Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Minimnya Dokter Neurologi di Indonesia Timur Jadi Sorotan di Peringatan Hari Stroke 2025

Palce Amalo
14/11/2025 20:48
Minimnya Dokter Neurologi di Indonesia Timur Jadi Sorotan di Peringatan Hari Stroke 2025
Peringatan Hari Stroke Nasional 2025 di Kupang, NTT menyoroti minimnya dokter Neurologi di Indonesia timur.(MI/Palce Amalo)

PERINGATAN Hari Stroke Sedunia Tingkat Nasional 2025 digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (14/11), menyoroti seriusnya kesenjangan layanan tenaga kesehatan. Terutama minimnya jumlah dokter spesialis neurologi di Indonesia timur.

 Acara ini dihadiri para pakar neurologi, pemerintah pusat dan daerah, serta pemangku kepentingan kesehatan itu menjadi momentum strategis memperkuat upaya nasional dalam menekan angka kejadian dan kematian akibat stroke, penyakit yang masih menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni), dr. Dodik Tugasworo mengatakan, rangkaian seminar dan workshop telah dimulai sejak 29 Oktober dan diselenggarakan bergilir oleh 38 cabang Perdosni di seluruh Indonesia. 

Ia menyebut kasus stroke mencapai 8,3 per 100 ribu penduduk atau sekitar 700 ribu kasus baru per tahun, dengan angka kematian dan kecacatan yang tetap tinggi. Beban pembiayaan stroke juga besar, mencapai Rp5,2 triliun per tahun dan menjadi salah satu penyakit dengan biaya penanganan tertinggi di BPJS Kesehatan.

Menurutnya, pemilihan NTT sebagai tuan rumah bukan karena angka kasus tertinggi, melainkan karena komitmen kuat pemerintah provinsi dalam memperkuat layanan neurologi.

 Saat ini, NTT memiliki 22 dokter neurologi, namun penyebarannya belum merata dan masih ada enam kabupaten yang belum memiliki layanan spesialis tersebut. Lebih dari 20 putra-putri NTT juga sedang menempuh pendidikan spesialis neurologi di berbagai pusat pendidikan di Indonesia untuk memperkuat layanan di masa depan.

Ketua Kolegium Neurologi Indonesia, dr. Syahrul, mengungkapkan, pemerataan dokter neurologi di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama di wilayah timur. 

Dari 19 pusat pendidikan, Indonesia menghasilkan sekitar 200 neurolog per tahun. Namun kebutuhan ideal masih jauh dari terpenuhi.

"Untuk NTT saja, dari total 22 kabupaten/kota, dibutuhkan setidaknya 75 neurolog agar layanan bisa merata. Ia berharap pemerintah daerah semakin aktif mengirimkan dokter umum untuk melanjutkan pendidikan spesialis dengan dukungan beasiswa LPDP," ujarnya. 

Staf Ahli Gubernur NTT, Adi Manage, menyampaikan apresiasi atas ditunjuknya NTT sebagai tuan rumah kegiatan nasional ini. Ia menggambarkan kondisi geografis NTT yang kepulauan dan terbatasnya fasilitas kesehatan menyebabkan penanganan stroke sering terlambat. 

Menurutnya, edukasi pola hidup sehat, pemeriksaan rutin, serta pengendalian faktor risiko seperti rokok dan minuman keras perlu diperkuat untuk menurunkan kasus stroke.

Sementara itu, Wakil Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Kamilus Elu, memaparkan tantangan yang dihadapi daerah perbatasan dalam penanganan stroke. Ia mengapresiasi hadirnya dokter spesialis neurologi di RSUD Kefamenanu, dr. Maria Demensiana Bawa Sardana, yang dianggap membawa perubahan signifikan pada layanan saraf di wilayah tersebut. 

Dengan kehadiran dokter spesialis, banyak kasus stroke yang sebelumnya harus dirujuk ke daerah jauh kini dapat ditangani di TTU. Ia menegaskan pentingnya fasilitas medis memadai, alat diagnosis, serta edukasi masyarakat untuk mengubah pola hidup berisiko.

Ketua Panitia Kegiatan, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, menjelaskan bahwa Neurologi NTT mendapat kehormatan menjadi tuan rumah peringatan nasional ini. 

Ia menyebut saat ini NTT memiliki 21 dokter neurologi aktif, sementara 27 dokter muda sedang menempuh pendidikan spesialis untuk memperkuat layanan di daerah-daerah. 

Menurutnya, dukungan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk meningkatkan fasilitas rumah sakit agar pelayanan stroke dapat optimal.

Rangkaian kegiatan melibatkan seminar dan workshop yang diikuti dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan mahasiswa kesehatan dari seluruh NTT.

"Setiap rumah sakit dan puskesmas mengirimkan satu dokter dan satu perawat untuk mengikuti pelatihan penanganan stroke. Esok hari, panitia juga menggelar senam stroke yang melibatkan 250 peserta dari puskesmas-puskesmas besar di Kota Kupang," sebutnya. 

Dr. Imelda memaparkan  wilayah NTT, Maluku, dan Papua segera menerapkan program tele-stroke untuk mempercepat deteksi dan penanganan darurat stroke di daerah terpencil. Lewat platform ini, tenaga kesehatan di puskesmas dapat mengirim data gejala pasien secara real-time kepada dokter spesialis neurologi. 

Ia memperkenalkan metode deteksi cepat 'SA atau Senyum dan Angkat', yang menilai tanda-tanda stroke dari perubahan senyuman dan kelemahan gerak. Tele-stroke diharapkan menjadi terobosan untuk mengurangi keterlambatan penanganan stroke dalam masa emas (golden period), terutama di wilayah yang jauh dari pusat layanan neurologi.

Dalam kesempatan yang sama, jajaran pengurus Yastroki NTT yang baru dilantik juga diperkenalkan. Pengurus tersebut terdiri dari lintas profesi, mulai dari neurolog, dokter gizi klinik, bedah, rehabilitasi medik, kesehatan jiwa, psikolog, hingga praktisi kesehatan lainnya, yang akan memperkuat kolaborasi penanganan stroke secara komprehensif di NTT. (PO/E-4) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya