Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PROVINSI Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 27 April lalu memasuki usia 52 tahun.
Provinsi pecahan dari Sulawesi Selatan itu telah tumbuh menjadi daerah mandiri yang menyimpan kekayaan alam berlimpah.
Kekayaan alam yang tersimpan di provinsi yang beribu kota di Kendari itu antara lain emas dan nikel.
Selama delapan tahun terakhir, Sultra mengalami peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Sumbangan terbesar PAD, diakui Gubernur Sultra H Nur Alam, berasal dari pajak kendaraan bermotor dan pertambangan.
"Sampai hari ini masih didominasi penerimaan pajak bagi hasil kendaraan bermotor. Memang proporsi daerah cukup besar dan penggunaan kendaraan bermotor cukup tinggi," ujar Nur Alam kepada Media Indonesia di Kendari, Selasa (26/4) malam.
Secara terpisah, Kepala Bidang Pajak, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Sultra, H Jawar Dunou Laola, mengakui hal itu.
Bahkan, pada 2011, PAD Sultra sempat mengalami peningkatan hingga 104%.
Namun, pada tahun berikutnya, angka turun 30% akibat peraturan perundangundangan yang melarang ekspor barang mentah dan mengharuskan pabrik untuk memiliki smelter.
"Sempat turun akibat UU tersebut, tapi sudah kembali mengalami peningkatan kembali," ujar Dunou.
Kekayaan alam berupa nikel dan emas muncul ketika kepemimpinan Nur Alam pada 2008.
Nur Alam merupakan Gubernur Sultra kedelapan yang dilantik pada 18 Februari 2008.
Nur Alam yang berpasangan dengan Wakil Gubernur Saleh Lasata kembali terpilih untuk memimpin pada periode 2013-2018.
Nikel mulai digarap ketika mengalami harga booming mencapai US$52 per ton.
Hingga kini ada sekitar 526 izin usaha pertambangan (IUP)
yang diterbitkan pemerintah kabupaten dan satu IUP oleh Pemprov Sultra.
Hal itu membuat Sultra menarik perhatian ratusan investor untuk menanamkan uang mereka di provinsi itu.
Pertumbuhan itu juga menarik perhatian pengusaha bidang jasa perhotelan.
Kini, Kendari memiliki hotel berbintang, seperti Hotel Horizon Plaza Inn, Swissbel Hotel, Clarion, dan Hotel Aston.
Provinsi Sultra memiliki 15 kabupaten dan dua kota madya.
Dari jumlah itu, hanya dua daerah yang tidak memiliki sumber daya pertambangan, yakni Kendari dan Wakatobi.
Sebanyak 13 daerah lain, di antaranya Kabupaten Buton yang memiliki tambang nikel dan aspal serta Kabupaten Bombana yang memiliki emas dan nikel.
Selanjutnya, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara Konawe
Kepulauan, Kolaka, dan Kolaka Utara memiliki tambang nikel yang sangat berlimpah.
Daerah kepulauan
Sultra juga menyimpan potensi wisata nan indah.
Salah satu daerah yang memiliki keindahan alam yang dikenal hingga mancanegara ialah Wakatobi.
Taman Nasional Wakatobi merupakan salah satu surga wisata bawah laut yang menyimpan 942 spesies ikan dan 750 gugusan koral.
Secara geografis, Wakatobi berada di lokasi strategis Segi Tiga Gugus Koral Dunia, yang pasti menyimpan kekayaan alam bawah laut yang menakjubkan.
Tak mengherankan jika Nur Alam menaruh perhatian besar terhadap perkembangan dunia pariwisata di wilayahnya.
Bahkan, ia membangun objek wisata di Pulau Bokori.
Untuk menarik kunjungan wisata, pada 29 Oktober-1 November 2015, Nur Alam menyelenggarakan Festival Bokori.
Pada kesempatan itu, diselenggarakan sejumlah acara, antara lain lomba voli pantai yang diikuti peserta dari seluruh provinsi di Indonesia.
Sultra yang 74% wilayahnya merupakan lautan dipastikan membutuhkan pembangunan infrastruktur kelautan menjadi salah satu prioritas.
Dengan 651 pulau yang hampir 50% berpenghuni, tak urung sektor kesehatan pun menjadi prioritas pemerintah.
"Jika bicara soal peningkatan derajat kesehatan, problem utamanya ialah konektivitas," ujar Nur Alam.
Untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau lain, Sultra hanya mengandalkan hanyalah sampan.
Hal itu menjadi kendala penanganan masalah kesehatan masyarakat di kepulauan.
"Salah satu yang dilakukan ialah meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan. Misalnya bidan desa. Dengan peningkatan kompetensi menolong persalinan, risiko kematian diharapkan bisa ditekan."
Peningkatan kesehatan bisa dilihat dari angka-angka yang menunjukkan perbaikan, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Pada 2008, anak balita dengan gizi buruk tercatat ada 967 kasus, sedangkan pada 2014 turun menjadi 250 kasus.
Begitu pun kuantitas dokter spesialis yang berjumlah 50 orang pada 2008 dan pada 2014 menjadi 99 dokter.
Pemprov juga meningkatkan kualitas fasilitas kesehatan berupa penambahan jumlah rumah sakit, di antaranya membangun Rumah Sakit
Bahteramas di atas lahan 17 hektare di Kota Kendari.
Selain itu, pemprov juga menyediakan beasiswa untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) bidang kesehatan.
Hingga saat ini sudah ada sekitar 2.000 pelajar Sultra yang sekolah di luar provinsi melalui program Sultraku untuk mengenyam pendidikan S-1, S-2, dan S-3.
Untuk meningkatkan perekonomian Sultra, Nur Alam mencetuskan gagasan membangun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bahteramas, yang mulai beroperasi pada 2012.
Hanya dalam waktu singkat, BPR Bahteramas telah menghimpun dana puluhan miliar rupiah dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Bahkan, pada 26 April 2016, ia meresmikan BPR Bahteramas cabang ke-12 di Kabupaten Kolaka.
Rencananya, ada lima cabang lain akan dibangun.
Membangun suatu daerah memang ada seninya, bergantung pada perspektif mana kita melihatnya.
Saat prioritas sudah ditentukan, apakah hasilnya sesuai dengan target atau tidak, itu menjadi persoalan lain.
"Yang penting apakah sektor prioritas itu bisa menghasilkan out come yang bisa bermanfaat bagi masyarakat, bisa menyejahterakan,
itu yang lebih penting," tutur Nur Alam. (Rin/S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved