Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBERADAAN Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Babakan Siliwangi (Baksil) Kecamatan Coblong Kota Bandung Jawa Barat (Jabar), mulai meresahkan warga setempat. Bahkan keberadaannya juga sudah mengusik seniman Kota Bandung yang menilai TPST berdampak buruk terhadap lingkungan Babakan Siliwangi yang bersejarah.
“Kami minta Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk segera mencari solusi. Kami merasa resah karena dampak dari keberadaan TPST Baksil
tersebut merusak estetika dan mereduksi fungsi hutan kota. Apalagi Baksil ini bagian dari budaya dan sejarah Sunda,” papar Tisna Sanjaya
salah seorang seniman Kota Bandung Senin (24/3).
Atas hal tersebut kata Tisna, Baksil itu seharusnya tidak ada TPST dan untuk sampahnya harus dikelola di tempat yang lebih aman. “Sampah harus ditempatkan di lokasi yang lebih sesuai, bukan di sini,” tegas Tisna.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, keberadaan TPST saat ini masih sangat penting bagi Kota Bandung, terutama dalam menghadapi lonjakan sampah menjelang Lebaran. Kendati demikian, Farhan juga memahami kegelisahan para seniman dan budayawan yang menganggap TPST mengganggu fungsi Baksil sebagai ruang berkesenian dan konservasi alam.
“Sebagai pengelola kota, saya harus membaca dan menangkap kegelisahan masyarakat. Para seniman dan budayawan melihat Baksil sebagai rumah berkarya, berekspresi dan berkontemplasi,” beber Farhan.
Menurut Farhan, ketika ada TPST yang dianggap mengganggu, tentu ini menjadi perhatian Pemkot Bandung, sehingga kunjungannya bertujuan agar pihaknya memiliki pemahaman yang sama dan berada dalam satu frekuensi.
Sedangkan untuk solusi jangka panjang, akan segera dicarikan solusinya, sehingga keberadaan TPST tidak bertentangan dengan fungsi hutan kota dan harus ada upaya pengolahan sampah yang lebih berbudaya.
“Kami harus memikirkan inovasi agar pengelolaan sampah tetap berjalan tanpa mengorbankan estetika dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Farhan.
Sebagai bentuk keterlibatan dalam dialog kreatif, Farhan diajak Tisna untuk merespons persoalan ini melalui sketsa. Ia pun berjanji akan terus berkomunikasi dengan para seniman dan masyarakat untuk mencari solusi terbaik.
“Saya sengaja memberi tanggal pada sketsa ini sesuai dengan hari ini, sebagai bentuk komitmen bahwa tahun ini kita akan berupaya memperbaiki bersama,” sambung Farhan. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved