Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyatakan siap membantu Pemerintah (Pemkot) Kota Bandung mengatasi permasalahan sampah. Salah satunya dengan mewacanakan pelibatan mahasiswa itu saat Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Brian menilai, Bandung memiliki modal kuat yaitu jejaring perguruan tinggi besar dan jumlah mahasiswa yang melimpah. Oleh karenanya, kampus akan dilibatkan dalam pemetaan kebutuhan infrastruktur, kajian model bisnis, edukasi masyarakat, hingga penerjunan mahasiswa melalui KKN tematik.
“Kampus memetakan kebutuhan komposting, maggotisasi, biodigester, RDF, sampai rantai pasoknya. Setelah itu kita usulkan ke pemerintah pusat. Jadi tidak membebani APBD. Pendekatan ini jauh lebih efisien dibanding pembangunan fasilitas waste to energy berskala besar yang bisa menelan biaya Rp2–3 triliun per unit. Kalau model ini berhasil di Bandung, tahun depan bisa diterapkan di seluruh kota di Indonesia,” terangnya saat berkunjung ke Balai Kota Bandung, Rabu (25/2).
Menurut Brian, program rencananya ini akan melibatkan kampus, pemerintah pusat, Pemkot Bandung, hingga unsur TNI-Polri untuk pengawasan, terutama di sektor horeka (hotel, restoran, kafe) dan pasar. Langkah penegakan hukum (gakum) juga disiapkan, disertai insentif bagi pelaku usaha yang patuh. “Kita jadikan Bandung panggung percontohan nasional. Tahun ini kita keroyok bersama,” tuturnya.
Sebelumnya, Pemerintah pusat menetapkan lima daerah sebagai pilot project pengelolaan sampah berbasis kolaborasi kampus dan pemerintah daerah, yakni Bandung, Bogor, Tangerang, Purwokerto dan Yogyakarta.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memaparkan, saat ini, timbulan sampah mencapai 1.507,85 ton per hari. Sekitar 60% berasal dari rumah tangga dengan dominasi sisa makanan dan daun. Namun, berdasarkan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sampah yang benar-benar terkelola dipilah, diolah, dimanfaatkan baru sekitar 21,63%. Sisanya masih mengalir ke TPA atau tercecer di lingkungan.
“Mindset yang harus kita ubah adalah saya sudah bayar, sampah harus hilang. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola. Saya juga menyoroti praktik pembuangan sampah liar di wilayah perbatasan dan kawasan tertentu, termasuk keterlibatan oknum dalam rantai pengangkutan tidak resmi," ungkapnya.
PROGRAM GASLAH
Sebagai jawaban atas persoalan hulu, Pemkot Bandung lanjut Farhan meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah) dan telah merekrut sebanyak 1.597 petugas Gaslah atau satu orang per RW untuk mengetuk pintu rumah warga, mengedukasi pemilahan, sekaligus mengangkut sampah organik. Setiap petugas ditargetkan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari.
"Program ini ditopang anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun dan dipantau melalui dashboard digital real-time yang juga menjadi indikator kinerja camat dan lurah. Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” tegasnya.
Pemkot Bandung kata Farhan juga mengintegrasikan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting dalam satu ekosistem sirkular. Sampah organik diolah jadi kompos/maggot dimanfaatkan urban farming hasil panen untuk dapur warga sisa dapur kembali dikelola. Inilah sirkular Bandung Utama. Kita bangun budaya, bukan hanya teknologi.
"Kunci keberhasilan adalah menurunkan produksi sampah per orang. Saat ini, warga Bandung menghasilkan rata-rata 0,58 kg sampah per hari. Targetnya ditekan di bawah 0,4 kg. Kalau kesadaran tidak dibangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” sambungnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved