Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
INSPEKTORAT Jenderal (Itjen) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengawasi secara ketat seluruh tahapan pelaksanaan haji agar berlangsung sukses dan memberikan kenyamanan kepada jemaah.
Demikian disampaikan Inspektur Wilayah III Kementerian Haji dan Umrah, Mulyadi Nurdin, saat meninjau Asrama Haji Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (30/3).
Mulyadi Nurdin menjelaskan Inspektorat diberikan mandat oleh undang-undang untuk melakukan pengawasan dalam proses pelaksanaan haji dan umrah. Menurutya, Presiden Prabowo Subianto ingin pelaksanaan haji ke depan lebih baik dari sebelumnya, dan institusi Kementerian Haji dan Umrah harus berintegritas dan kompeten.
Penyelenggaraan ibadah haji merupakan amanah besar negara yang menyangkut kehormatan bangsa, kepercayaan umat, serta wibawa Indonesia di mata dunia internasional. Karena itu, seluruh aspek yang terkait dengan layanan haji akan diawasi secara serius oleh Inspektorat Jenderal, termasuk kinerja panitia, petugas, dan tim yang diamanahkan melaksanakan layanan haji dan umrah.
“Pengawasan dilakukan pada semua aspek layanan, baik yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri di Arab Saudi, yang mencakup semua jenis layanan yang diberikan kepada jemaah haji,” ujar alumni Lemhannas RI tersebut.
Ia menambahkan, ruang lingkup pengawasan di dalam negeri meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan laporan kegiatan layanan, termasuk yang dilakukan di asrama haji.
“Asrama haji sebagai gerbang awal keberangkatan jemaah berperan penting dalam mensukseskan ibadah haji, oleh karena itu menjadi atensi kami dalam mengawasi agar semua berjalan sesuai rencana yang ditetapkan oleh pemerintah,” tambah alumni Universitas Al-Azhar Mesir tersebut.
Sementara itu, aspek pengawasan di luar negeri mencakup semua layanan di Arab Saudi, yaitu transportasi, akomodasi, konsumsi, serta layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Untuk itu, Mulyadi Nurdin mengharapkan semua pihak yang terlibat berkomitmen menyukseskan haji dan memberikan layanan terbaik bagi jemaah.
Ia juga mengutip penjelasan Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan Yusuf, serta Wakil Menteri Dahnil Anzar Simanjuntak, bahwa pemerintah tidak memberikan toleransi atau zero tolerance terhadap manipulasi, penyelewengan, dan penyalahgunaan.
Selain itu, petugas diminta tidak terkesan “nebeng haji”, tetapi harus serius dan sungguh-sungguh dalam melayani jemaah. Selanjutnya, Inspektur Wilayah III, Mulyadi Nurdin juga memantau kesiapan petugas haji dalam memberikan layanan kepada jemaah.
Menurutnya, petugas haji adalah ujung tombak dan perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan layanan langsung kepada jemaah selama operasional haji. “Semua harus berkomitmen dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Petugas haji harus bekerja dalam satu komando, satu tim, serta mengesampingkan ego sektoral,” ujarnya.
Ia menegaskan seluruh persiapan harus dilakukan dengan serius dan tidak boleh main-main, karena petugas dan jemaah haji merupakan cerminan bangsa Indonesia di Arab Saudi. Harapannya, pelaksanaan haji tahun ini berlangsung lancar, aman, nyaman, tertib, mabrur, dan tidak meninggalkan masalah.
Sementara itu, Plt Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Kantor Wilayah NTT, Hasan Manuk, menjelaskan mekanisme pemberangkatan jemaah haji dari NTT tahun ini mengalami sejumlah penyesuaian.
Proses pemberangkatan biasanya sudah mulai dipersiapkan sekitar tiga hingga empat hari sebelum jadwal terbang. Para jemaah akan masuk asrama haji dan menginap satu hingga dua malam sebelum diberangkatkan ke Surabaya. Di Surabaya, jemaah juga akan kembali menginap satu malam sambil menunggu giliran masuk ke kloter penerbangan ke Arab Saudi.
“Biasanya pemerintah daerah yang memfasilitasi keberangkatan jemaah dari daerah masing-masing,” ujarnya.
Adapun tahun ini, jumlah jemaah haji asal NTT tercatat sebanyak 516 orang, mengalami penurunan dari sebelumnya 668 orang. Dengan sistem kloter yang baru, pembagian dilakukan sekitar satu setengah kloter.
Untuk jadwal keberangkatan, direncanakan mulai berlangsung pada 11 Mei, dengan total waktu pemberangkatan sekitar 12 hari. Pelepasan dan penjemputan jemaah umumnya dilakukan oleh gubernur atau wakil gubernur.
Hasan menjelaskan, seluruh jemaah nantinya akan berkumpul di Surabaya sebelum berangkat ke Arab Saudi. Namun, terdapat perubahan skema keberangkatan, khususnya bagi jemaah dari wilayah Flores bagian tengah dan barat. “Jemaah dari wilayah tersebut tidak lagi melalui Kupang, tetapi langsung terbang ke Surabaya, karena lebih efisien dari segi biaya. Kalau melalui Kupang, biayanya bisa dua kali lebih mahal,” jelasnya.
Maskapai yang digunakan untuk penerbangan domestik menuju Surabaya antara lain Lion Air dan Batik Air, sedangkan dari beberapa wilayah juga menggunakan Wings Air untuk menuju Kupang terlebih dahulu. Sementara penerbangan ke Arab Saudi menggunakan pesawat yang berbeda.
Ia juga merinci, terdapat delapan kabupaten, termasuk dari wilayah Sumba serta Flores bagian tengah dan barat seperti Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat yang jemaahnya langsung menuju Surabaya tanpa transit di Kupang.
Sementara itu, jemaah dari 14 kabupaten dan kota lainnya tetap masuk ke asrama haji di Kupang sebelum diberangkatkan. “Sekitar 60 persen jemaah kini langsung transit ke Surabaya, sedangkan sisanya masih melalui Kupang,” tambahnya.
Dalam kunjungan tersebut, Inspektur Wilayah III juga meninjau seluruh fasilitas Asrama Haji Kupang, mulai dari ruang sekretariat, aula yang mampu menampung sekitar 1.200 orang, gedung penginapan berlantai tiga dengan 42 kamar yang masing-masing ditempati empat orang, hingga sejumlah kamar di gedung lainnya dengan kapasitas dua hingga tiga orang per kamar.
Selain itu, turut diperiksa fasilitas yang tersedia di setiap ruangan untuk memastikan seluruh sarana pendukung mencukupi dan berfungsi dengan baik. (PO/E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved