Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Unisba Perkuat Tata Kelola Air Bersih dan Mitigasi Kebakaran di Kampung Adat Kuta

Naviandri
20/12/2025 22:36
Unisba Perkuat Tata Kelola Air Bersih dan Mitigasi Kebakaran di Kampung Adat Kuta
Tim dosen Universitas Islam Bandung (Unisba) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).(Dok.Unisba)


KETERBATASAN akses air bersih dan tingginya risiko kebakaran masih menjadi tantangan serius bagi Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Universitas Islam Bandung (Unisba) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Pemberdayaan Tata Kelola Air Bersih Berbasis Komunitas dalam Mendukung Pengembangan Desa Wisata Kampung Adat Kuta, pada Kamis (18/12).

Program ini dirancang sebagai upaya konkret memperkuat infrastruktur dasar sekaligus meningkatkan ketahanan permukiman adat berbasis partisipasi masyarakat. Kampung Adat Kuta yang dikenal sebagai kawasan adat dengan rumah tradisional berbahan kayu dan ijuk memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran, di sisi lain belum seluruh rumah tangga memperoleh akses air bersih yang layak.

Ketua Tim PKM Unisba, Ivan Chofyan, menjelaskan bahwa dari total 109 kepala keluarga di Kampung Adat Kuta, baru sekitar 15 KK yang sebelumnya memiliki akses langsung terhadap air bersih melalui jaringan distribusi. Kondisi ini diperparah oleh belum terbentuknya kelembagaan pengelola air yang bertanggung jawab atas operasional dan pemeliharaan infrastruktur.

“Melalui program ini, kami tidak hanya membangun fisik infrastruktur, tetapi juga membangun sistem sosialnya. Kunci keberlanjutan ada pada kelembagaan masyarakat,” tuturnya.

KELOMPOK PENGELOLA AIR BERSIH
Tokoh adat Kampung Adat Kuta, Firman Khabibi, menyampaikan bahwa program pengabdian ini sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini dijaga oleh masyarakat adat, khususnya dalam relasi antara manusia dan alam.

“Bagi kami masyarakat adat, air bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi bagian dari amanah yang harus dijaga bersama. Kehadiran program ini membantu warga memahami bahwa menjaga air dan keselamatan kampung adalah tanggung jawab kolektif, sejalan dengan nilai adat dan gotong royong yang kami pegang,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pembentukan kelembagaan pengelola air merupakan langkah penting untuk keberlanjutan Kampung Adat Kuta sebagai kawasan hunian dan desa wisata.

“Kami berharap sistem yang dibangun ini tidak hanya bertahan selama program berlangsung, tetapi benar-benar dikelola oleh warga secara mandiri. Dengan adanya kelompok pengelola air dan kesiapsiagaan kebakaran, kampung adat menjadi lebih aman, tertata, dan siap menerima tamu tanpa meninggalkan jati diri adat,” tandasnya.

CONTOH PRAKTIK BAIK
Firman menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat adat menjadi contoh praktik baik dalam pembangunan berbasis kearifan lokal. Salah satu capaian utama PKM ini adalah pembentukan Kelompok Pengelola Air Bersih (KPA) berbasis komunitas adat. Kelompok ini berperan mengatur distribusi air, pemeliharaan jaringan pipa, hingga pengelolaan iuran secara transparan. 

"Melalui perbaikan dan perluasan jaringan perpipaan, jumlah rumah tangga yang memperoleh akses air bersih dari yang ditargetkan meningkat menjadi 30 rumah dan setelah dilaksanakan kegiatan PKM ini, sudah mencampai target yaitu 45 rumah yang terpasang," terangnya 

Selain itu lanjut Firman, program ini juga menghadirkan dua unit hidran sederhana yang dipasang di titik rawan kebakaran. Sistem hidran dirancang adaptif dengan kondisi kampung adat, memanfaatkan sumber mata air dan sistem gravitasi tanpa ketergantungan listrik.

Anggota tim PKM, Imam Indratno dan Rabiatul Adwiyah, menekankan pentingnya edukasi dan pelatihan kepada warga. “Kami memberikan pelatihan pengelolaan air bersih, konservasi air, serta simulasi tanggap darurat kebakaran. Tujuannya agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan dan rasa memiliki terhadap sistem yang dibangun,” bebernya.

Sebanyak 30 warga terlibat aktif dalam pelatihan dan simulasi kebakaran, termasuk ibu rumah tangga dan pemuda kampung, sebagai upaya membangun kesadaran lintas kelompok.

DUKUNG DESA WISATA BERKELANJUTAN
Program PKM ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian riset Unisba sejak 2020 yang mengkaji Kampung Adat Kuta sebagai desa wisata berbasis budaya, spiritualitas, dan ekologi. Penyediaan air bersih dan sistem proteksi kebakaran dinilai sebagai prasyarat penting bagi pengembangan desa wisata yang aman dan berkelanjutan.

Dari sisi kebijakan pembangunan, kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDG 11 (Permukiman Berkelanjutan), serta sejalan dengan Asta Cita Indonesia Emas 2045 pada pilar peningkatan kualitas manusia dan ketahanan bencana.

Pemerintah desa dan tokoh adat menyambut positif kegiatan ini dan berharap model pengelolaan berbasis komunitas dapat direplikasi ke kampung adat lain di wilayah Priangan Timur.

Ke depan, UNISBA berkomitmen melanjutkan pendampingan dan menjadikan Kampung Adat Kuta sebagai model desa wisata adat yang tangguh, aman, dan berkelanjutan, berbasis kearifan lokal dan kolaborasi akademisi dan masyarakat.(E-2)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya