Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Waka BGN Tindak Tegas Dua SPPG di Ponorogo Milik Orang yang Mengaku Cucu Menteri

mediaindonesia.com
16/3/2026 16:39
Waka BGN Tindak Tegas Dua SPPG di Ponorogo Milik Orang yang Mengaku Cucu Menteri
Ilustrasi(Antara)

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menindak tegas dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik yayasan yang mengaku dimiliki cucu seorang Menteri. Penutupan dilakukan setelah Kepala SPPG dari Ponorogo melapor mendapat tekanan, intimidasi, dan harus menanggung kekurangan belanja dari kantong pribadi.

Dua Kepala SPPG, Rizal Zulfikar Fikri dari SPPG Kauman Somorto dan Moch. Syafi'i Misbachul Mufid dari SPPG Jambon Krebet, menemui Nanik di Blitar saat sosialisasi dan evaluasi Program Makan Bergizi (MBG). Mereka mengadukan tekanan yang dialami selama berbulan-bulan dari yayasan yang menaungi kedua SPPG tersebut.

“Dua Kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan,” kata Nanik.

Menurut pengaduan kedua Kepala SPPG, yayasan juga merekayasa pembelian bahan pangan. Dari anggaran Rp 10 ribu per porsi, mereka hanya membelanjakan Rp 6.500, sehingga Kepala SPPG terpaksa menutup kekurangan biaya dari kantong pribadi. “Mau nggak mau, Pak, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat,” ujar Mufid sambil menahan tangis.

Nanik menilai perlakuan yayasan sangat tidak manusiawi. Para Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan terus diteror, diancam akan didatangi polisi atau pengacara, serta diminta tanda tangan relawan dan sekolah penerima manfaat untuk menyingkirkan mereka.

Menanggapi laporan itu, Nanik langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II, Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro, bersama Tenaga Ahli Utama Waka BGN bidang Media, Hanibal Wijayanta, untuk inspeksi langsung ke dapur-dapur tersebut.

“Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap kepada Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan,” tegas Nanik.

Pihak BGN juga mengonfirmasi kepada Menteri terkait, yang menegaskan tidak memiliki cucu yang mengelola kedua SPPG tersebut. Menteri bahkan menyarankan, “Tutup saja dapurnya!” dan menekankan agar tidak ada fasilitas diberikan kepada klaim keluarga yang tidak benar.

Hasil inspeksi tim BGN menemukan dapur-dapur dalam kondisi kotor, berbau, lantai mengelupas, dinding berjamur, ruang pemorsian tak layak, ventilasi buruk, tidak ada AC, ruang istirahat minim, dan locker seadanya. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pun sangat tidak memadai, hanya memakai buis beton bersambung yang hampir meluap, ditutup triplek tipis.

Kepala SPPG bahkan harus menggunakan dana pribadi untuk perbaikan fasilitas dasar, termasuk pembuatan IPAL. “Kami menggunakan uang pribadi untuk pembuatan IPAL ini, Pak,” ujar Rizal.

Brigjen Dony menegaskan, kondisi dapur-dapur tersebut sangat tidak layak dilanjutkan. Pemilik yayasan mengaku siap mengikuti arahan tim inspeksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya