Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tayub Massal di Blora Pukau Ribuan Wisatawan di Goa Terawang Ecopark

Akhmad Safuan
09/11/2025 09:16
Tayub Massal di Blora Pukau Ribuan Wisatawan di Goa Terawang Ecopark
Ilustrasi(MI/AKHMAD SAFUAN)

SEBANYAK 1.300 penari dalam pertunjukan Tayub massa pada pagelaran Blora Culture Festival (BCF), memukau ribuan pengunjung di destinasi wisata Goa Terawang Ecopark, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Cuaca mendung di kawasan hutan jati di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora Sabtu (8/11) tidak membuat ribuan wisatawan gamang untuk mengunjungi Goa Terawang Ecopark, sejak pagi pelancong dari berbagai daerah tetap antusias datang ke destinasi wisata yang berada cukup jauh dari Kota Blora tersebut.

Tidak sekedar melihat keindahan Goa Terawang Ecopark yang masih banyak dihuni monyet-monyet liar, ribuan wisatawan juga ingin ikuti agenda Blora Culture Festival (BCF) ywng menyajikan Tayub massal diikuti oleh 1.300 penari dari perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI, Polri, organisasi wanita, pelajar SMP dan SMA, serta Komunitas seni dan budaya Blora.

Diiringi dengan gending gamelan Jawa, ribuan perempuan penari Tayub tampak berlenggak lenggok mengikuti irama gamelan dengan sangat apik, membuat ribuan penonton terpukau dengan tepuk tangan bergemuruh di obyek wisata Goa Terawang Ecopark ketika para penari cantik mempertunjukkan tarian yang gemulai.

"Sangat elok ketika tarian Tayub dipagelarkan secara massal oleh wanita-wanita cantik ini, mereka terlihat melenggak-lenggok secara gemulai membuat takjub penonton," ujar Lembayung,32, seorang wisatawan dari Yogyakarta.

Hal serupa juga diungkapkan Anjar,50, wisatawan dari Semarang yang mengaku sengaja datang ke Blora untuk menyaksikan agenda Blora Culture Festival (BCF) yang mempertunjukkan tarian Tayub secara massal ini. "Tari Tayub yang  menggabungkan unsur tarian pergaulan, ritual dan hiburan menjadi semakin indah ketika dibawakan secara massal," tambahnya.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Blora Iwan Setiayarso mengatakan sangat puas menyaksikan agenda Blora Culture Festival (BCF) yang mempertunjukkan tarian Tayub massal ini, karena ribuan pelancong yang berkunjung di Goa Terawang Ecopark juga terlihat sangat antusias.

"Awalnya jami hanya menargetkan 1.000 penari ajan ikuti kegiatan Tayub massal ini m, namun hingga pertunjukan akan dimulai jumlah peserta mencapai 1.300 penari," ujar Iwan Setiayarso.

Kegiatan tarian Tayub massal ini, ungkap Iwan Setiayarso, adalah wujud nyata upaya pelestarian tradisi lokal agar Tari Tayub Blora terus lestari, bahkan melalui event besar ini diharapkan dapat mengangkat nama Blora dengan Tarian Tayub Blora tidak hanya di tingkat regional tetapi juga tingkat nasional dan Internasional.

Dipilihnya lokasi kegiatan tari Tayub massal di destinasi wisata di Goa Terawang Ecopark, menurut Iwan Setiayarso, sekaligus juga untuk meningkatkan kunjungan pelancong di daerah di ujung timur Jawa Tengah ini, karena dengan meningkatnya kunjungan wisatawan maka akan semakin membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar.

Nyaris Punah 

Tayub merupakan seni tari tradisional dari Jawa yang menggabungkan unsur tarian pergaulan, ritual dan hiburan dengan ciri khasnya dibawakan penari wanita (disebut waranggono atau ledhek) yang mengundang penari pria untuk menari bersama dengan cara mengalungkan selendang (sampur).

Tarian diiringi oleh musik gamelan Jawa dan sering ditampilkan dalam acara hajatan, upacara adat dan  perayaan rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut, dimasa sekarang ini nyaris punah tergerus oleh perkembangan jaman dengan berbagai hiburan, bahkan generasi muda saat ini sudah sulit untuk menemuinya.

Padahal Tayub diiring musik gamelan Jawa yang menciptakan suasana meriah,pada awalnya digunakan sebagai sarana ritual untuk memohon kesuburan tanah dan kelimpahan panen dan sering menjadi hiburan berfungsi sebagai sarana untuk menjalin dan mempererat hubungan sosial di masyarakat.

Interaksi antara penari wanita dan penonton pria, karena penari wanita bersifat lemah gemulai, dinamis dan penuh arti, menggambarkan keindahan, keserasian dan makna budaya mengajak penonton untuk ikut menari menjadi salah satu ciri khasnya, meskipun memiliki makna budaya yang mendalam Tayub pernah dicap negatif karen penari menampilkan gerakan yang dianggap terlalu sensual.

"Banyak seniman dan budayawan terus berupaya melestarikan tayub sebagai warisan budaya Indonesia, dengan mempertahankan nilai-nilai kesakralan dan kebersamaannya," tutur Iwan Setiayarso. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya