Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH warga sedang menata pot-pot bibit sayuran untuk ditata di lorong Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, akhir pekan lalu.
Kecamatan Rappocini memang ditunjuk sebagai pusat pembibitan sayuran dan tanaman palawija untuk kebutuhan warga di Kota Makassar. Adanya pusat pembibitan itu tidak lepas dari program Pemkot Makassar yang menjadikan lorong-lorong atau gang atau jalan kecil di perkampungan dalam kota menjadi basis pengembangan bisnis, ekonomi, dan sosial.
Menghidupkan lorong-lorong kampung yang semula kumuh menjadi modern dan tertata apik merupakan bagian keinginan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto, atau akrab disapa Danny, untuk menjadikan Kota Makassar sebagai kota dunia.
Danny menyebutkan ada tiga misi untuk mengantar Kota Makassar sebagai kota dunia. Misi itu merekonstruksi nasib rakyat menuju masyarakat sejahtera sesuai dengan standar dunia, merestorasi tata ruang agar nyaman, dan mereformasi tata pemerintahan dengan pelayanan publik standar dunia dan bebas korupsi.
Dari tiga misi program tersebut, saat ini Pemkot Makassar sedang menata kota dengan membenahi lorong-lorong atau jalan gang di perkampungan kota. Untuk menata lorong, Danny menganalogikan dengan sederhana. Menurutnya, kota seperti tubuh manusia. Di tubuh tersebut ada dua hal penting, yakni sel dan otak. Orang bisa dikatakan sehat atau mati jika sel dan otak sehat atau sebaliknya mati.
“Sel itu adalah lorong tempat rakyat tinggal yang paling miskin. Jadi, city cell. Saya konsen dulu pada selnya supaya sehat. Tidak ada gunanya otak sehat jika sel tidak,” ujar Danny.
Program penataan lorong sudah memasuki tahap ketiga saat ini. Pada tahap pertama lorong harus bersih atau istilahnya lorong ceria. Semua lorong di Kota Makassar dicat. Kemudian pada tahap kedua, ada lorong garden (longgar), dan ketiga adalah singara’na lorong ku (lorong yang terang).
“Kalau ketiga tahapan ini sudah dilalui, kita akan memasuki tahap keempat, yakni industri lorong, memberdayakan orang atau warga di lorong agar bisa berpenghasilan,” kata Danny.
Dari empat tahapan itu sudah jalan sekitar 30% dari 7.520 lorong yang ada di Kota Makassar.
Pada tahun ini, Pemkot Makassar bertekad akan membenahi sekitar 80% lorong. Menariknya dalam program itu, kegiatan tersebut merupakan partisipasi warga dan zero budget. “Pemkot hanya bantu pengadaan bibit tanaman sayuran. Bahkan untuk program lorong garden dan industri lorong, kita sudah jadi percontohan nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya bank sampah,” jelas Danny.
Pengelolaan bank sampah sudah mendapat bantuan kredit usaha rakyat (KUR). Saat ini untuk mengembangkan program industri lorong, masyarakat diajari membuat kerajinan dengan bahan bekas kantong sabun.
Secara keseluruhan, Pemkot Makassar memiliki delapan program penataan lorong. Selain empat program yang sudah berjalan, yakni lorong tidak rantasa, singara’ lorong, lorong garden dan industri lorong, ada empat lagi belum terlaksana. Keempatnya smart lorong, lorong wisata, badan usaha lorong, dan apartemen lorong.
“Semua program yang ada kita proyeksikan bisa selesai sebelum masa jabatan berakhir 2018. Bahkan untuk lorong garden ada bantuan dari pemerintah Australia meski hanya sampai pada penataan lorong. Program ini sudah mencakup seluruh kelurahan. Jika tidak ada lorong garden, lurahnya pasti dipecat,” jelasnya.
Bank bibit
Untuk mewujudkan kesinambungan program lorong garden di Kota Makassar, diperlukan bank bibit di setiap kelurahan untuk menopang kebutuhan bibit di setiap rumah tangga. Kecamatan Rappocini ditunjuk sebagai contoh pembuatan bank bibit. Pengadaan bank bibit ini akan terkoneksi dalam program RW mandiri di Rappocini.
“Bank bibit ini penting karena semakin masifnya program lorong garden di semua kelurahan, harus didukung dengan ketersediaan bibit tanaman sehingga masyarakat bisa melaksanakan pemanfaatan lahan yang ada di rumahnya,” ujar Hamri Haiya, Camat Rappocini, pada kesempatan sama.
Menurutnya, dalam program ini akan dikembangkan berbagai jenis tanaman palawija dan nantinya akan didistribusikan ke semua kelurahan di Kecamatan Rappocini.
Bahkan Lurah Bonto Makkio Fandy WIH sudah menindaklanjuti program tersebut dengan melakukan persiapan dan mengadakan pertemuan dengan komponen masyarakat di tingkat RW.
“Respons masyarakat sangat baik. Mereka justru berharap dengan adanya bank bibit, masyarakat tidak direpotkan lagi untuk mendapatkan bibit sayur-mayur dan tanaman hias,” tambah Hamri.
Jenis tanaman yang dikembangkan di bank bibit terutama sayuran dan palawija. “Program ini akan berdampak pada kesejahteraan warga. Apalagi bank bibit dan bank sampah bisa diterapkan di seluruh RW dan berjalan dengan baik, akan menambah pendapatan,” lanjutnya.
Pada bagian lain, perancang tata ruang kota dan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin bidang arsitektur, Prof Ananto Yudono menyarankan agar cita-cita Makassar sebagai kota dunia terlaksana, mereka harus memiliki city brand.
“City brand adalah identitas atau merek yang melekat pada suatu kota. Pembangunan brand suatu kota disesuaikan dengan potensi dan posisi yang menjadi target kota tersebut. City brand yang tepat mampu meningkatkan daya guna dan akselerasi pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya secara berkelanjutan,” ujar Ananto,
Untuk membangun city brand itu, lanjut Ananto, perlu waktu, rencana, kompetensi, komitmen, koordinasi, dan daya juang tinggi. (N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved