Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kisah di Balik Pabrik Mini: Upaya Menjaga Identitas Sagu Natuna

Hendri Kremer
07/1/2026 18:34
Kisah di Balik Pabrik Mini: Upaya Menjaga Identitas Sagu Natuna
Kuliner Khas Natuna Terbuat dari Olahan Sagu(https://dinaspariwisata.natunakab.go.id)

DI Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut,  Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, pohon-pohon sagu tidak hanya sekadar tegakan hijau di lahan basah. Bagi masyarakat pesisir dan pedalaman Natuna, sagu adalah sejarah yang menyatu dalam napas kehidupan.

Kini, riwayat panjang pengolahan sagu di desa ini sedang memasuki babak baru. Tradisi manual yang mengandalkan tenaga fisik perlahan bertransformasi menjadi lebih modern. Langkah besar itu ditandai dengan hadirnya pabrik mini pengolahan sagu milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kelanga.

Pabrik ini bukan sekadar bangunan dengan deretan mesin. Saat diresmikan oleh Bupati Natuna, Cen Sui Lan, pada Desember tahun lalu, tempat ini menjadi simbol harapan baru bagi kedaulatan pangan lokal.

Makna strategis bagi Natuna

Bupati Natuna Cen Sui Lan menegaskan, sagu memiliki makna strategis bagi Natuna, khususnya sebagai daerah kepulauan dan perbatasan. Menurutnya, sagu tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan alternatif, tetapi juga sebagai simbol kemandirian ekonomi dan budaya masyarakat.

“Sagu bukan sekadar makanan tradisional, tetapi identitas masyarakat Natuna. Jika dikelola dengan baik dan modern, sagu mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus penyangga ketahanan pangan daerah,” ujarnya, belum lama ini.

Selama ini, sebagian besar sagu di Natuna diolah secara manual dan dijual dalam bentuk mentah. Nilai ekonominya terbatas, sementara proses pengolahan memakan waktu dan tenaga. Kehadiran pabrik mini berskala desa mengubah pola tersebut. Mesin pengolahan yang lebih higienis dan efisien kini digunakan, meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka peluang nilai tambah.

Bagi pemerintah daerah, penguatan sagu tidak semata soal ekonomi, tetapi juga strategi menjaga ketahanan pangan. Ketergantungan Natuna terhadap pasokan pangan dari luar daerah menjadi tantangan tersendiri mengingat kondisi geografisnya sebagai wilayah kepulauan. Sagu, yang tumbuh alami dan melimpah, dinilai mampu menjadi solusi pangan lokal jangka panjang.

Dia pun menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung pengembangan usaha sagu desa, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga pembukaan akses pasar. Ia mendorong BUMDes Kelanga untuk tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi mengembangkan produk turunan sagu yang bernilai jual lebih tinggi.

Sementara itu, Camat Bunguran Timur Laut, Tarmizi, memastikan ketersediaan bahan baku sagu di Desa Kelanga masih sangat mencukupi. Menurutnya, stok batang sagu di wilayah tersebut diperkirakan aman hingga tiga tahun ke depan.

“Persediaan batang sagu di Kelanga masih mencukupi sampai tiga tahun ke depan. Ini menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sagu sebagai pangan lokal,” katanya.

Saat ini, produksi sagu masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Namun ke depan, BUMDes Kelanga mulai menatap pasar yang lebih luas. Pengembangan sistem pengemasan, sertifikasi halal, serta perizinan usaha tengah disiapkan agar sagu Natuna mampu bersaing dan diterima lebih luas.

Di tengah arus modernisasi dan ketergantungan pada pangan impor, sagu hadir sebagai pengingat bahwa kemandirian pangan dapat tumbuh dari akar budaya sendiri. Dari Desa Kelanga, sagu tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menjaga identitas dan ketahanan pangan Natuna tetap berdiri kokoh. (HK/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya