Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tepi jalan yang membelah Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, anak-anak berdiri diam. Mata mereka mengikuti setiap kendaraan yang melintas. Seakan berharap roda-roda itu membawa kabar baik. Sesekali tangan kecil melambai. Tak ada teriakan, tak ada tangis. Hanya sunyi yang menggantung di posko pengungsian korban banjir dan longsor.
Bencana yang datang tanpa ampun menyapu segalanya. Lumpur dan kayu gelondongan menimbun rumah dan sawah. Kepastian hidup warga ikut hilang. Rumah rata dengan tanah. Sawah tertimbun material tebal. Harapan pun terseret arus deras.
“Dulu, dari sawah inilah kami hidup,” kata Ahmad, 35, warga Desa Garoga. Ia memandang hamparan lahan yang kini berubah tandus.
Sebelum banjir menerjang, desa itu dikenal sebagai kawasan pertanian subur. Padi tumbuh serempak dan menjadi penopang ekonomi ratusan kepala keluarga. Kini, lumpur mengeras, meninggalkan jejak kehancuran yang sulit dipulihkan dengan tangan kosong.
Di posko pengungsian, waktu berjalan lambat. Para ibu menunggu dengan cemas. Anak-anak belajar menghadapi kenyataan baru: hari-hari tanpa rumah dan ladang. Mereka menyaksikan lalu lalang kendaraan di jalan. Kendaraan itu menjadi simbol kehidupan yang terus berjalan, meski penderitaan mereka belum usai.
Jaren Sitompul, 50, berharap pemerintah hadir lebih cepat. “Kami tidak hanya butuh bantuan pangan, tapi juga pemulihan. Sawah kami harus dibersihkan agar kami bisa bekerja lagi,” ujarnya. Baginya, kembalinya lahan pertanian berarti kembalinya martabat sebagai petani.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan kawasan terdampak. Namun, bagi warga, deru mesin belum sepenuhnya menghapus rasa cemas. Setiap hari di pengungsian menjadi ujian kesabaran.
Di tengah lumpur yang mengering dan rumah yang tinggal kenangan, warga Batang Toru masih menunggu satu hal sederhana: hari ceria. Hari ketika anak-anak tidak lagi berdiri di pinggir jalan melambaikan tangan. Melainkan berlari di pematang sawah yang kembali hijau seperti dulu. (JH/I-1)
SEBANYAK 22 orang korban meninggal akibat tanah longsor di Tapanuli Selatan ditemukan tim SAR gabungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved