Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Cuaca Ekstrem, PJT II Optimalkan Pengendalian Banjir di Jabar

Media Indonesia
11/2/2026 20:24
Cuaca Ekstrem, PJT II Optimalkan Pengendalian Banjir di Jabar
(MI/HO)

MENGHADAPI anomali cuaca yang masih aktif terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, Perum Jasa Tirta II (PJT II) terus melakukan upaya terukur dalam menyiapkan langkah mitigasi dampak hidrometeorologi. Fokus utama perusahaan saat ini adalah menjaga keandalan pengelolaan sumber daya air (SDA) di tengah ancaman banjir, genangan, hingga tanah longsor akibat cuaca ekstrem.

Prediksi BMKG 2026:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem di Indonesia masih akan berlangsung hingga Maret 2026. PJT II berkomitmen menerapkan pengelolaan SDA yang adaptif dan berkelanjutan untuk merespons tantangan perubahan iklim ini.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso, menyatakan bahwa mitigasi dilakukan secara berkelanjutan dengan mengedepankan fungsi pengendalian banjir serta keselamatan masyarakat. "Kami terus menyesuaikan pola operasi dan kesiapsiagaan di lapangan agar dampak cuaca ekstrem dapat diantisipasi sejak dini," ujar Imam dalam keterangan resminya, Rabu (11/2/2026).

Implementasi Lapangan: Penanganan Longsor dan Perbaikan Tanggul

Implementasi nyata di tingkat operasional terlihat dari aksi cepat Unit Wilayah III PJT II di Subang, Jawa Barat. Pada akhir Januari 2026, tim melakukan penanganan longsoran yang menutup Saluran Sekunder (SS) di Desa Darmaga, Kecamatan Cisalak. Longsor yang dipicu hujan intensitas tinggi tersebut berhasil ditangani melalui kerja bakti bersama perangkat desa, aparat, dan partisipasi aktif masyarakat.

Selain di Subang, Unit Wilayah I PJT II juga melakukan langkah darurat di wilayah Bekasi. Perbaikan dilakukan pada tanggul saluran sekunder Kedunggede di Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, yang sempat jebol sepanjang delapan meter. Tanggul ini sangat vital karena melayani area irigasi seluas lebih dari delapan hektare.

Proses perbaikan melibatkan alat berat berupa ekskavator, pemasangan karung plastik berisi tanah, cerucuk bambu, bronjong, serta terpal sebagai penguat sementara. Langkah ini memastikan fungsi saluran irigasi tetap optimal meski curah hujan masih tinggi.

Bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, perusahaan juga menormalisasi saluran sekunder Bendung Kedung Gede (BKG) di Kecamatan Pebayuran sebagai upaya pemulihan pascabanjir sekaligus mengoptimalkan kembali fungsi irigasi pertanian. Area normalisasi mencakup bentang saluran sepanjang 25 kilometer mulai dari BKG 15-BKG 40.

Kolaborasi Strategis dan Koordinasi Lintas Instansi

PJT II memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pertukaran data intensif. Salah satu pilar utamanya adalah rapat rutin Tim Koordinasi Pengoperasian Bendungan Kaskade Citarum (TKPBKC) yang dilaksanakan setiap bulan.

Forum ini dihadiri oleh berbagai stakeholder strategis, antara lain:

Lembaga/Instansi Peran dalam Koordinasi
BMKG Penyedia data prakiraan cuaca dan iklim real-time.
BBWS Citarum Koordinasi teknis wilayah sungai Citarum.
PLN (UIP2B) Pengaturan beban listrik terkait operasional waduk.
Dinas SDA Jawa Barat Sinkronisasi kebijakan SDA tingkat provinsi.

Secara internal, PJT II juga menjalankan rapat rutin Tim Koordinasi Operasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKOSDA) setiap dua minggu. Pertemuan ini fokus pada pembaruan kondisi penyaluran air baku, penanganan bencana, serta pemeliharaan prasarana SDA di bawah koordinasi PJT II.

"Kolaborasi lintas instansi menjadi fondasi penting dalam membangun respons cepat dan terpadu di lapangan," tutup Imam Santoso. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya