Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA kini stunting masih menjadi persoalan gizi yang serius di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan yang menghadapi tantangan akses pangan bergizi dan minimnya pengetahuan gizi keluarga. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya asupan protein pada balita, pola konsumsi kudapan yang tidak seimbang, serta praktik pemberian makan yang belum optimal di tingkat rumah tangga.
Menanggapi hal tersebut, Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) kembali melanjutkan komitmennya dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui Program Pemberian Makanan Tambahan Tinggi Protein bagi Balita Stunting. Langkah ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan (TJSL) Peruri sejak tiga tahun terakhir.
Program ini dirancang untuk memperkuat intervensi gizi spesifik dan sensitif bagi balita berisiko stunting sekaligus memastikan keberlanjutan dampak positif di tingkat desa.
Strategic Corporate Branding dan TJSL Peruri, Dawam H, dalam keterangannya Sabtu (13/12) menyatakan, dalam pelaksanaannya, program Peruri ini diperkuat melalui kolaborasi strategis bersama Program Studi Gizi Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Pemerintah Desa Parungmulya, serta Puskesmas Ciampel. Sinergi multipihak ini telah memasuki tahun ketiga implementasi dan kembali diresmikan pada Kamis (11/12) di Kantor Desa Parungmulya, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang Jawa Barat (Jabar).
"Desa Parungmulya merupakan salah satu wilayah prioritas percepatan penanganan stunting di Kabupaten Karawang, mengingat hasil pemantauan lapangan menunjukkan masih adanya balita dengan kondisi gizi yang memerlukan perhatian khusus. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, kemampuan belajar, produktivitas jangka panjang, serta meningkatkan risiko penyakit degeneratif di masa depan," ungkapnya.
Menurut Dawam Peruri, bersama dengan aparat desa, Universitas Singaperbangsa serta instansi pemerintah daerah seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas dan BKKBN, berupaya mencegah pertumbuhan yang tidak sehat pada balita melalui serangkaian program. Program ini mencakup sosialisasi dan studi pendahuluan, skrining status kesehatan dan penyediaan obat, pengembangan serta pelatihan menu makanan, konseling gizi, intervensi, monitoring dan evaluasi, serta diseminasi informasi.
"Sebanyak 29 balita menerima manfaat dari Program Pemberian Kudapan Tinggi Protein ini. Mayoritas balita tersebut berasal dari keluarga dengan ayah yang bekerja sebagai buruh, sopir, ojek, atau pembantu, dan ibu yang berstatus ibu rumah tangga. Sebagian besar orangtua mereka hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMP dan SMA," jelasnya.
INTERVENSI GIZI
Dawam menambahkan, makanan yang didistribusikan dalam program ini bukan sekadar kudapan, melainkan intervensi gizi yang telah diukur secara presisi bersama tenaga ahli dari Unsika. Oleh karena itu, pihaknya memohon komitmen penuh dari para orang tua agar bantuan ini terserap maksimal oleh tubuh balita, sehingga dampak peningkatan gizinya dapat terlihat nyata.
Dengan memberikan edukasi dan dukungan yang tepat serta penyediaan akses terhadap makanan bergizi, program ini diharapkan dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam upaya menanggulangi stunting di Desa Parangmulya, menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat di masa depan.
"Keberlanjutan program ini sangat bergantung pada komitmen jangka panjang dan dukungan kolaboratif, yang akan memastikan penurunan prevalensi stunting yang optimal serta memberikan masa depan yang lebih sehat bagi generasi mendatang," tandasnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved