Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 43 orang mengikuti wisuda lansia yang digelar di Gedung Lambert Jitmau, Kota Sorong, Papua Barat Daya (PBD),Kamis, (18/12/2025). Para lansia tersebut telah lulus dari program pembelajaran di sekolah lansia selama satu tahun.
Empat puluh tiga lansia wisudawan itu terdiri dari 22 peserta Sekolah Lansia Lusia di Distrik Sorong Kota dan 21 peserta Sekolah Lansia Bethel di Distrik Sorong Timur. Program pembelajaran mereka ikuti sejak November 2024 hingga November 2025, dengan frekuensi satu kali setiap bulan.
Kepala Sekolah Lansia Kota Sorong, Linda, S.E., menjelaskan, Sekolah Lansia merupakan bagian dari program Bina Keluarga Lansia (BKL), yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, tangguh, dan berdaya. Ia menyebut seluruh peserta telah menyelesaikan tahapan pembelajaran sesuai standar yang ditetapkan.
Peserta Sekolah Lansia umumnya adalah berusia 60 tahun ke atas, sesuai definisi resmi pemerintah Indonesia (UU No. 13/1998 tentang Lansia), dengan rentang usia paling umum antara 60-80 tahun, namun ada juga yang menerima peserta pra-lansia (di bawah 60 tahun)
Kepala Bidang Keluarga Berencana Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Sorong, Jenily Nanuru, S.KM., mengatakan program Sekolah Lansia menunjukkan bahwa proses belajar dapat berlangsung sepanjang hayat.
“Ilmu dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta mendorong lansia tetap aktif bersosialisasi di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Papua Barat, Philmona Maria Yarollo, S.Sos., M.Si., menyampaikan, Sekolah Lansia merupakan bagian dari program percepatan Kemendukbangga/BKKBN, melalui konsep Sidaya atau Lansia Berdaya.
“Program ini difokuskan pada penguatan keluarga sebagai lingkungan terbaik bagi lansia melalui pendekatan edukatif, sosial, dan pemberdayaan masyarakat,” jelas Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Papua Barat.
Pada tahun 2024, sambungnya, BKKBN membentuk 10 Sekolah Lansia di Papua Barat, termasuk dua sekolah di Kota Sorong. Wisuda Standar I menjadi tahap awal pembelajaran berjenjang, yang mana peserta dapat melanjutkan ke standar berikutnya dengan fokus pada kemandirian, aktivitas sosial, hingga produktivitas sesuai potensi lansia.
Ia juga menyinggung isu stunting sebagai program prioritas nasional. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia, prevalensi stunting di Papua Barat tercatat 30,5 persen, sementara Kota Sorong mengalami penurunan dari 31,0 persen menjadi 29,3 persen. “Penguatan peran lansia dalam keluarga turut berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting antargenerasi,” tambahnya.
Di waktu terpisah, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Sorong, Jeremias Gembenop menegaskan, Sekolah Lansia merupakan pendekatan pembangunan sumber daya manusia melalui jalur pendidikan nonformal.
“Wisuda ini bukan akhir proses, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menyiapkan lansia agar tetap berdaya dan berkontribusi dalam pembangunan keluarga menuju Indonesia Emas 2045,” tutupnya. (M-1)
Wisuda tersebut dilakukan setelah para lansia selesai mengikuti berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan di sekolah tersebut seperti pada aspek kesehatan keluarga
Ageing Population Indonesia dideskripsikan sebagai keadaan ketika proporsi dari penduduk yang berusia tua semakin banyak
Sekolah lansia ini pada intinya bertujuan meningkatkan pengetahuan dan perilaku lansia terhadap kesehatan; meningkatkan indeks kebahagiaan lansia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved