Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PROVINSI Kalimantan Selatan merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Karakteristik geografis wilayah yang memiliki daerah aliran sungai (DAS), dataran rendah dan cekungan, serta kawasan hutan dan lahan gambut menjadikan provinsi ini rawan bencana, terutama bencana hidrometeorologi saat musim penghujan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.
Bencana berulang setiap tahun ini menjadikan penanggulangan bencana sebagai isu strategis yang harus ditangani secara kolaboratif dan berkelanjutan. Secara nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sepanjang 2025 Indonesia telah mengalami sebanyak 2.997 kejadian bencana alam.
Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia berada pada zona risiko tinggi terhadap bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun akibat degradasi lingkungan. Dari total kejadian tersebut, bencana banjir menempati urutan tertinggi dengan 1.503 kejadian, disusul cuaca ekstrem dengan 644 kejadian.
Di Kalimantan Selatan setiap tahunnya mencatat lebih dari 100 peristiwa bencana alam. Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan mencatat bahwa sepanjang 2024 telah terjadi 138 kali bencana alam, yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Meliputi 45 kejadian banjir, 20 kejadian tanah longsor, 64 kejadian angin puting beliung, serta 10 kejadian gempa bumi berskala rendah. Peristiwa gempa ini juga mengindikasikan provinsi ini tidak sepenuhnya bebas dari potensi bencana geologi.
Pada 2025, jumlah kejadian bencana di Kalimantan Selatan bahkan meningkat menjadi 148 peristiwa. Bencana yang terjadi tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Kerugian langsung akibat bencana berulang ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 miliar, belum termasuk kerugian ekonomi tidak langsung yang nilainya dapat mencapai triliunan rupiah. Dampak tersebut turut mempengaruhi alokasi anggaran pemerintah daerah (APBD) maupun pusat (APBN), guna penanganan darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi infrastruktur dan pemulihan sosial pasca bencana di berbagai wilayah.
BANJIR BESAR
Di penghujung 2025, Kalimantan Selatan kembali dilanda bencana banjir besar yang hampir serupa dengan banjir besar 2021. Bencana ini dipicu oleh tingginya curah hujan yang terjadi secara terus-menerus, diperparah dengan angin kencang serta fenomena rob di wilayah pesisir akibat pasang laut. Kondisi tersebut menyebabkan air sungai meluap dan merendam pemukiman warga dalam waktu yang cukup lama.
Bencana banjir ini juga terjadi hampir bersamaan dengan banjir besar di tiga provinsi di Pulau Sumatra, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang menimbulkan dampak luar biasa. Di Kalimantan Selatan, banjir bahkan tidak kunjung surut selama satu bulan lebih di beberapa wilayah, sehingga menyebabkan lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat dan semakn terpuruknya kondisi sosial warga terdampak yang sebagian merupakan warga miskin (mustahik).
Banjir kali ini ditandai dengan terjadinya banjir bandang di wilayah hulu Kabupaten Balangan, yang kemudian berdampak luas ke daerah hilir. Tercatat terdapat delapan kabupaten yang wilayahnya terdampak banjir, meliputi Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, dan Tanah Laut. Banyaknya jumlah warga yang menjadi korban dan luasnya dampak bencana, memerlukan bantuan, kepedulian dan penanganan kolaboratif semua pihak.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, Roni Eka Saputra, menyebutkan bahwa hingga beberapa waktu setelah kejadian, banjir masih merendam sebagian wilayah, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Banjar. “Tercatat sebanyak 32 ribu keluarga terdampak banjir atau sekitar 220 ribu jiwa, dan ribuan warga sempat mengungsi,” ungkap Roni. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat kondisi cuaca yang masih fluktuatif.
Sejumlah pihak menilai bencana banjir yang terus berulang di Kalimantan Selatan tidak semata-mata disebabkan oleh tingginya curah hujan. Faktor kerusakan dan menurunnya daya dukung lingkungan turut berkontribusi dalam peristiwa bencana. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi menjadi faktor utama yang memperparah risiko banjir.
BAZNAS TANGGAP BENCANA
Dalam setiap peristiwa bencana, keterlibatan berbagai elemen menjadi sangat penting. Selain BPBD, instansi pemerintah, TNI-Polri, dan Taruna Siaga Bencana (Tagana), kehadiran Baznas Tanggap Bencana (BTB) juga menjadi bagian penting dalam penanganan bencana di lapangan secara kolaboratif.
Baznas Tanggap Bencana merupakan unit khusus di bawah Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang fokus pada penanganan darurat dan pemulihan pascabencana dengan memanfaatkan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Layaknya tenaga kebencanaan profesional, anggota Baznas Tanggap Bencana telah mendapatkan pelatihan kebencanaan dan dibekali kemampuan serta peralatan yang memadai untuk melakukan respons cepat (rapid response) saat terjadi bencana.
Di setiap kabupaten dan kota, Baznas memiliki sekitar lima personel Baznas Tanggap Bencana yang siap diterjunkan kapan saja. Mereka terlibat dalam berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pra bencana melalui kegiatan edukasi dan mitigasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana. Saat tanggap darurat Baznas Tanggap Bencana ikut membantu evakuasi warga, termasuk kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Hingga pascabencana Baznas Tanggap Bencana ambil bagian membantu pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Ketua Baznas Provinsi Kalimantan Selatan, Irhamsyah Safari, menjelaskan bahwa Baznas memiliki komitmen kuat dalam penanggulangan bencana. “Baznas memiliki tim atau unit yang disebut Baznas Tanggap Bencana di tiap daerah. Mereka telah dilatih sebagai tenaga kebencanaan secara berkala dengan melibatkan BPBD, dan dibekali peralatan penanganan bencana seperti tenda pengungsian, mobil lapangan hingga perahu karet, baik bantuan dari Baznas pusat maupun milik Baznas provinsi,” ujarnya.
Pada bencana banjir yang melanda delapan kabupaten di Kalimantan Selatan pada akhir Desember 2025 hingga Januari 2026, personel Baznas Tanggap Bencana turut berjibaku dalam upaya evakuasi warga serta penyaluran bantuan. Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pokok, air bersih, layanan medis, serta makanan siap saji. Sedikitnya ribuan warga terdampak banjir mendapatkan bantuan Baznas Tanggap Bencana.
“Tim kami membantu penanganan banjir di beberapa daerah. Bantuan disalurkan melalui posko bersama yang dibangun pemerintah, dan sebagian langsung ke lokasi banjir,” ujar Humas Baznas Provinsi Kalimantan Selatan, Adi, di sela-sela rapat evaluasi penanganan dan penyaluran bantuan bencana beberapa waktu lalu.
UMKM BINAAN BAZNAS
Menariknya, sebagian bantuan logistik tersebut berasal dari UMKM binaan Baznas, seperti warung makanan dan minuman serta pedagang kebutuhan pokok. Pendekatan ini tidak hanya membantu korban bencana, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi para mustahik. Selain itu, Baznas juga menyalurkan bantuan sarana ibadah berupa perlengkapan shalat, karpet dan Al-Qur’an kepada warga terdampak banjir.
Camat Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Ahmad Rabani, mengapresiasi keterlibatan Baznas dalam penanganan banjir. “Kami sangat bersyukur banyak pihak ikut terlibat membantu penanganan banjir ini, termasuk Baznas. Warga sangat terbantu dengan kehadiran dan bantuan yang diberikan,” ujarnya yang berharap bencana banjir tidak terulang karena berdampak sangat merugikan masyarakat.
Tercatat nilai bantuan yang disalurkan oleh Baznas Tanggap Bencana untuk bencana banjir di Kalimantan Selatan mencapai lebih seratus juta rupiah. Selain itu, Baznas se-Kalimantan Selatan juga menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana di Sumatra hasil penggalangan dana masyarakat yang mencapai Rp1,49 miliar, yang disalurkan melalui Baznas pusat untuk mendukung proses pemulihan (recovery) pascabencana.
POTENSI ZAKAT KALSEL
Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi zakat yang sangat besar. Dengan jumlah penduduk muslim mencapai lebih dari 95%, didukung oleh kondisi ekonomi yang relatif baik serta keberadaan industri di sektor pertambangan dan perkebunan, potensi penggalangan dana zakat, infak, sedekah, CSR, dan dana sosial keagamaan diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.
“Potensi penerimaan zakat dan penggalangan dana lainnya sangat tinggi. Namun sejauh ini belum sepenuhnya maksimal karena tidak adanya paksaan, serta masih banyak masyarakat yang menyalurkan zakat melalui lembaga lain atau secara mandiri,” ungkap Irhamsyah.
Dikatakannya, zakat memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui redistribusi kekayaan. Baznas Kalimantan Selatan mengelola dana zakat tidak hanya untuk bantuan konsumtif, tetapi juga zakat produktif berupa bantuan modal usaha dan pelatihan keterampilan, dengan tujuan mengubah mustahik (penerima) menjadi muzakki (pemberi).
Selain itu, Baznas juga memiliki program bantuan pendidikan dan kesehatan. Salah satu program unggulannya adalah Banua Cinta Zakat, yang bertujuan mendorong pengumpulan zakat hingga ke pelosok daerah serta mengajak pejabat daerah dan ASN untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui Baznas.
Pada 2025, Baznas Provinsi Kalimantan Selatan menargetkan penerimaan dana sebesar Rp51,69 miliar, namun realisasi yang tercapai hanya sebesar Rp32,7 miliar atau sekitar 63 persen dari target ditetapkan. Dana tersebut berasal dari zakat sebesar Rp11,7 miliar, infak dan sedekah Rp7,2 miliar, dana CSR perusahaan Rp8,9 miliar, serta dana sosial keagamaan lainnya sebesar Rp4,7 miliar.
PENYALURAN ZAKAT
Sementara itu, penyaluran dana hingga akhir 2025 mencapai Rp28,8 miliar, yang dialokasikan untuk sektor pendidikan sebesar Rp7,3 miliar, sektor ekonomi Rp1,5 miliar, sektor kesehatan Rp1,3 miliar, serta bantuan kemanusiaan, termasuk penanganan bencana banjir sebesar Rp12,8 miliar, yang menjadi porsi penyaluran terbesar. Khusus di bidang pendidikan, Baznas juga menyediakan program beasiswa hingga ke luar negeri, salah satunya ke Mesir.
Kiprah Baznas di tengah bencana menunjukkan bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban bernilai ibadah, tetapi juga sebagai solusi nyata dalam penanganan masalah kemanusiaan. Di tengah tingginya intensitas bencana di Kalimantan Selatan dan Indonesia, peran Baznas Tanggap Bencana menjadi sangat strategis. Dengan optimalisasi potensi zakat dan penguatan kolaborasi lintas sektor, Baznas diharapkan dapat terus berkontribusi dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana di masa depan. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved