Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
RATUSAN sapi tampil bersih dan dikalungi ketupat. Itulah tradisi bakdaan sapi di desa lereng Merapi, tepatnya di Desa Sruni, Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang selalu digelar setiap hari ke-8 bulan Syawal. Tahun 2026 ini, tradisi bakdan sapi dilaksanakan Sabtu (28/3) menjelang siang.
Kemeriahan sudah berlangsung sejak pagi hari. Ratusan warga keluar rumah sembari mengeluarkan hewan ternak sapi yang sudah dimandikan dan diberi wewangian, untuk dikirab mengelilingi Desa Sruni.
Cuasa yang cerah, dengan langit bersaput mega putih tipis, anak anak berlarian memenuhi jalan utama Desa Sruni, yang menjadi pusat dimulainya mengarak ratusan hewan ternak sapi dan kambing keliling desa bagian lereng Gunung Merapi sebelah timur tenggara itu.
Rangkaian kegiatan tradisi itu diawali dengan tasyakuran kenduren yang digelar di jalan kampung pada pagi hari. Seusai doa keselamatan, warga bersantap bareng di sepanjang jalan desa, sebelum mempersiapkan hewan ternak yang akan diarak keliling.
Ada sedikitnya 200 ekor hewan ternak sapi dan kambing dikeluarkan para warga Desa Sruni. Lebih dari 80% pemukim di Desa yang berdekatan dengan puncak Merapi itu adalah peternak, sehingga setiap tradisi bakdan sapi, suasanya sangat meriah.
Yanto, warga Solo yang datang ke Sruni untuk berkunjung silaturahmi ke rumah mertuanya, mengaku sangat tertarik dengan kegiatan tradisi bakdan sapi, yang sudah berlangsung sejak era kerajaan Mataram Islam tersebut.
"Ini sungguh tradisi yang unik sekali. Ternyata yang bakdan atau lebaran bukan hanya warga saja, tetapi termasuk hewan ternaknya, yang disalon dan dikalungi kupat," kata pengantin muda itu, dengan wajah berbinar.
Ketua Panitia Lebaran Sapi, Marjono, menjelaskan ratusan hewan ternak sapi dan kambing turut memeriahkan arak-arakan. "Ini warisan turun temurun. Awalnya untuk kegiatan syiar agama masa Mataram Islam," ungkap dia.
Di balik tradisi bakdan sapi itu, lanjut dia, warga menpercayai bahwa tatkala hewan ternaknya dimuliakan, yakni dibersihkan dan dihias, maka ke depannya akan mampu menggenapi kesejahteraan ekonomi keluarga petani dan desa.
“Jadi filosofinya, ketika berbuat baik ke sapi atau kambing, maka hewan ternak itu balik berbuat baik bagi pemiliknya dan juga desa," tandas Marjono.
Sekaligus, beber dia, bahwa tradisi bakdan sapi ini juga menjadi ungkapan syukur dan harapan keberkahan. "Jadi sumber berkah warga," pungkas dia sebelum memimpin arak-arakan ratusan sapi keliling desa. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved