Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA pengetatan standar mutu oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) menunjukkan hasil di sejumlah daerah. Di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, dan Tasikmalaya, Jawa Barat, SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur umum, tetapi juga mendorong perbaikan gizi anak dan penguatan ekonomi lokal.
Di SPPG Kadi Wano, Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti meningkatkan semangat belajar siswa. Pengelola SPPG Kadi Wano, Edwin Putra Kadege, mengatakan banyak anak sebelumnya datang ke sekolah tanpa sarapan.
“Banyak anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi orang tua. Guru-guru melapor anak-anak kini jauh lebih bersemangat sekolah meskipun jarak rumah mereka sangat jauh,” ujar Edwin.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) terkait dampak awal program MBG yang dirilis pada Februari 2026. Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menyebutkan program ini berdampak positif terhadap kondisi kesehatan dan psikologis anak.
“Sekitar separuh dari 1.800 responden orang tua siswa menyatakan anak menjadi lebih jarang sakit dan lebih ceria. Sebanyak 50 persen orang tua melihat anak lebih ceria, dan 48 persen menilai anak lebih jarang sakit setelah menerima MBG,” kata Fajar.
Selain meningkatkan gizi, SPPG juga berperan dalam memperkuat ekonomi lokal. SPPG Kadi Wano yang melayani sekitar 2.000 siswa di 15 sekolah menggandeng kelompok tani setempat sebagai pemasok utama bahan pangan. Skema ini membuat petani memiliki kepastian pasar bagi hasil panen mereka.
Hal serupa terjadi di SPPG Cibuntu, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. SPPG ini mampu memenuhi sekitar 85 persen kebutuhan pangan dari sumber lokal dengan melibatkan petani, pedagang pasar, dan karang taruna.
Mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, mengatakan keberadaan program tersebut mendorong perubahan pola tanam petani di wilayahnya.
“SPPG ini adalah jembatan strategis. Kami memfasilitasi petani agar hasil bumi mereka memiliki pasar yang jelas dan memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan warga desa,” ujar Tino.
Menurut dia, petani yang sebelumnya bergantung pada pasokan luar daerah kini mulai menanam komoditas seperti buah secara mandiri agar dapat diserap oleh SPPG.
Pengelolaan SPPG yang baik juga ditentukan oleh disiplin dalam menjaga kualitas makanan dan higienitas dapur. Selain itu, pengelola dituntut menyesuaikan komposisi gizi dengan usia anak serta selera lokal agar makanan dapat dikonsumsi optimal.
Distribusi makanan yang melibatkan guru juga dinilai membantu memastikan setiap anak mendapatkan perhatian. Di Tasikmalaya, SPPG Cibuntu bahkan mengembangkan program tanggung jawab sosial (CSR) berupa bantuan sarana dan prasarana sekolah bagi anak yatim.
Dengan berbagai capaian tersebut, SPPG dinilai tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi dan sosial di tingkat desa. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved