Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

RS Ben Mboi Kupang Sukses Operasi Bypass STA-MCA, Clipping dan Coiling untuk Pertama Kali

Palce Amalo
15/11/2025 20:15
RS Ben Mboi Kupang Sukses Operasi Bypass STA-MCA, Clipping dan Coiling untuk Pertama Kali
Dokter Donny Argie menjelaskan tentang Operasi Bypass STA-MCA, Clipping dan Coiling kepada wartawan di ruang ICU RS Ben Mboi Kupang, Sabtu (15/11/2025)(MI/Palce Amalo)

RSUP dr. Ben Mboi Kupang mencatat sejarah baru dalam layanan bedah saraf di Nusa Tenggara Timur setelah sukses melakukan tiga operasi besar secara mandiri untuk pertama kalinya.

Tiga operasi bypass tersebut yakni STA–MCA (Superficial Temporal Artery-Middle Cerebral Artery/Arteri Temporal-Arteri Serebral Tengah), tindakan clipping Aneurysm (aneurisma), dan prosedur coiling.

Keberhasilan ini menempatkan RS Ben Mboi yang diresmikan pada 2023 ini sebagai rumah sakit pertama di NTT yang mampu melakukan seluruh tindakan tersebut. Prestasi ini disampaikan dalam acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Pengampuan Layanan Stroke antara RS Ben Mboi dan RS Pusat Otak Nasional (PON) Prof. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Sabtu (15/11).

Direktur Pelayanan Klinis Dirjen Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kementerian Kesehatan, dokter Obrin Parulian, mengatakan, keberhasilan tersebut menjadi bukti peningkatan kualitas layanan saraf dan stroke di NTT.

Menurutnya, pemerintah terus memperluas akses layanan kesehatan agar tidak lagi terpusat di Jawa. Tiga pasien yang menjalani tindakan besar tersebut kini berada dalam kondisi stabil dan sadar di ruang ICU, yakni Theodora Kase, 56, yang menjalani operasi Kraniotomi Clipping Aneurysm, kemudian Sabina Ndeok, 67, menjalani tindakan Coiling, dan Vito Alesandro Leo, 23, yang menjalani operasi bypass STA-MCA dan Ligasi ICA.

Menurutnya, keberhasilan ini menempatkan NTT di antara sembilan provinsi yang mampu melakukan bypass STA-MCA, provinsi ke-29 yang memiliki layanan clipping, serta fasilitas ke-68 di Indonesia yang mampu melakukan coiling. Direktur RSUP dr. Ben Mboi, dr. Annas Ahmad, menjelaskan rumah sakitnya menangani sekitar 250 pasien stroke dari Januari hingga Oktober 2025.

Dua dokter bedah saraf RS Ben Mboi telah mandiri menangani kasus clipping dan coiling, sementara tindakan bypass akan terus diperkuat melalui pendampingan RS PON dan RSUP Sanglah. Annas menekankan pentingnya pemerataan layanan hingga ke kabupaten/kota agar pasien dapat tertangani dalam waktu emas 24-72 jam.

Sementara itu, Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional (PON), dokter Adin Nulkhasanah, mengatakan keberhasilan RS Ben Mboi menangani tindakan clipping dan coiling secara mandiri menunjukkan bahwa kapasitas layanan stroke di NTT telah meningkat signifikan.

Menurutnya, untuk tindakan bypass STA-MCA, beberapa kasus dengan tingkat kesulitan tinggi masih akan membutuhkan pendampingan (proctoring) dari tim PON karena setiap pasien memiliki kondisi anatomi yang berbeda.

“Kalau ada kasus yang sulit, kami tetap siap mendampingi. Prinsipnya, layanan stroke tidak berhenti pada tindakan operasi, tetapi mencakup deteksi dini, penanganan akut, hingga rehabilitasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan SDM menjadi fokus utama pengampuan. Saat ini terdapat sekitar 20 calon dokter neurologi yang sedang menjalani pendidikan dan fellowship, termasuk beberapa yang dikirim hingga ke Tiongkok untuk peningkatan kompetensi. Nantinya, enam dokter akan ditempatkan di berbagai fasilitas kesehatan di NTT untuk memperkuat jejaring layanan stroke.

“Harapannya layanan paripurna di RS Ben Mboi juga mengalir ke RSUD di seluruh NTT, sehingga tidak hanya terpusat di Kupang,” tambahnya.

Menurutnya, percepatan layanan tidak mungkin dilakukan jika seluruh pasien harus dirujuk ke provinsi. Karena itu, pemerintah melalui program pengampuan memastikan RSUD kabupaten/kota dilengkapi dengan CT-scan, Cath Lab, serta dokter yang kompeten agar penanganan stroke dapat dilakukan di fasilitas terdekat.

“Waktu adalah hal paling kritis dalam stroke. Tidak mungkin semua pasien dibawa ke Kupang. Pengampuan ini memastikan layanan tersedia sedekat mungkin dengan masyarakat,” katanya.

Adapun sesuai target nasional adalah seluruh 514 kabupaten dan ota mampu menangani stroke, khususnya tindakan coiling, pada tahun 2029. Saat ini baru 68 daerah yang mampu melaksanakan tindakan tersebut, sementara layanan bypass sudah tersedia di sembilan provinsi dan clipping di 29 provinsi.

“Tujuannya jelas, menekan angka kematian dan kecacatan berat akibat stroke,” tegasnya. (PO/E-4) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya