan saat ini. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Jumlah penambang pasir manual di Kali Woro, menurut Bambang, mencapai ribuan orang. Demi keselamatan, mereka diingatkan tentang ancaman banjir lahar Merapi.
Menurut Bambang, sosialisasi bahaya lahar hujan juga telah dilakukan bersama relawan. Selain itu, untuk memantau lahar hujan di Cekdam I Karangbutan, kamera pemantau (CCTV) dipasang. (JS/N-2)