Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, tidak memiliki
skenario karantina ataupun protokol kesehatan yang ketat saat menerima
pemulangan jamaah haji yang kembali dari Tanah Suci. Pemkab berharap, penerapan protokol kesehatan yang ketat dilaksankan di tempat debarkasi atau di asrama haji.
Hal tersebut disampaikan Sadikin Arakian, Penyelenggara Haji dan Umroh
(PHU), kantor Kementrian Agama, Kabupaten Lembata, di Lewoleba, Kamis
(21/7).
Ia menjelaskan, sebanyak 12 jamaah haji asal Lembata telah menyelesaikan proses ibadah haji. Mereka dijadwalkan kembali ke
Tanah Air, pada 2 Agustus.
Menurut Sadikin, pihaknya tidak menjadwalkan penerapan protokol
kesehatan yang ketat bagi para jamaah haji yang tiba kembali ke kampung
halaman.
"Kami sudah ajukan jadwal pemulangan dan penjemputan jamaah haji ke
Kanwil Kementerian Agama NTT. Berkaitan penerapan prokes yang ketat,
seperti tes dan karantina, kita serahkan penanganannya di lokasi
debarkasi atau di asrama haji," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Gabriel Bala
Warat mengaku, pihaknya tidak mempersiapkan penanganan khusus terhadap
12 jamaah haji yang akan tiba dari luar negeri.
"Kita berharap penanganan prokes pencegahan covid-19 oleh Pemerintah
Pusat di asrama haji tempat debarkasi mereka yakni di Surabaya," ujarnya.
Jamaah Haji Asal Lembata, Nusa Tenggara Timur, diberangkatkan dari
Lembata sejak 18 Juni melalui embarkasi Surabaya, kloter 25. Ke 12 jamaah haji tersebut dijadwalkan tiba di Surabaya pada 2 Agustus, dan selanjutnya dijemput ke Lembata. (N-2)
Petugas mengimbau masyarakat maupun pengunjung agar tidak memasuki wilayah dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Asap kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan ketinggian sekitar 10 hingga 100 meter dari puncak.
Meski pengetahuan tinggi, sikap menghindari orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) juga sangat tinggi.
Petugas Pos Pengamat Gunung Lewotolok, Syawaludin, mengatakan gunung dengan ketinggian 1.423 meter di atas permukaan laut itu masih berada pada status Siaga atau Level III.
Perlindungan satwa adalah bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana dan keseimbangan ekosistem.
Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status aktivitas gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak Minggu (18/1) pukul 11.00 Wita.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved