Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Cuaca Buruk, Inflasi Babel Lampaui Angka Nasional

Rendy Ferdiansyah
08/2/2026 11:00
Cuaca Buruk, Inflasi Babel Lampaui Angka Nasional
Cuaca buruk yang melanda perairan Bangka Belitung memberikan andil tingginya inflasi Babel dari angka nasional.(MI/Rendy Ferdiansyah )

CUACA buruk yang melanda seluruh perairan Provinsi Bangka Belitung menyebabkan inflasi pada Januari 2026 mencapai 3,95% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 3,55% (yoy). Secara bulanan, Babel mengalami inflasi sebesar 0,28% (mtm), lebih rendah dibandingkan periode Desember 2025 yang mencapai 0,55% (mtm). 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan kondisi cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai gelombang tinggi membuat nelayan memilih untuk tidak melaut. Hal ini mengakibatkan berkurangnya pasokan ikan dan cumi-cumi di pasar, yang berdampak pada kenaikan harga komoditas tersebut.

"Memang daerah kepulauan ini cuaca cukup ekstrem, makanya sangat memberi andil untuk inflasi, seperti saat ini, inflasi kita 3,95% yoy, lebih tinggi dari nasional 3,55% yoy," ujar Rommy pada Minggu (8/2). 

Namun demikian, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah kerja Provinsi Babel terus berkomitmen menjaga ketersediaan stok sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Secara spasial, seluruh wilayah yang disurvei Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi. 

Kabupaten Bangka Barat menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi yakni 5,36% (yoy), diikuti Kota Pangkalpinang (3,69%/yoy) dan Kota Tanjungpandan (3,29%/yoy). Sementara itu, Kabupaten Belitung Timur mencatatkan inflasi terendah sebesar 3,09% (yoy). 

Rommy menambahkan, Bank Indonesia terus bersinergi dengan TPID dan mitra strategis lainnya untuk menjaga inflasi pada rentang rendah dan stabil sesuai target nasional yakni 2,5±1%. 

"Kondisi tersebut dibutuhkan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," katanya.

Dalam pengendalian inflasi, pihaknya memperkuat kerangka kebijakan 4K yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. 

Untuk mendukung keterjangkauan harga bahan pokok, Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah telah melakukan koordinasi untuk mengorkestrasi pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM) sebanyak 57 kali dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 41 kali sepanjang tahun 2026. 

"Hingga saat ini telah diselenggarakan kegiatan GPM sebanyak 8 kali dan OPM sebanyak 1 kali," jelasnya. (RF/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya