Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya akan selalu mewaspadai bencana hidrometeorologi yang dapat menimbulkan longsor, banjir, angin kencang, pergerakan tanah seiring hujan dengan intensitas tinggi masih terus terjadi. Kesiapsiagaan harus dilakukan semua lapisan masyarakat agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Nuraedidin mengatakan, intensitas hujan tinggi yang terjadi agar masyarakat harus selalu waspada karena berdasarkan prakiran cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan akan terjadi bulan Januari hingga April. Namun, selama ini tidak menentu kadang panas, hujan dan kondisi itu berdampak pada bencana alam.
"Kami sudah melakukan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai bencana, karena selama ini di wilayahnya terdapat potensi ancaman bahaya hidrometeorologi yaitu bencana banjir, longsor, pergerakan tanah dan angin kencang. Namun, sejak beberapa kali hujan banyak pohon tumbang menimpa rumah dan longsor sehingga upaya kesiapsiagaan harus dilakukan," katanya, Selasa (4/3/2025).
Ia mengatakan, menghadapi persoalan perlu upaya dilakukan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca ekstrim dan daya tampung serta daya dukung lingkungan sekitar. Karena, pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, PMI, Satpol PP dan relawan sekarang tengah melakukan langkah agar memantau kondisi aliran sungai.
"Petugas gabungan bersama warga selalu melakukan langkah evakuasi material longsor dan pohon tumbang di berbagai wilayah di Tasikmalaya. Namun, upaya yang lainnya sudah menyiapkan alat berat berupa ekskavator karena di wilayahnya masih banyak tebing curam dan semua itu sangat dibutuhkan," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin mengatakan, pemerintah akan mencanangkan gerakan bersama penanganan bencana Hidrometeorologi sebagai upaya mitigasi dan edukasi kepada masyarakat terkait ancaman bencana. Namun, partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan dan penanganan bencana.
"Kami berharap gerakan bersama ini dapat menjadi contoh praktik terbaik terutama bagi masyarakat dalam mengurangi risiko bencana di masa depan. Karena, gerakan ini menjadi bagian dari langkah strategis Pemkab Garut dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan angin kencang, yang kerap terjadi akibat perubahan cuaca ekstrem," pungkasnya. (H-1)
Meskipun modifikasi cuaca merupakan ikhtiar mitigasi yang penting, teknik ini bukanlah solusi permanen.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) masih akan berlangsung hingga akhir April atau awal Mei 2026.
KELURAHAN Cisarua di Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Data BMKG selama 16 tahun terakhir (2010–2025) juga memperlihatkan tren peningkatan kejadian banjir dan tanah longsor yang sejalan dengan kenaikan suhu dan perubahan iklim.
Survei pascabencana yang dilakukan Pusat Koordinasi Nasional Mapala se-Indonesia bersama pegiat lingkungan menemukan ratusan titik longsor di kawasan hulu sungai Tapanuli Selatan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut, tanah longsor tidak hanya semakin sering terjadi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Menurut BPBD, korban meninggal dunia merupakan warga Pacitan yang tertimpa reruntuhan dinding saat gempa terjadi.
Ada dua fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan, yaitu Sekolah Dasar (SD) Jetis dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Jetis, dengan kerusakan cukup berat.
Analisa cuaca harian menjadi pijakan utama dalam pengambilan keputusan strategis.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan penanganan bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat.
BPBD Kudus mengatakan longsor terjadi di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog tersebut karena intensitas hujan yang sangat lebat.
Cuaca ekstrem tersebut memicu setidaknya 14 kejadian bencana tersebar di 15 kecamatan, mulai dari pohon tumbang, kerusakan rumah warga, hingga gangguan fasilitas umum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved