Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Universitas Syiah Kuala Gandeng Jepang Bangun Rumah Sakit Pendikan Tanggap Bencana

Amiruddin Abdullah Reubee
21/1/2026 22:08
Universitas Syiah Kuala Gandeng Jepang Bangun Rumah Sakit Pendikan Tanggap Bencana
Rektor USK (baju putih) saat menerima Rombongan langsung dari Jepang dihadiri Deputy Director JICA Southeast Asia and Pacific Dept, Oba Takashi dan Country Officer Southeast Asia and Pacific Dept, Shiraishi Yukari.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

UNIVERSITAS Syiah Kuala (USK) Aceh, melakukan pengembangan infrastruktur kesehatan dan pendidikan kelas dunia. Hal itu ditandai melalui kerjasama universitas negeri tertua di Aceh itu dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) pusat dari Tokyo. 

Pada tiga hari lalu (Senin 19 Januari 2026), Rektor USK Profesor Marwan bersama jajarannya, menerima kunjungan delegasi JICA untuk meninjau persiapan awal pembangunan Rumah Sakit Pendidikan berkelas internasional itu. 

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian komunikasi intensif yang telah terbangun sebelumnya antara USK dengan JICA perwakilan Indonesia. Kali ini, delegasi dari Tokyo turun langsung untuk melakukan verifikasi lapangan serta melihat kesiapan dokumen strategis yang menjadi syarat mutlak dimulainya proyek besar ini.

Rektor USK Profesor Marwan melalui Media Indonesia, Rabu (21/1) menyampaikan, progres proyek sedang melakukan tahapan krusial. Yakni transisi dari Blue Book (rencana daftar proyek pinjaman luar negeri jangka menengah) menuju Green Book (daftar rencana pinjaman luar negeri siap direalisasikan). "Kunjungan JICA Tokyo untuk melihat langsung kesiapan dokumen dan lokasi fisik. Kita sedang persiapan dokumen lanjutan untuk mendukung proses Blue Book ke Green Book," kata Rektor Marwan.

Dikatakan Marwan, koordinasi lintas sektoral terus diperkuat, guna memastikan kelancaran administrasi. "Kami secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), pihak JICA sebagai calon pemberi pinjaman, serta Bappenas," tuturnya.

Setelah kunjungan ini, pihak JICA dijadwalkan melakukan survei detail terkait Feasibility Study (FS) atau Studi Kelayakan. USK sendiri telah menyiapkan dokumen awal FS yang akan disinergikan dengan standar kebutuhan JICA.

"Ini penting sebagai syarat penandatanganan kontrak yang kami harapkan bisa terlaksana awal tahun depan. Kami melengkapi dokumen sesuai kebutuhan, supaya proses kontrak tidak menemui kendala," Rektor lulusan Doktor Birmingham Universiti, Inggris itu. 

Adapun proyek Rumah Sakit Pendidikan USK ini dirancang dengan konsep unik dan relevan dengan kondisi geografis Aceh. Yaitu sebagai rumah sakit yang juga tanggap bencana. 

Fasilitasnya bukan saja berfungsi sebagai pusat pendidikan mahasiswa kedokteran dan kesehatan. Tapi juga sebagai pusat pelayanan kesehatan publik, memiliki keunggulan manajemen krisis dan kebencanaan.

Pembangunan rumah sakit yang berlokasi di area strategis kampus ini mendapatkan dukungan luas. Tidak hanya dari internal universitas, tapi juga dukungan berbagai kalangan masyarakat Aceh.

"USK mendukung sepenuhnya untuk mewujudkan project ini. Mulai dari persiapan awal hingga selesai nanti," ujar guru besar yang sudah berumban itu. 

Pihaknya menekankan, keberadaan RS Pendidikan USK itu merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di Aceh. "Demi kebutuhan pendidikan maupun kesehatan bagi masyarakat. Ingin menghadirkan fasilitas yang mampu menjadi tumpuan di saat normal, maupun ketika situasi darurat," demikian kata Marwan. 

Adapun dukungan teknologi dan pendanaan dari Jepang melalui JICA, RS Pendidikan kampus Jantoeng Hate Masyarakat Aceh itu diharapkan termasuk pusat rujukan kesehatan terbaik di wilayah Sumatera. Kemudian sekaligus simbol ketangguhan (resiliensi) Aceh menghadapi tantangan kesehatan dan kebencanaan masa depan.

Rombongan langsung dari Jepang dihadiri Deputy Director JICA Southeast Asia and Pacific Dept, Oba Takashi dan Country Officer Southeast Asia and Pacific Dept, Shiraishi Yukari. Sedangkan dari JICA Indonesia, ada Kawamoto Hanako selaku Project Formulation Advisor, dan Widya Amasara; Program Officer. (H-1) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya