Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
CUACA ekstrem yang melanda Indonesia membuat harga cabai rawit di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai angka fantastis hingga Rp70 ribu per kilogram. Harga ini mengalami lonjakan drastis dalam seminggu terakhir, dari sebelumnya hanya sekitar Rp50 ribu per kilogram.
Pedagang di Pasar Inpres Larantuka, Kabupaten Flores Timur menyuarakan keluhan mereka terkait lonjakan harga cabai. Kenaikan harga tersebut hampir merata di semua jenis cabai, terutama jenis cabai keriting, yang mencapai hingga Rp70 ribu per kilogram.
Kenaikan harga cabai ini disebabkan beberapa faktor termasuk dampaknya cuaca ekstrem yang melanda mengakibatkan gagal panen dan tingginya permintaan dari luar daerah
Baca juga: Sambut Hari Pahlawan, Warga Kelurahan Lokea Bersihkan Patung Pahlawan Herman Fernandez Larantuka
Seperti diungkapkan Fatmawati, 47, pedagang sayuran di Pasar inpres Larantuka. Ia mengaku bingung dengan kondisi harga saat ini, terutama cabai rawit yang makin melonjak.
"Bingung, pak Pembeli juga sepi. Harga-harga sekarang pada naik." kata Fatmawati kepada Media Indonesia, Sabtu (11/11) pagi.
Ia menjelaskan harga cabai merah keriting yang sekarang naik jadi Rp70 ribu per kilogram dari sebelumnya kisaran Rp60 ribu per kilogram. Demikian juga cabai rawit merah yang semula Rp65 ribu, sekarang naik jadi Rp70 ribu per kilogram.
Baca juga: Dandim 1624/Flotim Deklarasi Pemilu Damai 2024
Sedangkan harga cabai rawit hijau sekarang Rp70 ribu dari sebelumnya kisaran Rp50 ribu - Rp55 ribu per kilogram.
"Lebih kurang sudah semingguan harganya naik," ungkapnya.
Fatmawati menyebutkan penyebab naiknya harga cabai akibat faktor cuaca. Pasalnya, banyak petani yang mengalami gagal panen.
"Kemungkinan berdampak terhadap produksi yang berkurang. Akibatnya harga jadi mahal," tuturnya.
Naiknya harga cabai juga banyak dikeluhkan para pembeli. Namun fatmawati mengaku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalau sebelumnya ada yang beli Rp10 ribu per gelas juga saya layani. Biasanya buat bikin sambal. Sekarang dengan harga segitu, saya mau menjualnya juga bingung," ucap fatmawati.
Fatmawati berharap harga beberapa komoditas, terutama cabai, bisa kembali seperti semula. Peran pemerintah sangat dibutuhkan agar harga terkendali.
"Kalau harga naik itu sebetulnya bagi kami bukan untung. Bisa dikatakan rugi, karena pembeli berkurang, sehingga barang susah dijual. Mudah-mudahan bisa kembali normal harganya," tegas fatmawati.
Sementara pedagang lainya di Pasar Inpres Larantuka Theresia Peni Odjan, 51, asal Lebao mengeluh sepi pembeli akibat kenaikan harga cabai terjadi sejak satu bulan terakhir.
"Kami cemas, pak. Sejak harga cabai naik, pembeli di Pasar Inpres Larantuka jadi sepi. Biasanya satu hari itu bisa habis 30 hingga 60 kilogram, tetapi sekarang hanya habis 15 hingga 20 kilogram," ungkap Theresia saat ditemui di lapak jualannya. (Z-1)
Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan memperkuat pengawasan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Harga daging sapi terpantau Rp140.000 per kilogram, daging kambing Rp160.000, ayam ras Rp42.000, ayam kampung Rp65.000. Serta minyak goreng berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Harga cabai domba mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp60.000. Begitu juga cabai tanjung dari Rp30.000 menjadi Rp 45.000.
Harga daging sapi impor beku tercatat naik hingga Rp115.000 per kilogram. Selain itu, harga cabai rawit merah mencapai Rp80.000 per kilogram.
Kenaikan harga cabai rawit yang menembus harga eceran tertinggi menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks harga pangan daerah.
Harga cabai rawit dipatok Rp80 ribu, dari harga sepekan sebelumnya yang masih dalam kisaran Rp50 ribu.
GUNUNG Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas dan berpotensi terjadi erupsi eksplosif.
AKTIVITAS gunung berapi Lewotobi Laki-laki yang berada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali meningkat pada Jumat, 16 Agustus 2025.
BNPB meminta warga Kabupaten Flores Timur untuk tidak kembali ke kampung halaman atau kawasan rawan bencana (KRB) menyusul erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki
GUNUNG Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali alami erupsi pada Selasa, 8 Juli 2025 petang, tepat pukul 16.08 WITA.
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT, erupsi lima kali pada Selasa malam (17/6) dengan tinggi letusan mencapai 5.000 meter.
Kondisi lesunya ekonomi yang melanda masyarakat Flotim dan kondisi bencana erupsi gunung Lewotobi laki-laki yang terjadi belum lama ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved