Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
JEMAAH An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2/2026). Penetapan tersebut sama dengan keputusan Muhammadiyah, namun berbeda dengan pemerintah yang menetapkan awal Ramadan atau dimulainya bulan puasa pada Kamis (19/2).
Keputusan itu didasarkan pada metode perhitungan dan pengamatan bulan yang menjadi tradisi turun-temurun di kalangan jemaah yang bermukim di Perkampungan Mukmin An-Nadzir, Kelurahan Mawang, Kecamatan Bontomarannu.
Pimpinan jemaah, Ustadz Samiruddin, menjelaskan penentuan awal Ramadan dilakukan melalui rangkaian pengamatan sejak awal hingga pertengahan Syakban, lalu dilanjutkan pemantauan intensif menjelang akhir bulan. “An-Nadzir ini kan memiliki satu ilmu dan metodologi sendiri yang diajarkan oleh guru dan imam, dan itu tetap kita pertahankan,” ujarnya, Selasa (17/2).
Menurutnya, salah satu metode yang digunakan adalah pengamatan fenomena “bayangan bulan”. Pada hari ke-28 Syakban, mereka mengamati bulan menggunakan kain tipis dan melihat bayangan yang tampak berlapis tiga. “Ilmu yang kami pahami dari guru itu, kalau bayangan bulan itu dua, berarti masih terbit lagi dua kali. Artinya masih terbit hari Senin dan Selasa,” terangnya.
Ia menambahkan, pada Senin pagi sekitar pukul 05.44 WITA, bulan masih terlihat di ufuk barat. Fenomena tersebut dipahami sebagai penanda bahwa bulan Syakban telah memasuki hari ke-30.
Selain pengamatan manual, jemaah juga memanfaatkan aplikasi astronomi untuk memantau pergerakan bulan dan matahari. Mereka turut mengaitkan fenomena gerhana matahari cincin yang terjadi di Antartika sebagai salah satu tanda pergantian bulan menurut pemahaman mereka. “Ilmu yang kita pahami bahwa ketika terjadi gerhana matahari, itu salah satu tanda tentang pergantian bulan,” tambahnya.
Samiruddin menilai kesamaan awal Ramadan antara An-Nadzir dan Muhammadiyah merupakan hal yang mungkin kembali terjadi. “Ya, kelihatannya seperti itu, Muhammadiyah juga 18 besok. Bisa saja ke depan An-Nadzir lebih banyak sama dengan Muhammadiyah, karena pedoman Muhammadiyah sekarang ada kalender global,” ujarnya.
Meski berbeda dengan ketetapan pemerintah, jemaah tetap mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Mereka mengimbau anggota komunitas menjaga kesehatan serta memperbanyak ibadah, termasuk tadarus Al-Qur’an selama bulan suci. (LN/I-1)
JEMAAH An Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembali menggelar lebaran Idul Adha lebih dulu dari lebaran yang ditetapkan pemerintah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved