Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Bersaing Memberdayakan Daerah lewat Pariwisata

Tosiani
18/5/2016 01:30
Bersaing Memberdayakan Daerah lewat Pariwisata
(MI/TOSIANI)

PULUHAN anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Belitung tampak berjaga-jaga di sekitar Pantai Laskar Pelangi. Tidak terlihat ada pedagang di sekitar pantai, Jumat (11/3) siang itu. Sementara itu, para turis dari dalam dan luar negeri sangat leluasa menikmati keindahan pantai tanpa gangguan para pedagang.

Berdasarkan pengakuan seorang warga Belitung yang ada di Pantai Laskar Pelangi, kehadiran para personel Satpol PP bertujuan untuk merazia para pedagang yang kerap kucing-kucingan berjualan di pantai. Pemerintah daerah setempat melarang aktivitas berjualan di pantai tersebut.

Pantai Laskar Pelangi awal mula­nya bernama Pantai Tanjung Tinggi. Keindahan pantai tersebut mulai dikenal masyarakat luas setelah digunakan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi. Pmkab Belitung pun telah mendirikan semacam monumen bahwa pantai tersebut telah dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Sayangnya, Pemkab Belitung tidak mengelola pantai tersebut dengan maksimal agar menghasilkan pundi-pundi uang. Pemkab bahkan tidak menarik retribusi parkir untuk pe­ngunjung. “Kalau pantai ini dipegang negara asing sudah menghasilkan banyak uang. Pantainya bagus, sayang tidak dimanfaatkan,” keluh Dian, wisatawan Nusantara dari Jakarta.
Wisatawan bahkan juga kesulitan mencari jajanan karena di kawasan itu tidak boleh ada pedagang berjualan.

Bupati Belitung Sahani Saleh menjelaskan kawasan Pantai Laskar Pelangi akan dikembangkan sebagai kawasan ekonomi khusus pariwisata. Untuk itu, semua yang terkait dengan wisata akan ditata ulang. “Upaya pengembangan kawasan ekonomi khusus pariwisata membutuhkan dana sekitar Rp18 triliun dengan rincian Rp8 triliun dari pemerintah pusat melalui APBN dan akan dianggarkan mulai 2016, sedangkan Rp10 triliun investasi pihak swasta,” terang Sahani.

Pengembangan kawasan ekonomi khusus pariwisata dimulai 2016-2018. Sejumlah infrastruktur untuk mendukung pengembangan kawasan seperti penyediaan air bersih, listrik, dan revitalisasi kawasan Bandara HAS Hanandjoedin akan dibangun.

“Kami hanya menyediakan lahan untuk revitalisasi bandara seluas 3.000 hektare,” ujar Sahani saat bertemu rombongan Pemkab Temanggung dalam rangka kunjungan kerja di Belitung, 11 Maret lalu.

Berbeda dari Belitung, Kabupaten Bangka Tengah bergerak lebih maju untuk mengembangkan pariwisata mereka. Mulai tahun ini, Pantai Terentang akan dikembangkan menjadi kawasan wisata sepanjang 9,7 kilometer. Anggaran untuk proyek itu dikucurkan dari APBD kabupaten secara bertahap mulai 2017 hingga 2022 sebesar Rp35 miliar.

“Kami akan membangun break water dan panggung di tengah laut, jadi seperti ada sarana air mancur monumental. Tahun ini sudah mulai detail engineering design (DED)-nya, lalu 2017 akan mulai dikerjakan. Kalau provinsi dan pemerintah pusat mau bantu monggo,” cetus Bupati Bangka Tengah Elzardi Rosman Johan.

Upaya menarik wisatawan ke daerahnya, menurut Elzardi, sudah dimulai dengan promosi menyaksikan gerhana matahari total di Pantai Terentang pada 9 Maret lalu. Pada hari itu, ada sekitar 50 ribu lebih wisatawan yang berkunjung ke Bangka Tengah untuk menyaksikan fenomena alam tersebut.

Untuk acara gerhana matahari total, Pemkab Bangka Tengah mampu menarik devisa sekitar Rp10 miliar dari sektor pariwisata.

Upaya lainnya akan dilakukan pada Juni mendatang dengan menggelar lomba panjat tebing nasional. Bangka Tengah juga memberanikan diri mengajukan diri menjadi tuan rumah SEA Games, event olahraga tingkat ASEAN pada 2018.

“Kita siap untuk event itu biar orang datang ke sini. Kalau orang datang, tentu akan membeli sesuatu. Dampaknya untuk ekonomi masyarakat kita akan lebih bagus. Ekonomi masyarakat terus bergerak. Untuk itu, fasilitas umum akan terus kita bangun. Namun, yang terpenting untuk mendukung wisata ialah masyarakat siap melayani,” ujar dia.


Menunggu pusat

Sebaliknya, di Temanggung, Jawa Tengah, pemkab setempat masih risau menunggu kucuran dana dari pusat untuk pengembangan enam potensi wisata yang ada, yakni Curug Trocoh atau Surodipo di Kecamatan Kandangan, Curug Lawe di Kecamatan Gemawang, Mata­raman di Kecamatan Kandangan, Gardu Pandang Simpar di Kecamat­an Tretep, serta Curug Guwung dan Goa Lawa di Kecamatan Bejen.

“Kami memang menunggu bantuan dari pemerintah pusat karena anggaran APBD sangat terbatas. Kami sudah ajukan proposal ke kementerian sejak tahun lalu, tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Kami masih menunggu,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Temanggung Woro Andiyani.

Woro menyebutkan, untuk pengembangan potensi wisata Curug Trocoh, pihaknya mengajukan anggaran Rp4 miliar, Curug Lawe butuh Rp3 miliar, dan Mataraman butuh Rp1,25 miliar. Daerah wisata lainnya seperti gardu pandang Simpar membutuhkan anggaran Rp2 miliar, lalu Goa Lawa dan Curug Guwung masing-masing butuh Rp1,5 miliar.

“Potensi wisatanya sangat bagus. Sayangnya, akses jalan ke enam potensi wisata itu, medannya masih sangat berat, sehingga perlu dikembangkan. Selain akses jalan, perlu lokasi parkir dan tempat istirahat,” ujar Woro.

Sementara itu, pengembangan temuan Situs Liyangan di Kecamat­an Ngadirejo untuk menjadi objek wisata masih sangat jauh. Temuan tersebut masih membutuhkan penelitian dan ekskavasi. Namun, pemkab sudah merencanakan pembangunan jalan akses Situs Liya­ngan dengan anggaran Rp1,6 miliar yang bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Kalau untuk objek wisata Watu Kelir Posong, saat ini sudah mulai dikelola desa dan komunitas pecinta alam Jogorekso. Pemkab juga me­ngucurkan anggaran untuk Posong sebanyak dua kali, masing-masing Rp250 juta dan Rp950 juta,” pungkas Woro. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya