Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Warga Tangse Sisir Kawasan Tambang Emas Ilegal di Hulu Sungai Taman Nasional Ulu Masen

Amiruddin Abdullah Reubee
29/12/2025 21:43
Warga Tangse Sisir Kawasan Tambang Emas Ilegal di Hulu Sungai Taman Nasional Ulu Masen
Warga Tangse menyisir lokasi tambang emas ilegal di kawasan Hulu Sungai Krueng Inong.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PULUHAN warga Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, pada Sabtu (27/12) menyisir lokasi tambang emas ilegal di kawasan Hulu Sungai Krueng Inong, kawasan pegunungan Desa Nembak Badeuek. Ini merupakan aksi pembasmian secara tegas terhadap kelompok mafia penambang emas liar, karena merambah alam. 

Warga semakin marah karena penambangan ilegal dan menebang hutan serta mengeruk daerah aliran sungai setempat dengan menggunakan eskavator dan beko. Apalagi sudah berlangsung sejak berkisar 3 bulan hingga 1 tahun terakhir. 

Aksi operasi penyisiran oleh sekitar 60 orang perwakilan Desa Neubok Badeuek, Pulo Mesjid 1 dan Pulo Mesjid 2 itu karena ditengarai mereka kecewa terhadap pemerintah atau aparat penegak hukum. Pasalnya sedah berbulan-bulan aksi mafia penambang emas merusak lingkungan itu, seperti dibiarkan begitu saja. 

Padahal menurut pengakuan warga, sebelum melakukan operasi penyisiran, tokoh masyarakat, Panglima Uteuen (Panglima Hutan) dan Mukim (Pemerintah Adat), sudah pernah melaporkan aksi penambang emas itu kepada pihak penegak hukum. 

Namun tidak ada tindakan apapun untuk mencegah aksi tambang ilegal tersebut. Padahal akibat pengerukan tanah untuk memburu biji emas itu telah memorak-porandakan sekitar 20 km daerah aliran sungai dan alur-alur kecil dalam rimba raya itu. 

"Itu kawasan Taman Nasional dan Konsevasi Alam Ulu Masen. Hulu Sungai Krueng Inong dan Sungai Krueng Sikuleh. Masuk Daerah Aliran Sungai Teunom, Lam Beusoe, bermuara ke Kabupaten Aceh Jaya" kata Panglima Uteuen (Panglima Hutan) Wilayah Pidie, dari Pengurus Majelis Adat Aceh, Kabupaten Pidie, Zainuddin, kepada Media Indonesia, Senin (29/12). 

Itu sebabnya sekitar 60 warga masyarakat Kecamatan Tangse dengan kompak menembus hutan dan menyusuri sungai memburu jejak ekskavator dan beko di hulu sungai itu. Setelah berjalan kaki sekitar 6 hingga 7 jam, mereka mendapati dinding sungai dan lereng perbukitan telah hancur cukup parah. 

Ratusan batang pohon kayu rimba telah tumbang dan lepas pada akarnya berserakan di lereng bukit dan dalam sungai.  Cuaca dingin, rindang dan teduh pepohonan yang sebelumnya hutan rimba, kini telah rusak dan gundul tidak teratur. 

"Sekitar 20 kilometer sepanjang aliran di hulu sungai dan alur-alur kecil telah hancur berantakan. Kalau terus terbiarkan dikeruk dan suatu kali nanti hujan lebat, tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi menimpa perkampungan Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie hingga Teunom, Kabupaten Aceh Jaya", tutur Panglima Uteuen Zainuddin. 

Teuku Hasan, tokoh masyarakat Kecamatan Tangse juga mengatakan, setelah  melakukan penyisiran dan pengepungan warga menemukan  rangka bekas pemasangan tenda tempat tinggal penambang liar. Sedangkan pelaku diperkirakan sempat kabur sekitar satu atau dua hari sebelumnya. 

Hal itu diyakini dari bekas daun pohon tumbang yang belum layu dan jejak ban rantai alat berat yang masih membekas di seputaran lokasi. Beberapa unit alat berat diduga sudah dipindahkan ke tempat lain atau disembunyikan ke hutan rimba pucuk sungai. 

Dikatakan Teuku Hasan, meski pelakunya sempat kabur dan warga belum menemukan beko, warga tetap akan mencari keberadaan mereka dan bersikap tegas jika pelaku kembali lagi. Apalagi masyarakat sembilan desa yang rawan bencana  jika terjadi bencana banjir sudah sepakat mengusir para mafia tambang yang datang dari luar Tangse dan bersekongkol dengan beberapa warga setempat. 

Adapun sembilan desa yang rawan bencana itu adalah Neumbok Badeuk, Pulo Senong, Pulo Kawa, Pulo Sejahtera, Pulo Mesjid 1, Pulo Mesjid 2, Keude Tangse, Pulo Baro dan Desa Krueng Meriam. "Kami tidak ingin wilayah Tangse sampai ke hilir kawasan Pidie dan Aceh Jaya luluh lantak seperti banjir yang melanda tiga provinsi akhir November lalu", tambah Hasan. (E-2)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik