Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Tanah longsor hebat yang meluluhlantakkan Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Rabu (25/11) malam, menyisakan cerita dramatis penyelamatan. Berkat firasat dan aksi nekat seorang warga bernama Jumro Sakita Bram Hutauruk, 59, satu kampung berhasil selamat tanpa korban jiwa.
Dari teras rumahnya sore itu, Jumro merasakan firasat buruk. Matanya terpaku pada pergerakan tanah yang nyaris tak kasatmata di bukit sisi jalan menuju Sibolga.
Menyadari teriakannya belum tentu terdengar, Jumro memilih cara yang ekstrem untuk memperingatkan tetangganya: melempar atap seng rumah warga yang berada di bawah kediamannya.
Benturan keras itu seketika memecah keheningan. Penghuni rumah kaget dan berhamburan keluar. Melihat kepanikan itu, warga lain ikut bertindak cepat, menggedor pintu dan berteriak, memaksa para tetangga meninggalkan rumah. Dalam hitungan menit, kepanikan berubah menjadi upaya penyelamatan massal. Satu kampung berlari menuju tempat yang lebih aman.
Tak lama berselang, sekitar pukul 20.00 WIB, longsor pertama terjadi. Warga sempat kembali, mengira bahaya telah berlalu. Namun, Jumro (10/12) menceritakan, malam kembali menguji keberanian mereka.
Pukul 22.00 WIB, suara gemuruh memecah gelap. Longsor terbesar meluncur, menimbun puluhan rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya.
“Waktu itu rumah sudah kosong. Kalau masih ada orang di dalam, entah apa jadinya,” ujar Jumro, suaranya terdengar tertahan.
Meskipun tidak ada satu pun nyawa melayang berkat aksi cepat tersebut, kerugian materiil sangat besar. Sebanyak 26 rumah porak poranda dan 53 rumah lainnya rusak. Harta benda lenyap dan kenangan terkubur, tetapi warga masih bernapas selamat.
Kini, Jumro dan warga Dolok Nauli masih dilingkupi trauma. Setiap tetes hujan membawa kembali ingatan malam mencekam itu. “Kalau hujan turun, jantung rasanya ikut berdebar,” kata Jumro lirih.
Lemparan atap itu memang merusak properti, namun, pada malam paling genting, itulah harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan nyawa satu kampung. (JH/P-5)
BENCANA banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Sumatera Utara mendorong para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengalihkan fungsi dapur MBG mereka menjadi dapur umum.
WARGA Desa Aek Nabara, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, harus berjibaku menyelamatkan diri setelah banjir besar di Sumut yang memutus akses utama desa
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan akan membuka akses yang terputus akibat tanah longsor di Sumatera Utara (Sumut) serta banjir di Sibolga dan Tapanuli
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved