Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Dilantik Jadi PPPK, Langsung Pensiun Kisah Haru Hawatiah di Tengah Kebahagiaan 3.924 Pegawai

Lina Herlina
06/1/2026 06:40
Dilantik Jadi PPPK, Langsung Pensiun Kisah Haru Hawatiah di Tengah Kebahagiaan 3.924 Pegawai
Ilustrasi(Dok Istimewa)

SEBANYAK 3.924 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, akhirnya menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan, Senin (5/1). Upacara penyerahan SK yang digelar di Lapangan Sultan Hasanuddin, Sungguminasa, itu diwarnai euforia, namun juga menyisakan satu cerita mengharukan.

Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menyebut pengangkatan ini sebagai "hadiah tahun baru" dari pemerintah daerah bagi para pegawai yang telah lama mengabdi. Ratusan guru, tenaga kesehatan, dan tenaga teknis pun tampak sumringah menyambut status baru mereka.

"Kami bangga kepada kalian semua. Pemerintah tidak akan bisa bekerja maksimal tanpa kolaborasi seluruh pegawai," ujar Talenrang dalam sambutannya.

Namun, di balik sorak-sorai ribuan pegawai, ada seorang perempuan berusia 58 tahun yang hadir dengan perasaan campur aduk. Dia adalah Hawatiah, yang baru saja menerima SK PPPK setelah hampir 26 tahun mengabdi sebagai tenaga honorer di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Gowa.

Ironisnya, SK yang ditunggu puluhan tahun itu justru menjadi pertanda berakhirnya masa kerjanya. Aturan mengenai batas usia pensiun membuat Hawatiah yang sudah menjadi honorer sejak tahun 2000 harus langsung memasuki masa pensiun setelah pelantikan.

"Saya bersyukur, tapi ya sedih juga. Sudah menunggu 25 tahun lebih, dapat SK-nya hari ini. Ini langusng pensiun karena umurnya sudah cukup kemarin. Tidak sempat menikmati gaji sebagai PPPK," ucap Hawatiah dengan suara lirih.

Selama lebih dari dua dekade, Hawatia bekerja sebagai tenaga penyuluh keluarga berencana. Tugasnya menuntutnya untuk berkeliling dari rumah ke rumah memberikan penyuluhan kepada warga, dengan imbalan yang sangat minim.

Sofyan Daud, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Gowa, mengaku proses pengusulan Hawatiah telah dilakukan jauh sebelum batas usia pensiunnya tiba. Pemerintah daerah, kata dia, tetap memberikan penghargaan atas pengabdian panjang Hawatia meski waktunya bersinggungan dengan pensiun.

"Kami telah mengusulkan berkas Ibu Hawatiah. Kami turut merasakan perjuangannya. Meski langsung pensiun, kami berikan penghargaan dan cenderamata atas dedikasi 26 tahun ini," jelas Sofyan.

Ia juga mengaku, sempat dihubungi Hawatiah, berkonsultasi, apakah harus datang atau tidak untuk menerima SK. "Saya bilang, datang saja, minimal mersakan menggunkan baju Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia," aku Sofyan.

Kisah Hawatia menjadi catatan tersendiri dalam perhelatan besar pengangkatan ribuan PPPK di Gowa. Di satu sisi, kebijakan ini menjadi angin segar bagi ribuan pegawai honorer yang mengais kepastian. Di sisi lain, nasib pegawai senior seperti Hawatia mengingatkan pada persoalan klasik kepegawaian di daerah: antrean panjang yang kerap berujung pada waktu yang terbatas.

Bupati Talenrang berpesan kepada seluruh penerima SK untuk menjaga amanah baru ini. "Saudara-saudara semua adalah bagian dari keluarga besar ASN Pemkab Gowa. Kita memikul amanah yang sama, yaitu melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya," tutupnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik