Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH buku kaya antropolog Jepang, Prof. Mitsuo Nakamura berjudul ‘Mengamati Islam di Indonesia 1971–2023’ Selasa (23/9) diluncurkan di Gedung Sardjito Universitas Islam Indonesia. Peluncuran ini, dihadiri sang penulis, Prof. Mitsuo Nakamura.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Fathul Wahid mengungkapkan buku ini memberikan gambaran nyata bagaimana kondisi Islam Indonesia di hari ini. Buku ini memuat berbagai kumpulan tulisan Nakamura tentang sejarah pemikirannya secara diakronis untuk mengetahui atau menunjukkan pergeseran minat dan kajian pada momen-momen tertentu dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.
Lebih lanjut Rektor UII menjelaskan isi buku yang merupakan tulisan Prof. Nakamura sangat variatif dalam hal isu, rentang waktu maupun bentuk tulisannya. "Mulai yang berasal dari jurnal, koran, chapter buku, hingga tulisan ringan lainnya,” kata Fathul dalam sambutannya.
Menurut Fathul Wahid, Nakamura adalah saksi hidup perjalanan sejarah bagaimana organisasi Islam di Indonesia seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan ekspresi keIslaman lainnya berkembang. Tak hanya itu, jika dirangkum mendalam, tulisan di buku ini seperti memberikan gambaran utuh dunia Islam Indonesia mulai dari zaman kolonial sampai reformasi.
Meski jangkauan terawal 1971, ujarnya, namun sebenarnya banyak yang telah menembus waktu jauh sebelum 1971 dan sesudahnya. Perspektif yang disajikan di buku ini katanya menjadikan buku ini berharga.
Dikatakan kehadiran buku ini akan membuka perspektif kalangan muda untuk kembali membuka gagasan, konflik dan rekonsiliasi yang membentuk wajah Islam di Indoensia hari ini. "Buku ini tidak hanya melihat sejarah, namun juga memproyeksikan kemana Islam Indonesia akan bergerak ke depan." kata Rekto.
TUJUAN MELAHIRKAN BUKU
Sementara itu, Prof. Mitsuo Nakamura menyebut tujuan melahirkan buku ‘Mengamati Islam di Indonesia 1971–2023’ sebagai ucapan terima kasih kepada kalangan umat Islam Indonesia, khususnya di Kotagede yang membantu penelitiannya sejak 1971.
Ia menegaskan, sudah menjadi kewajiban sebagai antropolog untuk mengembalikan tulisan hasil penelitiannya itu kepada orang-orang yang selama ini membantunya. "Ini adalah etika di antropologi,” ujarnya.
Dikatakannya, tulisan-tulisan yang tersaji di buku ini merupakan catatan kaki yang sangat panjang terkait dengan proses penelitian Islam Indonesia hampir 50 tahun silam.
Prof. Mitsuo Nakamura berharap melalui tulisan-tulisan itu para mahasiswa atau generasi muda sekarang bisa mengetahui gambaran Islam Indonesia secara obyektif dari sudut pandang orang asing.
“Antropologi itu ilmu tentang manusia. Orang-orang Kotagede itulah yang membawa saya kepada Islam. Mereka menarik perhatian saya. Sebelum itu, pengetahuan saya tentang Islam sangat terbatas. Tetapi setelah bergaul dengan orang-orang Muhammadiyah, mata saya terbuka bagaimana Islam menghidupkan orang,” katanya. (E-2)
Hendri Satrio menjelaskan, karya tersebut lahir dari keresahannya melihat pola komunikasi pejabat yang seringkali memicu polemik.
Ekoteologi bukan sekadar konsep akademik, melainkan kerangka berpikir yang menghubungkan manusia, alam, dan Tuhan.
Priyambudi Sulistiyanto resmi meluncurkan bukunya, Finding Kapiten Boodieman, dalam sesi Book Launch di Ubud Writers & Readers Festival 2025
Karya GKR Hemas berhasil menggambarkan dinamika peran DPD RI sejak reformasi hingga kini, serta menegaskan pentingnya memperkuat hubungan antara pusat dan daerah.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengapresiasi peluncuran buku bertajuk yang ditulis dr Inez Nimpuno, MPS, MA, sebagai upaya menggencarkan edukasi tentang kanker payudara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved