Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Rupiah Melemah, Stabilitas Harga Pangan Terancam

Agus Utantoro
26/3/2026 15:52
Rupiah Melemah, Stabilitas Harga Pangan Terancam
Ilustrasi(Antara)

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami pelemahan dan kini mendekati Rp17.000 per US$. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri karena fluktuasi kurs dinilai memberi tekanan pada sistem pangan nasional.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas strategis seperti kedelai, gandum, dan bawang putih membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan pangan maupun input produksi.

Ketika nilai tukar melemah, harga bahan baku meningkat dan berisiko mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen. Situasi ini menunjukkan gejolak ekonomi global dapat langsung memengaruhi ketahanan pangan domestik.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada Hani Perwitasari, menilai kondisi tersebut perlu dicermati karena berpotensi menekan sistem pangan nasional. Dari perspektif agribisnis, fluktuasi nilai tukar memiliki dampak yang berbeda terhadap harga pangan di pasar domestik.

Menurut Hani, besarnya pengaruh sangat bergantung pada jenis komoditas serta kondisi ketersediaan di dalam negeri. Komoditas dengan pasokan cukup cenderung tetap stabil meski terjadi tekanan kurs, sementara keterbatasan pasokan dapat memperbesar potensi kenaikan harga.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujarnya, Rabu (25/3).

Ia menjelaskan kerentanan terhadap pelemahan rupiah juga berbeda antar komoditas pangan. Produk yang sulit disubstitusi dan memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan tertentu cenderung lebih sensitif terhadap perubahan nilai tukar sehingga tekanan biaya lebih cepat diteruskan ke harga jual.

“Komoditas yang paling rentan seperti daging, kemudian telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah ini,” jelasnya.

Ketergantungan Impor Tingkatkan Risiko Harga

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan struktur pangan nasional yang masih bergantung pada impor. Ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, impor menjadi langkah menjaga ketersediaan pasokan. Namun, ketergantungan ini membuat sistem pangan lebih rentan terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar.

“Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” kata Hani.

Selain berdampak langsung pada harga pangan, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya produksi sektor pertanian dan peternakan. Sejumlah input produksi masih terhubung dengan pasar global sehingga sensitif terhadap perubahan kurs. Kenaikan harga input pada akhirnya meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha.

“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ungkapnya.

Pengendalian Jangka Pendek dan Penguatan Produksi Nasional

Dalam jangka pendek, pengendalian harga dinilai menjadi langkah penting untuk meredam dampak pelemahan rupiah. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan data produksi dan kebutuhan pangan nasional yang akurat agar kebijakan dapat diambil secara tepat, termasuk keputusan impor saat pasokan kurang.

“Kalau kurang ya perlu impor, kalau tidak kurang ya tidak perlu impor, sehingga kebijakan bisa diambil dengan lebih tepat,” tuturnya.

Di sisi lain, strategi jangka panjang diperlukan untuk memperkuat produksi pangan domestik. Dukungan terhadap petani melalui akses pembiayaan, subsidi input seperti pupuk dan benih, serta perlindungan melalui asuransi pertanian dinilai penting guna meningkatkan kapasitas produksi secara berkelanjutan.

“Peran seluruh pihak termasuk konsumen juga penting, karena memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional,” pungkasnya. (AU/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya