Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Menghidupkan Foodscape, Saat Rempah Menjadi Medium Diplomasi dan Curahan Hati di Temu Roti

Naviandri
01/12/2025 23:17
Menghidupkan Foodscape, Saat Rempah Menjadi Medium Diplomasi dan Curahan Hati di Temu Roti
Perjamuan unik bertajuk Ramu Rambat x Seduh Keluh: Mengikat Memori Lewat Rasa, Menegaskan Identitas Lewat Bahan.(MI/Naviandri)

AROMA rempah merebak hangat di tengah sejuknya sore di kawasan Cigadung Kota  Bandung. Di bawah naungan bangunan Joglo Kafe Temu Roti, puluhan orang tidak hanya datang untuk menikmati sajian yang ada, tetapi juga untuk berdiskusi dan mengadukan keluh kesah mereka dalam sebuah perjamuan unik bertajuk Ramu Rambat x Seduh Keluh: Mengikat Memori Lewat Rasa, Menegaskan Identitas Lewat Bahan.
 
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Anggaran (TA) 2025 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan juga  Direktorat Jenderal Riset dan pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). 

Kegiatan ini diinisiasi oleh Agus Suharjono Ekomadyo (Akademisi SAPPK ITB) sebagai salah satu Pelaksana PISN 2025 yang dalam pelaksanaannya melibatkan kolaborasi lintas disiplin keilmuan yang membuat substansi kegiatan ini semakin kuat, berlangsung pada Jumat (21/11) lalu.

Secara konseptual, kegiatan ini merupakan manifestasi dari konsep Foodscape, yakni pengalaman menikmati makanan yang tidak hanya dirasakan lidah, tetapi juga menyatu dengan keindahan tempat dan suasana di sekitarnya. Tujuannya ialah untuk mengaktifkan ruang publik sekaligus melakukan reaktualisasi budaya kuliner agar relevan dengan tantangan masa kini. 

Konsep Hybrid space dengan memadukan ruang nyata dengan ruang virtual melalui teknologi food traceability, mengajak peserta yang hadir melacak jejak bahan pangan dari hulu ke hilir sehingga pengalaman kuliner menjadi jembatan pertukaran budaya dan diplomasi yang lebih bermakna.
 
DISKUSI INTERAKTIF
Rangkaian inti kegiatan dibuka dengan sesi diskusi interaktif Ramu Rambat. Sesi diskusi ini dipandu Dr. Agus sebagai moderator dengan dua nara sumber Deny Willy Junaidy, Ph.D. (Akademisi FSRD ITB) dan Dr. Aswin Rahadi (Akademisi SBM ITB) untuk membedah potensi ruang publik seperti bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar tempat nongkrong.
 
Deny dengan topik diskusinya terkait Budaya Inovasi di ruang publik melalui media kuliner yang mengajak para peserta melihat ruang publik sebagai inkubator budaya inovasi dengan kuliner sebagai pemicu kreativitasnya. Diskusi semakin menarik dengan paparan Dr. Aswin Rahadi dengan topik diskusinya terkait Strategi Optimalisasi Peluang Bisnis Berkelanjutan di Ruang Publik yang menyoroti pemanfaatan ruang publik dari sisi ekonomi dan bisnis. 

Di akhir sesi, bahasan diskusi menjadi semakin menarik karena bukan hanya dari moderator dan dua narasumber saja, tetapi melibatkan para peserta yang hadir untuk turut berdiskusi dan menceritakan pengalaman ataupun pendapatnya yang relevan dengan topik yang dibahas. 

Setelah kenyang dengan gagasan dari sesi Ramu Rambat, peserta diajak menyelami pengalaman rasa yang lebih intim pada sesi Seduh Keluh. Ini merupakan sesi yang paling intim dalam rangkaian kegiatan ini karena peserta tidak memesan menu biasa kepada peramu, melainkan menyampaikan ‘keluhan’ fisik maupun batin kepada peramu rempah. 

Sang peramu kemudian menerjemahkan keluhan itu menjadi racikan minuman rempah yang sesuai dengan personal masing-masing peserta. Di momen ini, kuliner tidak hanya berfungsi sebagai pengisi perut ataupun pelepas dahaga saja, tetapi juga berfungsi sebagai medium diplomasi rasa dan budaya yang ada. 

Secara bersamaan, pertunjukan Tanjidor juga ditampilkan dalam sesi ini yang membuat acara ini semakin meriah. Kehadiran pertunjukkan Tanjidor ini bukan sekedar hiburan pelengkap saja, melainkan upaya nyata untuk melestarikan dan mengenalkan budaya ini kepada generasi masa ini.
 
PENAMPILAN WAYANG GOLEK
Kemeriahan itu kemudian ditutup dengan penampilan spesial seni lainnya, yaitu Penampilan Wayang Golek yang membawakan tema jenaka namun mengandung makna mengenai filosofi Combro (Oncom Di Jero) dan Batagor (Baso Tahu Goreng) sebagai makanan tradisonal Sunda. Gelak tawa penonton pecah, menutup acara spesial ini dengan manis sekaligus bangga. Terlebih, dalam pertunjukkan seni ini ialah kehadiran anak-anak sebagai pemain dari pertunjukkan seni ini. Kehadiran anak-anak ini bukan sekedar hiburan semata, melainkan bukti nyata regenerasi budaya di tengah gempuran modern, ketika budaya semakin dilupakan.

Filosofi Combro (Oncom Di Jero) dan Batagor (Baso Tahu Goreng) sebagai makanan tradisonal Sunda. Gelak tawa penonton pecah, menutup acara spesial ini dengan manis sekaligus bangga. Terlebih, dalam pertunjukkan seni ini ialah kehadiran anak-anak sebagai pemain dari pertunjukkan seni ini. Kehadiran anak-anak ini bukan sekedar hiburan semata, melainkan bukti nyata regenerasi budaya di tengah gempuran modern, dimana budaya semakin dilupakan.
 
Dengan rangkaian diskusi yang hangat serta pertunjukan seni tradisional yang menggugah, dari kegiatan “Ramu Rambat x Seduh Keluh” kita dapat mengambil makna bahwa kuliner, ruang publik, dan seni dapat saling berpaut untuk menjaga identitas budaya sekaligus menjawab tantangan zaman. Melalui kolaborasi lintas disiplin, keterlibatan masyarakat, dan hadirnya generasi muda dalam panggung seni, perjamuan ini tidak hanya menjadi ajang bertukar gagasan dan menikmati sajian, tetapi juga menjadi ruang reaktualisasi budaya yang hidup, hangat, dan terus menerus diwariskan. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya