Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Aksi Jumro Selamatkan Satu Kampung dari Longsor Tapanuli Utara

Januari Hutabarat
10/12/2025 13:18
Aksi Jumro Selamatkan Satu Kampung dari Longsor Tapanuli Utara
Jumro Sakita Bram Hutauruk menunjuk bukit yang menjadi titik awal longsor di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara(MI/Januari Hutabarat)

Tanah longsor hebat yang meluluhlantakkan Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Rabu (25/11) malam, menyisakan cerita dramatis penyelamatan. Berkat firasat dan aksi nekat seorang warga bernama Jumro Sakita Bram Hutauruk, 59, satu kampung berhasil selamat tanpa korban jiwa.

Dari teras rumahnya sore itu, Jumro merasakan firasat buruk. Matanya terpaku pada pergerakan tanah yang nyaris tak kasatmata di bukit sisi jalan menuju Sibolga.

Menyadari teriakannya belum tentu terdengar, Jumro memilih cara yang ekstrem untuk memperingatkan tetangganya: melempar atap seng rumah warga yang berada di bawah kediamannya.

Benturan keras itu seketika memecah keheningan. Penghuni rumah kaget dan berhamburan keluar. Melihat kepanikan itu, warga lain ikut bertindak cepat, menggedor pintu dan berteriak, memaksa para tetangga meninggalkan rumah. Dalam hitungan menit, kepanikan berubah menjadi upaya penyelamatan massal. Satu kampung berlari menuju tempat yang lebih aman.

Tak lama berselang, sekitar pukul 20.00 WIB, longsor pertama terjadi. Warga sempat kembali, mengira bahaya telah berlalu. Namun, Jumro (10/12) menceritakan, malam kembali menguji keberanian mereka.

Pukul 22.00 WIB, suara gemuruh memecah gelap. Longsor terbesar meluncur, menimbun puluhan rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya.

“Waktu itu rumah sudah kosong. Kalau masih ada orang di dalam, entah apa jadinya,” ujar Jumro, suaranya terdengar tertahan.

Meskipun tidak ada satu pun nyawa melayang berkat aksi cepat tersebut, kerugian materiil sangat besar. Sebanyak 26 rumah porak poranda dan 53 rumah lainnya rusak. Harta benda lenyap dan kenangan terkubur, tetapi warga masih bernapas selamat.

Kini, Jumro dan warga Dolok Nauli masih dilingkupi trauma. Setiap tetes hujan membawa kembali ingatan malam mencekam itu. “Kalau hujan turun, jantung rasanya ikut berdebar,” kata Jumro lirih.

Lemparan atap itu memang merusak properti, namun, pada malam paling genting, itulah harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan nyawa satu kampung. (JH/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik