Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Bersedekah Energi, Mengurangi Emisi

Ardi Teristi Hardi
16/3/2026 22:51
Bersedekah Energi, Mengurangi Emisi
Panel surya yang terpasang di Masjid Al Muharrom, di Bantul.(MI/Ardi Teristi)

SEBUAH bangunan dua lantai tampak berdiri paling terang dibandingkan lingkungan di sekelilingnya, Sabtu (14/3) malam. Menjelang waktu salat Isya dan Tarawih, bangunan yang merupakan Masjid Al Muharram, yang terletak di Kabupaten Bantul tersebut, semakin ramai didatangi jamaah.

"Kegiatan di sini memang semakin ramai saat bulan Ramadaan, terlebih 10 hari terakhir," terang Ananto Isworo, Takmir Masjid Al Muharram kepada Media Indonesia. Penggunaan listriknya pun semakin tinggi karena listrik terus menyala hingga menjelang tengah malam.

Namun, hal tersebut tidak membuat tagihan listrik Masjid Al Muharrom ikut melonjak tajam. Pasalnya, seluruh penggunaan listrik pada malam hari sepenuhnya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Selain PLN, kami juga menggunakan listrik tenaga Surya sehingga mampu menghemat pengeluaran masjid (untuk belanja listrik) hingga 85%," terang pria berusia 48 tahun ini. 

Ia mengatakan, jika digunakan penuh, listrik dari PLTS bisa bertahan dari sekitar pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Artinya, jika hanya digunakan dari Salat Maghrib hingga Salat Isya, 18.00 WIB hingga 19.30 WIB, listrik dari PLTS bisa kembali digunakan untuk Salat Subuh hingga pukul 6 pagi. Selepas itu hingga pukul 18 petang, Masjid Al Muharrom menggunakan listrik dari PLN. 

Ia menambahkan, listrik dari PLTS Masjid Al Muharrom juga mengalir pada 5 lampu jalan di sekitar masjid. "Kami memasang 5 lampu jalan untuk menerangi sekitar 100 meter jalan di sekitar masjid," imbuh dia. "Kita mampu mengoperasikan itu karena kita pakai 4300 KWT dari dua baterai dengan 8 panel Surya," ungkap dia.

BANTUAN MOSAIC
Penggunaan listrik dari PLTS tersebut dimulai pada 2023 lewat bantuan sedekah energi dari Mosaic (Muslims for Shared Actions on Climate Impact). Sedekah tersebut berasal dari sekitar 5.500 orang penggalang dana dengan uang yang terkumpul nencapai Rp 85 juta, yang kemudian digunakan untuk instalasi, pelatihan, hingga operasional.

Program ini sangat membantu karena listrik dari PLN kala itu sering mati. Bahkan, sehari bahkan kadang bisa tiga kali sehingga sangat mengganggu proses ibadah. Dengan adanya panel surya, kegiatan ibadah di Masjid Al Muharram bisa jalan terus. 

Menurut dia, program semacam ini sangat penting untuk diaplikasikan di masjid-masjid yang lain. "Kalau di Indonesia ada 800.000 masjid, (jika pemanfaatan listrik tenaga surya diterapkan) berarti kan kontribusi umat Islam terhadap penggunaan energi bersih sangat besar," terang dia.

Penggunaan listrik tenaga surya melengkapi visi Eco Masjid yang telah diterapkan di Masjid Al Muharram sejak 2013. Ada tujuh program Eco Masjid, yaitu arsitektur bangunan yang ramah lingkungan, penghijauan lingkungan di sekitar masjid, memanen air hujan, sedekah sampah berbasis masjid, masjid ramah anak, masjid ramah difabel, serta pemanfaatan energi terbarukan, transisi energi terbarukan.

PROGRAM SEDEKAH ENERGI
Pemanfaatan listrik tenaga surya di Masjid Al Muharram merupakan bagian dari Program Sedekah Energi yang diinisiasi Mosaic (Muslims for Shared Action on Climate Impact) dari tahun 2023. Selain di Al Muharram, ada lima masjid yang lain yang diinisiasi oleh Mosaic, yaitu Masjid Buya Syafii Maarif di Sumatera Barat, Masjid Al Ummah Al Islamiyah di Kabupaten Lombok Timur, Masjid Istiqlal di Jakarta, Masjid Raya Baiturrahman di Jawa Barat, dan Masjid Al Azhar di Cikarang/Bekasi.

Project Leader/Director Mosaic, Aldy Permana mengatakan, program ini bukan sekedar kampanye pengadaan infrastruktur PLTS untuk tempat ibadah, tetapi program ini hadir sebagai upaya untuk memecahkan kebuntuan dengan menjadikan masjid sebagai pengguna awal (Early Adopter). 

Ketika masjid memasang panel surya, ia tidak hanya menghemat listrik, tetapi menjadi alat peraga pendidikan (edukasi) yang paling efektif bagi ribuan jamaah setiap harinya. "Sedekah Energi bertujuan untuk melakukan solarisasi masjid-masjid di Indonesia," ungkap dia.

Masjid mendemokratisasi teknologi yang  tadinya dianggap elit menjadi teknologi rakyat. Harapannya melalui Sedekah Energi, masjid dapat menjadi simpul pembelajaran soal isu transisi energi dan perubahan iklim. Di luar itu, Sedekah Energi juga memberikan kebermanfaatan sosial dan ekonomi bagi lingkungan setempat.

Ia menjelaskan, Sedekah Energi telah mendapatkan dukungan donasi dari lebih dari 5500 orang dan beberapa dukungan dari organisasi serta pemerintah dan swasta. Program ini pun telah mendapat dukungan dari Kementerian Agama dan Kementerian ESDM. "Saat ini sudah melakukan solarisasi di enam lokasi (masing-masing lokasi sekitar 4-5 ribu watt peak)," terang dia.

JANGKAU ENAM MASJID
Koordinator Enter Nusantara, Reka Maharwati menambahkan, capaian Sedekah Energi telah menjangkau di 6 masjid di Indonesia. Lebih dari 20rb orang berpartisipasi menjadi donor dalam sedekah energi dan 58 orang pengurus masjid dan komunitas lokal mengikuti pelatihan teknis pengelolaan energi terbarukan.

"Kami mencatat, pengurangan emisi karbon 3,4 ton CO2 per tahun/ masjid, 6 masjid yag terinstal setara dengan menanam 2.040 pohon," ungkap dia.

Menurut dia, Program Sedekah Energi memberi pembelajaran yang sangat baik bagi masyarakat. Hal tersebut tampak dari antusias mereka terhadap pemasangan energi terbarukan.

"Masyarakat hingga pengurus masjid sangat antusias untuk belajar tentang kondisi krisis iklim hingga terlibat aktif dalam pembelajaran teknis untuk implementasi, sehingga pemeliharaan dan jika ada kerusakan masyarakat bisa mandiri untuk mengatasinya," jelas dia.

Lewat Sedekah Energi, implementasi energi terbarukan berbasis komunitas dapat dikolaborasikan dengan multistakeholder. Ia menambahkan, bauran energi terbarukan lebih cepat tercapai jika proses transisi dan alternatif pendanaan seperti sedekah energi mampu di duplikasi oleh pemangku kebijakan.

"Sedekah Energi mampu menjangkau transisi energi yang berkeadilan, inisiatif akar rumput dengan skala komunitas perlu didukung agar solusi yang dibuat sesuai dengan kebutuhan masyarakat," terang dia. Oleh sebab itu, Program Sedekah Energi diharapkan bisa menjangkau wilayah pelosok indonesia yang belum mendapatkan listrik, dan menjadi solusi untuk mendorong percepatan transisi energi terbarukan. 

DUKUNGAN PEMERINTAH
Upaya yang dilakukan Mosaic tersebut sejalan dengan program pemerintah yang akan mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di berbagai wilayah di Tanah Air. Stafsus Kementerian ESDM, Pradana Indraputra mengatakan, Pemerintah terus berusaha untuk mencapai nett zero emossion. 

Oleh sebab itu, Sedekah dan Wakaf Energi sangat penting. Ia percaya, manusia ialah khalifah di muka bumi, yang setia menjaga sesama manusia, tetapi juga alam sekitar kita.

Menurut dia, kegiatan ini menjadi satu bentuk ikhtiar, masjid menjadi satu tempat usaha pengembangan moral dari umat Islam dan juga bagi manusia pada umumnya. "Tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga kehidupan yang lebih baik, jaminan masa depan yang lebih hijau," kata dia dalam Kickoff Sedekah dan Waqaf Energi melalui video (4/3). Semua itu bisa dicapai dengan bergandengan tangan seluruh elemen yang ada di Indonesia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani menyampaikan, Presiden Prabowo mendorong agar pembangunan PLTS dapat dipercepat dengan memanfaatkan berbagai skema pendanaan, termasuk Danantara.

“(Pembangunan PLTS) baik dengan dalam negeri maupun dengan pihak swasta yang punya teknologi dan mempunyai kemampuan dari segi solar dan baterainya,” terang dia dikutip dari siaran pers Seskab beberapa waktu yang lalu (5/3).

Rosan menjelaskan, program PLTS inginnya bisa menyasar di semua desa di Indonesia. Namun, pemerintah akan memprioritaskan di daerah-daerah yang memang sudah punya distribusinya. 

"Jadi kurang lebih dari usulan tadi awal 100 gigawatt mungkin ada 13, dari 100 gigawatt jadi 13 gigawatt terlebih dahulu yang rencananya akan diprioritaskan,” terang dia.

Menurut dia, Danantara telah membuat satu prototipe pembangunan PLTS yang telah dikembangkan di Kabupaten Sumenep dengan kapasitas 1 megawatt. “Nah itu juga prototipe itu akan ditinjau, akan dilihat langsung oleh tim, baik oleh ESDM dan juga Mendikti untuk kemudian itu bisa di roll out,” lanjutnya. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik