Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Melihat Belitung dari Kain Cual

Tosiani
18/5/2016 01:45
Melihat Belitung dari Kain Cual
(ANTARA/Anis Efizudin)

RUANGAN pameran di Galeri dan Pusat Kerajinan Tangan Kain Cual Ishadi di Jalan Ahmad Yani No 40 Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung, Rabu (9/3) siang, penuh sesak pengunjung. Para pengunjung mayoritas ialah wisatawan dari berbagai daerah yang datang ke Pangkal Pinang untuk menyaksikan fenomena alam gerhana matahari total. Namun, mereka juga mampir ke tempat-tempat wisata yang cukup terkenal di wilayah itu.

Para wisatawan dari Jawa Tengah, Jakarta, dan Surabaya itu ramai-ramai membeli kain cual karya desainer Isnawati Hadi (Ishadi). Mereka juga belajar membatik dan menenun di galeri milik Ishadi. Putra Isnawati ikut sibuk melayani konsumen yang ramai-ramai membeli kain cual. Sesekali ia memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang kain cual produksi orangtuanya itu.

Di tengah galeri yang juga berfungsi sebagai rumah tinggal, ada perempuan lanjut usia sedang menenun kain cual. Kain cual merupakan kain khas Pangkal Pinang, yang berupa kain tenun yang didesain serupa kain songket.

Di belakang rumah tidak jauh dari ruang makan, ada beberapa pekerja perempuan yang sedang membatik. Rata-rata pembatik kain masih berusia belia. Batik yang merupakan salah satu produk unggulan yang dihasilkan Galeri Ishadi ialah kain cual.

Isnawati Hadi, sang desainer yang menciptakan banyak model kain cual dan batik, dahulu berprofesi sebagai asisten apoteker. Namun, ia memiliki kegemaran mengoleksi kain kuno berusia ratusan tahun. Koleksinya kini sudah mencapai sekitar 20 lembar, rata-rata berusia 150 hingga 200 tahun.

Kondisi kain-kain itu sudah kusam. Ada juga kain yang robek sebagian. Namun, koleksi kain-kain kuno itu tersimpan rapi.

“Beberapa koleksi kain memang peninggalan orangtua dan kakek buyut. Namun, banyak pula koleksi kain yang didapat dari orang-orang zaman dahulu, di desa-desa sekitar Mentok, Pangkal Pinang. Ada pula kain yang saya dapat dari Belanda, Tiongkok, dan Eropa,” ujar Isnawati.

Kain-kain cual itu ia dapatkan dengan harga tinggi, antara Rp20 juta dan Rp25 juta per lembar.
Meski kain itu mahal, ibu empat anak itu tak sayang untuk merogoh kocek dalam-dalam guna mendapatkan kain-kain yang diproduksi sebelum Perang Dunia I itu.

Selain gemar mengoleksi kain, Isnawati juga memiliki bakat mendesain kain. Ia mempelajari teknik mendesain motif kain secara autodidak. Dengan bekal keahlian mendesain kain dan hobi mengoleksi kain, Isnawati dan almarhum suaminya, Abdul Hadi, mendirikan galeri kain cual bernama Ishadi pada 2000, bertepatan dengan berdirinya Provinsi Bangka Belitung.

Nama Ishadi telah dipatenkan pemiliknya sebagai merek dagang. Usaha pasangan itu mengusung semangat untuk membuat sesuatu sebagai ciri khas Provinsi Bangka Belitung yang baru berdiri, yakni kain cual.

Galeri Ishadi menjadi semacam jendela bagi masyarakat untuk melihat Bangka Belitung lewat kain-kain cual yang mengandung banyak filosofi. (Tosiani/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya