Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Lampor Adalah: Mitos Keranda Terbang Pembawa Pagebluk di Jawa

Irvan Sihombing
22/12/2025 16:15
Lampor Adalah: Mitos Keranda Terbang Pembawa Pagebluk di Jawa
Ilustrasi(Tangkapan layar)

Mengenal Sosok Lampor dalam Mitologi Jawa

Di tengah kekayaan cerita rakyat dan kepercayaan mistis di Indonesia, lampor adalah salah satu entitas yang memegang tempat tersendiri, khususnya bagi masyarakat Jawa. Istilah ini merujuk pada sejenis hantu atau fenomena supranatural yang digambarkan sebagai keranda terbang yang melayang di udara tanpa ada pengusungnya. Kehadiran lampor tidak sekadar dianggap sebagai penampakan hantu biasa, melainkan sering dikaitkan dengan pertanda buruk, marabahaya, hingga datangnya wabah penyakit atau pagebluk di suatu desa.

Mitos mengenai lampor kembali mencuat dan menjadi pembicaraan hangat di media sosial beberapa waktu lalu, memicu rasa penasaran generasi muda mengenai apa sebenarnya makhluk ini. Dalam tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, lampor dipercaya muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama saat pergantian hari menjelang malam atau waktu Maghrib. Hal inilah yang mendasari nasihat orang tua zaman dahulu agar anak-anak segera pulang dan menutup pintu rapat-rapat ketika senja tiba.

Wujud dan Karakteristik Lampor

Penggambaran wujud lampor bervariasi di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun terdapat benang merah yang menyatukan cerita-cerita tersebut. Secara umum, karakteristik lampor dapat diidentifikasi melalui beberapa tanda berikut:

  • Keranda Terbang: Wujud paling umum dari lampor adalah keranda mayat yang melayang sendiri di udara.
  • Bola Api atau Cahaya Merah: Seringkali kemunculan keranda ini disertai dengan bola api atau cahaya kemerahan yang menyala di sekelilingnya, menciptakan suasana mencekam di langit malam.
  • Suara Gaduh: Konon, kedatangan lampor diiringi oleh suara gaduh seperti angin kencang yang bergemuruh atau suara welthok (suara tulang beradu), yang membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.

Masyarakat percaya bahwa jika lampor melewati sebuah rumah atau desa, hal tersebut merupakan sinyal bahaya. Mitos menyebutkan bahwa lampor tidak berjalan sendirian, melainkan merupakan bagian dari pasukan gaib yang sedang melakukan perjalanan atau mencari korban.

Hubungan Lampor dengan Pagebluk dan Kematian

Salah satu alasan mengapa lampor adalah sosok yang sangat ditakuti bukan hanya karena wujudnya yang menyeramkan, melainkan dampak yang dipercaya dibawanya. Dalam kearifan lokal Jawa, kemunculan lampor identik dengan datangnya pagebluk atau wabah penyakit massal.

Kepercayaan ini menyebutkan bahwa jika lampor melintasi sebuah desa, maka desa tersebut akan segera ditimpa musibah. Penduduk desa bisa jatuh sakit secara mendadak atau bahkan meninggal dunia dalam waktu singkat. Ada pula mitos yang mengatakan bahwa jika seseorang melihat lampor dan menatapnya secara langsung, orang tersebut akan hilang dibawa oleh keranda terbang tersebut dan tidak akan pernah kembali. Jika pun kembali, orang tersebut biasanya akan kembali dalam keadaan linglung atau gila.

Korelasi antara lampor dan wabah ini membuat masyarakat zaman dahulu melakukan berbagai ritual tolak bala. Salah satunya adalah dengan memukul kentongan secara serentak untuk membuat kegaduhan, yang dipercaya dapat mengusir pasukan lampor agar tidak singgah di desa mereka.

Kaitan dengan Nyi Blorong dan Laut Selatan

Dalam beberapa versi cerita rakyat, asal-usul lampor dikaitkan dengan penguasa Laut Selatan. Sebagian masyarakat percaya bahwa lampor adalah pasukan dari Nyi Blorong, sosok mitologi yang digambarkan sebagai panglima perang kerajaan gaib Laut Selatan. Pasukan ini diyakini sedang melakukan perjalanan dari Laut Selatan menuju ke arah Gunung Merapi atau keraton gaib lainnya.

Karena dianggap sebagai pasukan kerajaan gaib, lampor memiliki kekuatan yang besar dan aura mistis yang kuat. Inilah mengapa masyarakat dilarang untuk keluar rumah, tidur di lantai tanpa alas, atau membiarkan jendela terbuka saat ada isu kemunculan lampor. Tidur di bawah (lantai) atau di depan pintu dianggap akan menghalangi jalan pasukan gaib tersebut, yang bisa berakibat fatal bagi penghuni rumah.

Fenomena Viral dan Adaptasi Populer

Eksistensi lampor tidak hilang ditelan zaman. Di era digital, fenomena ini sempat viral di platform TikTok dan media sosial lainnya, terutama saat pandemi COVID-19 melanda. Banyak netizen yang mengaitkan tingginya angka kematian saat pandemi dengan kemunculan kembali lampor di beberapa daerah di Jawa. Video-video amatir yang merekam cahaya aneh di langit atau suara ketukan pintu misterius sering kali dikaitkan dengan entitas ini.

Popularitas mitos ini juga diangkat ke layar lebar melalui film berjudul "Lampor: Keranda Terbang". Hal ini membuktikan bahwa meskipun zaman telah modern, lampor adalah bagian tak terpisahkan dari memori kolektif dan budaya horor masyarakat Indonesia.

Perspektif Logis dan Budaya

Meskipun kental dengan nuansa mistis, legenda lampor dapat dilihat dari perspektif sosiologis dan budaya. Mitos ini berfungsi sebagai social control atau mekanisme kontrol sosial di masyarakat tradisional. Larangan keluar saat Maghrib (sandikala), misalnya, memiliki tujuan pragmatis agar anak-anak beristirahat, beribadah, dan berkumpul dengan keluarga setelah seharian beraktivitas, serta menghindari bahaya hewan buas atau kejahatan yang mungkin muncul di malam hari.

Selain itu, suara gemuruh angin yang sering dikaitkan dengan lampor bisa jadi merupakan fenomena alam biasa, seperti angin puting beliung atau badai, yang oleh masyarakat zaman dahulu dipersonifikasikan menjadi sosok hantu karena keterbatasan pengetahuan sains pada masa itu.

Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan fisik makhluk ini, lampor tetap menjadi warisan cerita rakyat yang memperkaya khazanah kebudayaan Nusantara. Ia mengajarkan tentang kewaspadaan, penghormatan terhadap alam, dan kearifan lokal dalam menghadapi ketidakpastian hidup.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya