Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Dangkal dan Lebar Setelah Banjir Besar, Sungai di Aceh Sering Meluap

Amiruddin Abdullah Reubee
05/1/2026 12:33
Dangkal dan Lebar Setelah Banjir Besar, Sungai di Aceh Sering Meluap
Jalur air berubah ke jalan raya di lokasi banjir di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

SETELAH banjir besar pada Rabu 26-27 November 2025 lalu, struktur atau geografi alam di kawasan Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, banyak terjadi perubahan besar. Kawasan hutan, pegunungan, daerah aliran sungai, persawahan, tambak hingga permukiman masyarakat seperti tertata berbeda meski itu tidak dikehendaki. 

Misalnya sepanjang aliran sungai yang menampung banjir besar kala itu, sekarang telah terjadi pergeseran atau berubah alur mengalir hingga terjadi perluasan sangat lebar. Akibatnya sekarang setiap hujan lebat, air dengan mudah memasuki kawasan pemukiman masyarakat, terutama di lokasi bekas banjir. 

Lalu debit air sungai juga semakin besar akibat sering terjadi luapan hingga menyebar ke mana-mana.Itu karena sungai-sungai ganas tersebut sudah berkelok kesana-kemari, terjadi pendangkalan sedimentasi pasir lumpur, tersumbat kayu gelondongan, melebar cukup luas dan bercabang tidak teratur. 

Sungai Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya misalnya, setelah banjir besar 26-27 November lalu, sedikitnya ada tiga kali lagi terjadi luapan hingga banjir susulan ke permukiman warga. Kondisi sungai tersebut yang sebelumnya lebar berkisar 40-60 meter, sekarang meluas hingga 100-150 meter (tergantung lokasi). 

Akibatnya kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (Das) itu seperti permukiman Desa Blang Awe, Kuta Batee, Desa Meunasah Lhok (Kecamatan Meureudu) hingga Kota Meureudu Ibukota Kabupaten Pidie Jaya kini sering meluap. Begitu juga Desa Meunasah Bie, Dayah Usen dan Desa Mancang. 

"Setelah banjir bandang  Akhir November, keadaan semakin sulit. Kalau sudah hujan lebat di pegunungan, dua jam kemudian air sungai meluap ke mana-mana. Air di badan jalan antar desa mengalir seperti sungai deras. Di tengah kondisi masih berlumpur banjir sebulan bulan lalu, kini air luapan sungai masuk lagi dan meredam tempat pengungsian," tutur Asnawi, tokoh muda masyarakat Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya. 

Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, rumah-rumah dan lokasi tenda pengungsian sering terendam air hujan. Itu karena lokasi rumah setelah dibersihkan lumpur tinggal lebih rendah dari pekarangan sekitar yang tertimbun sedimentasi tebal berkisar 1 meter. 

Lalu parit jalan atau saluran pembuangan sudah tertimbun sedimentasi banjir. Akhirnya setiap turun hujan air tergenang di jalan dan masuk ke rumah atau merendam tenda pengungsian. 

Lebih parah lagi, sekarang musim hujan deras masih berlangsung yang kadang terjadi pada sore atau malam. Tidak lama setelah itu air sungai besar Krueng Kualasimpang langsung penuh dan sangat cepat meluap. 

Kalau terjadi luapan tengah malam, warga sering kalang kabut dan terjadi kepanikan luar biasa. Apalagi sebulan lalu hampir seluruh Kabupaten Aceh Tamiang itu tersapu air bah. 

"Harapan kami, sangat mendesak sepanjang aliran sungai Kualasimpang dilakukan normalisasi. Karena sungai sudah dangkan dan meluas cukup lebar. Selama kondisi Das begini, sepanjang musim hujan rumah kami masuk air. Begitu juga saluran pinggir jalan" tutur Bambang, warga Kecamatan Tamiang Hulu. (H-1)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik