Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
PERISTIWA kebakaran yang terjadi di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Madiun, Jawa Timur, membuat sejumlah anak muda generasi Z galau. Banyak pertanyaan yang menggelayut di benak para remaja itu. Kalau limbah saja bisa terbakar, mengapa tidak dijadikan bahan bakar saja?
Pertanyaan itu menjadi bahan diskusi berhari-hari di Kota Madiun. Mereka adalah para mahasiswa yang kuliah di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Mereka dapat berkumpul karena pada 2021 tidak ada perkuliahan tatap muka akibat covid-19, sehingga para mahasiswa mudik ke kampung halamannya.
“Kami galau karena tidak ada kegiatan. Makanya, kami yang jumlahnya sembilan orang mencoba untuk mencari ide soal bisnis. Yang paling awal terbersit adalah memanfaatkan limbah di TPA. Mengapa? Karena kami mengalami sebanyak dua kali kebakaran. Dari ide sederhana itulah, masing-masing dari kami mencari referensi bagaimana memanfaatkan limbah, terutama yang ada di TPA,” jelas Fadhila Kresna Diarsa saat ditemui Media Indonesia beberapa waktu lalu.
Kresna bersama delapan teman lainnya menelurkan ide untuk membentuk kelompok usaha. Koperasi menjadi pilihan jenis usaha dengan nama Koperasi Muda Mudi. Koperasi inilah yang menaungi beberapa unit usaha, salah satunya adalah STB Pellet yang menjadi andalan bisnis saat ini.
Sebagai perintis Koperasi Muda Mudi, Kresna mengungkapkan bahwa perjalanannya tidaklah mudah. Apalagi mereka hanya punya ide, sedangkan modal sama sekali belum memiliki.
“Mau tidak mau pilihannya adalah iuran bersama. Terkumpul uang sekitar Rp5 juta. Uang hasil iuran ini kami pakai untuk modal awal riset, terutama bagaimana mengubah limbah menjadi bahan bakar,” katanya.
Dari analisis Kresna dan kawan-kawan, Madiun memiliki wilayah rural dan aktivitas pertanian yang kuat, menyimpan potensi ekonomi yang kerap terabaikan. Limbah pertanian, sisa industri gula, hingga residu kayu dari industri mebel, sebagian besar berakhir di TPA atau lebih buruk, menjadi sumber kebakaran.
Apalagi, di Madiun dan sekitarnya berdiri empat pabrik gula besar. Setiap musim giling, sekitar Maret hingga September, satu pabrik bisa menghasilkan hingga 1.600 ton limbah. Sebagian dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan internal, seperti bahan bakar boiler. Namun, kapasitas serap industri terbatas. Sekitar 60 persen limbah akhirnya dijual eceran atau dibuang ke TPA.
“Kalau dibiarkan menumpuk, ujung-ujungnya kebakaran. Dari situ muncul ide, kenapa tidak diolah sekalian jadi energi?” kata Kresna.
Langkah pertama mereka bukan produksi, melainkan riset. Tantangannya memang klasik, ada ide tetapi modal nyaris tak ada. Dengan modal yang hanya Rp5 juta, anak-anak muda itu mengumpulkan bahan baku, mencoba formulasi, hingga melakukan uji coba produksi skala kecil.
Awalnya, mereka ingin membuat briket. Dua kali uji coba dilakukan, tetapi hasilnya tidak konsisten. Panas yang dihasilkan kurang stabil, bentuknya tidak seragam, dan sulit diproduksi massal. Akhirnya, sebagai ganti briket, muncullah pelet biomassa. Pada awalnya, mereka membuat pelet dengan cara diproses menjadi arang.
“Tetapi ternyata tidak terlalu efisien. Penyusutannya sangat banyak. Setelah itu dilaksanakan riset lagi. Baru menemukan cara yang paling baik untuk membuat pelet yang kemudian kami namakan STB Pellet,” paparnya.
Kresna mengatakan tidak semua limbah bisa dijadikan pelet. Komposisi harus tepat, mulai dari limbah tebu, serbuk kayu, gabah, jerami, hingga residu industri mebel. Untuk memvalidasi formulasi, mereka menggandeng pihak kampus dan melakukan uji laboratorium, termasuk di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Koperasi Muda Mudi memilih pendekatan kolaboratif. Mereka menggandeng desa-desa yang sudah memiliki mesin cetak pelet. Salah satu kerja sama awal terjalin dengan Desa Kori, Kecamatan Sawoo, Ponorogo, wilayah yang dekat dengan sentra industri mebel dan plywood.
Kerja sama serupa juga dilakukan di Gresik, tepatnya Desa Bambe, Kecamatan Driyorejo, melalui BUM-Des setempat yang mengumpulkan limbah. “Desa sudah punya mesin, kami punya riset dan pasar. Ini saling melengkapi,” ujar Kresna.
Rantai pasok dibangun secara bertahap. Limbah dikumpulkan. Tidak hanya limbah dari usaha mebel atau penggergajian, tetapi juga limbah pertanian, tebu, bahkan limbah yang akan dibuang ke TPA. Dengan komposisi yang tepat, limbah tersebut kemudian dilembabkan dan akhirnya terbentuk pelet yang diberi nama STB Pellet.
“Produksi awal dimulai dari skala kecil, sekitar 8 ton per bulan. Kini, kapasitas meningkat hingga 60 ton per bulan. Dari proses produksi, penyusutan hanya sekitar 10-12 persen. Artinya, 90 persen bahan baku berhasil menjadi produk jadi STB Pellet,” katanya.
STB Pellet dipasarkan dengan harga Rp1.600 per kilogram pada musim kemarau dan Rp1.900 hingga Rp2.000 per kilogram saat musim hujan. Pasarnya jelas, pelaku UMKM dan kelompok tani di Jawa Timur yang membutuhkan bahan baku untuk mesin pengering hasil panen padi, jagung, atau tembakau.
Sebelumnya, banyak pelaku usaha menggunakan kayu bakar atau sekadar mengandalkan panas matahari. Di musim hujan, proses pengeringan menjadi masalah serius. Mesin pengering bantuan pemerintah pun sering terkendala biaya bahan bakar.
“Pelet ini menjawab kebutuhan itu. Panasnya lebih stabil, lebih bersih, dan lebih efisien,” kata Kresna.
STB Pellet memiliki dua grade. Grade B, berbahan limbah campuran termasuk residu TPA, memiliki nilai kalor sekitar 3.000-3.800 kkal. Grade A, berbasis limbah tebu dan kayu mebel, mencapai 4.200 kkal atau mendekati batu bara yang berkisar 4.000-4.800 kkal.
Sebetulnya, awal munculnya ide sebatas solusi lokal atas tidak dimanfaatkannya limbah, terutama di Kota Madiun. Dalam perkembangannya, anak-anak Generasi Z dari Koperasi Muda Mudi Madiun bergerak mendorong transisi energi. STB Pellet merupakan biomassa yang menjadi salah satu alternatif energi terbarukan, bahkan energi yang inklusif dengan akses mudah, terutama bagi sektor akar rumput.
“Energi terbarukan jangan hanya untuk industri besar. Harus inklusif, bisa diakses UMKM,” tegas Kresna.
Pengembangan bahan baku energi alternatif membuat Koperasi Muda Mudi Madiun memenangkan lomba inovasi yang digelar Bappeda Kota Madiun. Hadiah Rp4 juta digunakan untuk mengikuti inkubasi di sejumlah tempat dan membuka jalan ke jejaring yang lebih luas.
Mereka memenangkan kompetisi internasional dengan masuk 10 besar di forum International Cooperative Alliance di Malaysia. Dari Madiun, gagasan itu melompat ke panggung global, membuka jejaring dengan mitra dari Korea, Jepang, hingga India.
Jejaring ini memperkuat posisi mereka dalam ekosistem energi terbarukan. Bahkan, penjajakan dengan PLN mulai dilakukan, khususnya untuk kebutuhan co-firing biomassa di pembangkit listrik. Meski masih tahap diskusi dan uji laboratorium, langkah ini menandai ambisi yang lebih besar.
Kini, Koperasi Muda Mudi melibatkan sekitar 10 tenaga kerja aktif. Ekosistem yang terbentuk sebagian besar berasal dari desa sekitar lokasi produksi. Banyak di antaranya perempuan dan keluarga petani dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektare.
“Setelah musim panen, ada jeda. Di situ kami masuk, memberi aktivitas tambahan,” ujar Kresna.
Limbah yang dulu tak bernilai kini menjadi sumber pendapatan. Petani, pengepul, hingga perajin kayu ikut terhubung dalam rantai ekonomi baru. Harapannya, ada efek berganda mulai dari pengurangan limbah, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi.
“Kami membentuk ekosistem dengan mengajak kolaborasi para pihak dari Madiun, Ponorogo, Magetan, Ngawi, Gresik, hingga Malang. Salah satu mitra utama adalah koperasi pertanian di Ngawi yang membawahi 40 kelompok tani, dengan kebutuhan pelet sekitar 3 ton per musim panen di satu titik pengeringan,” jelasnya.
Ke depan, Koperasi Muda Mudi bercita-cita membangun rumah produksi sendiri. Model bisnisnya tetap berbasis jejaring desa. Mereka ingin menciptakan ekosistem koperasi desa yang saling terhubung, memperkuat kapasitas produksi, dan menjaga keberlanjutan pasokan. “Kalau kuantitas dan kualitas sudah stabil, ekspor bukan hal mustahil,” kata Kresna.
Dihubungi terpisah, peneliti energi terbarukan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ropiudin, mengatakan potensi biomassa di Indonesia sangat besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa energi biomassa di Indonesia memiliki potensi sebesar 146,7 ton per tahun. Dari keseluruhan energi primer, pasokan energi biomassa disebut sebagai pasokan terbesar kedua setelah energi minyak bumi. Energi biomassa dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik dan gas. Untuk energi listrik biomassa saja, per tahunnya berpotensi sebesar 24,46 gigawatt (GW).
“Biomassa di Indonesia tidak hanya berasal dari sumber primer, tetapi juga dari limbah dan produk samping berbagai sektor industri. Sejumlah industri bahkan telah memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi alternatif. Industri gula, perkebunan teh, dan sektor perkebunan lainnya sudah menggunakan biomassa dari limbah produksi mereka. Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan biomassa secara industri sebenarnya sudah berjalan cukup baik,” katanya.
Menurut Ropiudin, langkah berikutnya adalah mengoptimalkan pemanfaatan biomassa, khususnya untuk mendukung sektor pembangkit listrik yang saat ini masih bergantung pada batu bara. “Di pembangkit, arahnya sudah jelas, yaitu mengurangi ketergantungan pada batu bara. Biomassa bisa menjadi solusi transisi yang realistis,” ujarnya.
Salah satu bentuk biomassa yang dinilai memiliki prospek besar adalah pelet biomassa. Pelet ini dapat dimanfaatkan melalui berbagai teknologi, termasuk pembakaran langsung maupun gasifikasi bahan padat. “Pelet biomassa bisa dikonversi melalui teknologi gasifikasi, yaitu bahan padat diubah menjadi gas untuk dibakar. Teknologi ini memungkinkan efisiensi yang lebih baik,” jelas Ropiudin.
Ia menambahkan, dalam proses gasifikasi biomassa, emisi yang dihasilkan juga dapat dikelola dengan lebih ramah lingkungan. Asap sisa pembakaran dapat dibakar ulang sehingga limbah jelaga dapat diminimalkan. “Gasifikasi biomassa memungkinkan pembakaran yang lebih bersih. Asapnya bisa dimanfaatkan kembali, sehingga residu dan limbah bisa ditekan,” katanya.
Ropiudin menegaskan, dari sisi teknologi dan arah kebijakan, biomassa sangat memungkinkan menjadi bagian penting dari transisi energi nasional, termasuk di sektor pembangkit listrik. “Transisi energi melalui biomassa sangat bisa dilakukan. Di pembangkit listrik pun arahnya ke sana,” ujarnya.
Untuk mempercepat hilirisasi biomassa, menurut Ropiudin, dibutuhkan keselarasan kepentingan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, industri, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha di daerah. “Pemangku kepentingan sebenarnya punya kepentingan yang sama. Tinggal bagaimana hilirisasi biomassa ini dipercepat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dan lembaga riset dalam mendorong inovasi teknologi biomassa agar semakin efisien dan kompetitif. “Perguruan tinggi dan lembaga riset perlu didorong untuk terus melakukan inovasi. Teknologinya ada, tinggal dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Sementara itu, peran pemerintah dinilai krusial dalam memperkuat ekosistem biomassa, terutama melalui kebijakan dan regulasi yang mendukung. “Artinya, pemerintah tinggal memperkuat dari sisi regulasi. Dengan penguatan kebijakan, pemanfaatan biomassa sangat mungkin dikembangkan secara masif,” tandasnya.
Ia optimistis, dengan potensi sumber daya yang besar, dukungan teknologi, serta regulasi yang tepat, biomassa dapat menjadi salah satu pilar utama dalam transisi energi Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (LD/E-4)
Penggunaan maggot BSF sebagai bahan baku untuk proses produksi pelet pakan ternak diharapkan dapat menekan biaya produksi dan mengurangi efek negatif dari penumpukan limbah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved