Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah warung kecil di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, Rini Puji Astuti tampak menata keset-keset yang diperdagangkan. Dengan dibantu alat berjalan, Rini tidak merasa ada kekurangan di dalam dirinya. Dia harus terus mencari nafkah meski sebagai penyandang disabilitas.
“Saya berjualan keset-keset produksi dari Mutiara Handycraft yang dimiliki Mbak Irma Suryati di Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kebumen. Karena saya harus menghidupi nenek dan adik yang juga difabel. Yang penting semangat terus, nanti pasti ada jalan,” ungkap Rini pada Sabtu (22/11).
Irma Suryati yang disebut Rini adalah pemilik Mutiara Handycraft, sebuah UMKM yang berdiri di salah satu desa di Kebumen, tepatnya di Karangsari. Ia juga seorang difabel karena waktu kecil terkena polio sehingga kakinya lumpuh. Di desa itulah menjadi salah satu tempat untuk memproduksi berbagai macam kerajinan. Mulai dari keset, tas, baju, kanvas, dan berbagai macam produk lainnya. Hampir seluruh produknya menggunakan limbah dari kain perca hingga goni.
“Mbak Rini itu bagian dari ekosistem yang telah kami bangun selama belasan tahun. Sebagai seorang difabel, saya ingin dia tetap berdaya. Jika tidak bisa di bagian produksi, maka di pemasaran. Kebetulan Mbak Rini menjadi pedagang. Karena harus menanggung biaya hidup nenek dan adiknya, saya perlu memerhatikan dia. Saya bantu motor roda tiga dan merenovasi rumahnya. Yang penting dia terus bersemangat,” kata Irma saat berbincang dengan Media Indonesia.
Bagi Irma, itu adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan mitra-mitra difabelnya tetap dapat hidup layak. Sebagian besar keuntungan usaha pun ia sisihkan untuk para difabel yang sudah terlalu renta atau sakit sehingga tak lagi mampu bekerja. “Mereka tetap harus kita urus. Itu amanah,” ujarnya.
Irma melakukan hal itu karena pengalaman pahit masa lalu. Jatuh bangun nasibnya membentuk dirinya agar terus berempati kepada sesama. Di rumahnya di Desa Karangsari, perempuan difabel itu sejak dua dekade terakhir merajut kembali hidupnya yang pernah runtuh.
Dari tempat ini pula, ia membangun jaringan pemberdayaan difabel yang kini menjangkau ribuan orang di Jawa Tengah.
Tak banyak yang mengira bahwa perempuan berusia 50 tahun ini pernah memiliki usaha moncer di Semarang. Selepas menempuh pelatihan di Rehabilitasi Centrum Prof. Dr. Soeharso Surakarta, Irma muda merintis usaha kerajinan keset dari kain perca sekitar tahun 1999. Dia memproduksi keset bersama belasan difabel lain. Pasarnya cepat berkembang. Irma bahkan menyewa kios di Pasar Karangjati, Semarang. Perlahan-lahan, ia bisa membeli rumah, memiliki mobil, dan mempekerjakan sekitar 50 difabel dalam produksi.
Namun kehidupan berubah drastis hanya dalam semalam. Pada 2002, kebakaran besar melalap seluruh kios di Pasar Karangjati.
Irma hanya mampu terpaku menyaksikan api itu memakan habis mesin jahit, kain, buku pesanan, hingga hasil produksi yang belum sempat dikirim. Tidak hanya modal yang menghilang, tetapi juga harapan yang selama ini ia tanam bersama para difabel mitranya. “Semua habis. Kembali ke titik nol,” kenangnya.
Dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit, Irma memutuskan kembali ke kampung halamannya di Kebumen. Karangsari menjadi tempat ia menata ulang hidup sambil memikirkan langkah baru. “Waktu itu saya merasa tidak punya apa-apa lagi,” ujarnya.
Namun menyerah tak pernah masuk dalam kamus hidupnya. Ia mendatangi kantor Pemkab Kebumen untuk menemui Bupati Kebumen saat itu, Rustriningsih. Berkali-kali ia ditolak memasuki ruangan karena petugas mengira ia datang untuk meminta sumbangan. “Mungkin karena saya difabel, jadi orang langsung menilai begitu,” katanya.
Baru setelah bupati mengetahui maksudnya, ia dipanggil dan dipersilakan memaparkan rencananya untuk membangun kembali usaha kerajinan. Pertemuan itu menjadi titik balik kelahiran Mutiara Handycraft.
Irma mulai mengumpulkan para difabel yang sempat bekerja dengannya maupun yang ia temui di sekitar desa. Mereka dilatih dari awal, belajar memotong kain, menjahit, merangkai warna, hingga meningkatkan kualitas produk.
Dalam perjalanannya, usaha itu terus membesar, bukan hanya menjadi tempat kerja, tetapi juga pusat pemberdayaan bagi difabel yang sering kali tidak memiliki ruang di pasar tenaga kerja formal.
Dari rumah yang tak terlalu besar di Karangsari, jaringan produksi Mutiara Handycraft terus berkembang. Pesanan datang dari berbagai daerah. Para difabel di desa-desa sekitar mulai bergabung, diikuti para ibu rumah tangga, petani yang membutuhkan pekerjaan sampingan, hingga anak muda yang ingin belajar kerajinan. Lambat laun, jaringan itu membentuk ekosistem ekonomi yang bergerak melalui kerja berbasis rumah tangga.
Irma bahkan sempat terbang ke Australia untuk memamerkan produk kerajinannya. Dari kunjungan itu, pembeli dari Australia mulai memesan produk secara rutin. Bertahun-tahun kemudian, permintaan itu masih berlanjut. Jepang menyusul dengan minat pada produk ramah lingkungan seperti tas goni, kanvas, dan ragam kerajinan berbahan serat alami. Harga yang ditawarkan sangat kompetitif, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp125 ribu per pieces tergantung model dan motifnya.
“Untuk pasar Jepang dan Australia masih tetap berlanjut sampai sekarang. Setiap tahunnya ada pesanan hingga 100 ribu pieces keset untuk tiap negara. Kami merasa bahwa karya difabel diapresiasi dan bisa tembus pasar dunia,” katanya.
Perjuangan ini melibatkan sekitar 5 ribu mitra, khususnya para perempuan yang tersebar di Kebumen, Banyumas, dan kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Tengah. Selain itu, juga melibatkan sekitar 50 difabel yang turut serta menjadi produsen keset. “Saya memulai dari melatih, kemudian pengadaan mesin jahit hingga ke pemasaran. Bahkan, yang sudah ahli biasanya mereka akan menjual sendiri. Bagi saya, tidak masalah karena mereka bisa mandiri,” ungkapnya.
Irma mengakui omzetnya kini mencapai ratusan juta dalam sebulan. Dalam setiap tahun, ada tantangan yang harus dihadapi. “Misalnya ketika datangnya pandemi covid-19, kami sempat banting setir untuk memproduksi masker dan baju hazard. Kemudian Maret hingga November ini, harus bekerja keras cari pasar, karena ekonomi yang menantang,” katanya.
Kesuksesan Irma juga tidak lepas dari sentuhan permodalan yang digulirkan dari BRI melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Yang ia ingat adalah, pinjamannya inklusif tanpa membeda-bedakan pelaku UMKM.
“Saya difabel, tetapi tidak ada persoalan dengan penilaian kemampuan. Prosesnya sangat mudah dan ramah bagi pelaku UMKM. Saya mulai meminjam Rp3 juta pada 2005, kini memperoleh plafon kredit hingga Rp350 juta. Bunganya ringan, dan pencairannya cepat. Modal itu yang jadi kekuatan mulai dari usaha kecil hingga bisa berkembang seperti ini. Saya sudah 10 tahun bersama BRI. Ternyata benar sesuai benar dengan tagline-nya, melayani dengan setulus hati,” ungkapnya.
Bahkan, ketika tahun 2021 Irma terpilih Brilianpreneur. BRI memberikan berbagai macam pelatihan dan kemudahan. “Saya berterima kasih kepada BRI yang telah memilih saya masuk dalam Brilianpreneur tahun 2021. BRI memberikan bantuan kepada saya berupa pelatihan-pelatihan salah satunya adalah digital marketing. Sehingga mulai saat itu, ada yang memasarkan melalui pasar daring,” jelasnya.
Dari para mitra, Irma mendengar banyak cerita tentang bagaimana modal usaha membantu mereka bertahan hidup. Bagi sebagian besar difabel yang menjadi mitra, bekerja bersama Mutiara Handycraft bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga martabat. Mereka merasa dihargai, merasa mampu, dan memiliki peran nyata bagi keluarga.
“Saya tidak pernah menolak siapa pun yang ingin belajar. Pasar masih sangat terbuka, dan saya ingin memberi ruang bagi semua. Misalnya saja, tahun ini secara mendadak ada kebutuhan 60 ribu pieces, saya tidak mampu paling hanya bisa 20 ribu pieces saja karena terbatasnya tenaga kerja,” kata dia.
Kini, puluhan difabel di Kebumen bergantung pada usaha ini, disertai ribuan pekerja informal UMKM yang tersebar di Jawa Tengah. Para mitra yang terus bekerja dan berusaha itu menjadikan Mutiara Handycraft bisa bertahan hingga sekarang. “Mereka yang membuat usaha ini terus hidup. Dan para mitra juga tidak sedikit yang mendapat sokongan KUR BRI,” ujarnya.
KUR yang disalurkan kepada UMKM Mutiara Handycraft dan mitra-mitranya merupakan sebagian kecil dari penyaluran KUR secara keseluruhan.
Hingga akhir Oktober 2025, BRI mencatat penyaluran KUR mencapai Rp147,2 triliun kepada 3,2 juta debitur. Realisasi tersebut setara 83,2% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp177 triliun, yang sebelumnya meningkat dari pagu awal Rp175 triliun menyusul tingginya permintaan pembiayaan produktif dari pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Dalam penjelasan resminya, BRI merinci bahwa kuota KUR 2025 terdiri atas Rp160 triliun untuk KUR Mikro, dengan plafon pinjaman di bawah Rp100 juta, dan Rp17 triliun untuk KUR Kecil dengan nilai kredit Rp100 juta hingga Rp500 juta.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung program prioritas pemerintah, terutama dalam penyaluran KUR yang menjadi bagian dari implementasi Asta Cita untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Menurut Hery, pembiayaan ini diarahkan pada sektor-sektor produktif seperti pertanian, perdagangan, dan perikanan guna memperkuat sektor riil dan membuka lapangan kerja.
“BRI terus mendorong pertumbuhan UMKM agar tetap sehat dan berkelanjutan sebagai pilar perekonomian nasional. Dengan sisa kuota sebesar Rp29,8 triliun, kami memastikan penyaluran KUR berlangsung optimal hingga akhir 2025 untuk mendukung pemberdayaan pelaku UMKM di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebagai bank dengan penyaluran KUR terbesar secara nasional, lanjutnya, BRI memastikan proses pemberian kredit dilakukan secara prudent, transparan, dan akuntabel. Hal tersebut penting lantaran KUR sepenuhnya menggunakan dana bank yang bersumber dari penghimpunan dana masyarakat, sehingga kualitas kredit harus dijaga agar tetap sehat. Melalui penyaluran KUR, BRI menunjukkan komitmen nyata dalam mewujudkan Asta Cita, khususnya pada pilar peningkatan lapangan kerja yang berkualitas serta mendorong kewirausahaan.
Secara terpisah, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Istiqomah, menilai pembiayaan perbankan seperti KUR memiliki peran penting dalam memperkuat perekonomian daerah. Dari temuan risetnya bersama mahasiswa menunjukkan bahwa akses kredit mampu menurunkan angka kemiskinan melalui peningkatan kesempatan kerja.
“Dengan adanya akses permodalan, UMKM dapat berkembang lebih cepat. Pembiayaan perbankan menjadi akselerator yang membuat sektor usaha tumbuh, dan seiring itu kebutuhan tenaga kerja meningkat. Masyarakat yang sebelumnya menganggur bisa memperoleh pekerjaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sinergi antara perbankan dan sektor usaha pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. “Ketika dunia usaha berkembang dan penyerapan tenaga kerja meningkat, maka ekonomi daerah ikut bergerak naik. Sinergi ini harus terus dijaga,” tandasnya. (E-4)
YAYASAN Indonesia Setara (YIS) bersama dengan Yayasan Puspa Indah Mitra Kreatif dan Difapreneur menggelar Pelatihan Digital Marketing Difabel Setara Batch-4
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan komitmennya untuk menyiapkan fasilitas rumah ibadah dan lembaga pendidikan yang inklusif dan ramah difabel.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memastikan semua ruang publik di bawah naungan Kemenag ramah bagi penyandang disabilitas.
Pemprov Bengkulu, menegaskan bahwa seluruh program pemerintah baik pusat maupun daerah harus bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat termasuk 7.200 orang difabel.
Pemkab Lamongan berkomitmen mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas. Salah satunya, memberikan wadah eksplorasi potensi difabel.
KUR BRI 2025 menawarkan bunga 6% per tahun, plafon hingga Rp 500 juta, tenor 60 bulan, tanpa agunan, dan proses pengajuan mudah untuk UMKM.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI adalah program pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan bunga rendah
Pelajari KUR 2025: tabel angsuran, syarat pengajuan, dan cara pinjam. Dapatkan dana hingga Rp50 juta dengan bunga rendah!
Pelajari syarat dan cara pengajuan KUR BRI 2025 untuk UMKM. Proses mudah, bunga rendah, dan modal usaha hingga Rp500 juta.
Siti Fatimah, pengusaha wanita asal Sleman, sukses membangun usaha kuliner lokal berbasis daun kelor bernama Pawon Teges. Berkat inovasi dan dukungan KUR BRI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved