Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Produksi Padi Jawa Tengah Diproyeksikan Naik 5,5% pada 2026

Haryanto Mega
07/1/2026 23:19
Produksi Padi Jawa Tengah Diproyeksikan Naik 5,5% pada 2026
Pengumuman swasembada pangan bersama Presiden Prabowo Subianto secara daring.(MI/Haryanto Mega)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah memproyeksikan produksi padi di wilayahnya meningkat sebesar 5,5% pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini seiring penguatan peran Jateng sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyebutkan bahwa produksi padi Jateng pada 2025 mencapai 11,36 juta ton gabah kering panen (GKP) atau setara 9,38 juta ton gabah kering giling (GKG).

“Produksi tersebut kami perkirakan dapat meningkat sekitar 5,5%  pada tahun ini,” ujar Frans usai mengikuti Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan bersama Presiden Prabowo Subianto secara daring di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (7/1).

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki peran strategis sebagai provinsi penyangga pangan nasional dengan kontribusi mencapai 15–16 persen terhadap kebutuhan pangan Indonesia. “Apa yang disampaikan Presiden tadi jelas, kontribusi kita sudah mencapai 15%, bahkan bisa lebih,” katanya.

Frans optimistis capaian produksi padi pada 2026 akan melampaui tahun sebelumnya. Pemprov Jateng menargetkan produksi padi sebesar 12 juta ton GKP. “Jika target itu tercapai, produksi kita bisa melampaui Jawa Barat dan Jawa Timur,” ujarnya.

Selain padi, Frans menambahkan bahwa Jawa Tengah juga mengalami surplus pada delapan dari sembilan komoditas pangan utama. Komoditas tersebut meliputi padi, jagung, cabai, bawang, tebu, kelapa, kopi, dan kakao. Satu-satunya komoditas yang belum surplus adalah kedelai.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa produksi kedelai Jawa Tengah tetap tertinggi secara nasional. Kedelai belum surplus karena merupakan komoditas yang relatif sulit dikembangkan dan membutuhkan kondisi agroklimat khusus.

“Kedelai tidak boleh kelebihan air, tapi juga tidak boleh kekurangan. Untuk petani yang belum berpengalaman, pendampingan tetap diperlukan,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin sebelumnya menegaskan komitmen Pemprov Jateng dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Upaya yang dilakukan antara lain melalui alokasi APBD untuk infrastruktur pertanian serta penguatan kelembagaan petani.

“Kami ingin petani semakin sejahtera dan masyarakat bisa menikmati hasil pertanian dengan harga yang baik. Ketahanan pangan tidak bisa dijaga tanpa kerja sama pemerintah, dunia usaha, dan petani,” ujarnya.(E-2). 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik