Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN warga Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, kembali terisolasi akibat terputusnya akses jalan darat pascabanjir. Hingga Sabtu (3/1), jalur Geumpang–Pameue–Silih Nara belum dapat dilalui karena longsor yang kembali menutup badan jalan.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut hampir setiap hari dalam sepekan terakhir menyebabkan sejumlah titik jalan longsor, ambles, dan jembatan kayu darurat hanyut. Akibatnya, jalur utama dari dan menuju kawasan dataran tinggi penghasil kopi Gayo dan hortikultura itu kembali terputus.
Padahal, dua pekan sebelumnya akses jalan sepanjang sekitar 90 kilometer dari Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, menuju Rusip Antara sempat dapat dilalui kendaraan roda empat berpenggerak 4x4. Jalur tersebut digunakan untuk mengangkut bantuan logistik dan beras bagi warga terdampak banjir setelah sejumlah titik longsor ditangani secara darurat.
Tokoh muda Rusip Antara sekaligus relawan lintas komunitas, Zainal Abidin, mengatakan sejak lima hari terakhir wilayah yang terdiri atas 16 desa itu kembali terkurung. Dua jalur utama, yakni dari arah Geumpang dan dari Silih Nara menuju Takengon, tertutup longsor.
“Melalui Geumpang tertutup cukup parah dan tidak bisa dilewati. Jalur Silih Nara juga terhalang longsor dan jembatan darurat tergerus air. Kalau dipaksakan, paling hanya bisa dilewati motor trail,” kata Zainal.
Ia menambahkan, tiga dari 16 desa bahkan terisolasi dari desa lain dan terputus aksesnya dengan ibu kota kecamatan. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan logistik kembali terhenti selama empat hari terakhir.
Selain itu, distribusi hasil pertanian warga ikut terganggu. Puluhan ton cabai merah, cabai rawit, dan cabai nano yang sebelumnya sempat dipasarkan ke Geumpang dan Takengon kini tertahan. Harga cabai yang sempat naik ke kisaran Rp25.000–Rp30.000 per kilogram kembali turun menjadi sekitar Rp10.000 per kilogram.
“Kami sudah memetik cabai, tapi tidak tahu harus dibawa ke mana karena jalur tertutup lagi,” ujar Zainal.
Krisis pasokan juga terjadi pada bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji. Menurut Zainal, sejak banjir besar lebih dari sebulan lalu, warga masih kesulitan mendapatkan elpiji dan BBM. Sebagian besar warga menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak, sementara BBM jenis pertalite dijual pengecer dengan harga Rp18.000 hingga Rp25.000 per liter.
Budayawan Aceh, Adli Abdullah, menilai pemerintah perlu memprioritaskan perbaikan jalur darat menuju kawasan pedalaman terdampak banjir. Pasalnya, wilayah pedalaman di Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya sangat bergantung pada transportasi darat.
“Distribusi logistik, perdagangan, dan hasil pertanian seperti kopi, cabai, sayuran, dan buah-buahan sepenuhnya mengandalkan jalur darat. Jika akses terputus, dampaknya besar terhadap perekonomian Aceh,” kata dosen senior Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh itu.
Ia menambahkan, kawasan pedalaman dan pesisir Aceh saling bergantung dalam distribusi kebutuhan pokok dan hasil bumi. Gangguan di salah satu wilayah akan berdampak langsung pada wilayah lainnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved