Rabu 07 April 2021, 20:40 WIB

Infrastruktur Pulau Adonara Rusak, Penyaluran Bantuan Terhambat

Febrian Ahmad | Nusantara
Infrastruktur Pulau Adonara Rusak, Penyaluran Bantuan Terhambat

Metro TV/Febrian Ahmad
Sejumlah warga dan tentara tengah mengawasi eskavator.

 

BENCANA banjir bandang yang melanda Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya pada Minggu (4/4) menorehkan kisah pilu, bagi warga terdampak. Bagaimana tidak? Banjir bandang datang tiba-tiba pada dini hari dan seketika menghancurkan rumah warga, serta memakan puluhan korban jiwa.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menunjukkan, setidaknya terdapat 86 korban ditemukan meninggal dunia. 56 di antaranya ditemukan di Pulau Adonara, Desa Nelalamadike, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, NTT.

Baca juga: Puluhan Jenazah Korban Longsor di NTT Dimakamkan Massal

Kondisi itu diperparah dengan sulitnya menjangkau pulau yang berada di timur dari Pulau Flores itu. Setelah lima hari pascabanjir bandang, insfrastruktur dan jalan penghubung di Pulau Adonara belum sepenuhnya diperbaiki. Selain itu, sudah lima hari pula, masyarakat Pulau Adonara hidup tanpa internet dan listrik, karena putusnya jaringan listrik dan internet.

Bantuan yang sangat dibutuhkan masyarakat, yang seharusnya cepat datang ke lokasi terdampak, masih sulit untuk diberikan. Sekedar menuju Pulau Adonara saja masih sulit, apalagi untuk membawa bantuan logistik, dalam jumlah besar.

Untuk menuju ke Pulau Adonara, satu-satunya akses adalah melalui Pelabuhan Larantuka, di Kabupaten Flores Timur. Penyebrangan komersil menuju Pulau Adonara, dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Namun, pascabanjir, cuaca untuk penyebrangan masih dinilai berbahaya untuk menyebrang, sehingga syahbandar pelabuhan melarang kapal di Pelabuhan Larantuka, untuk menyebrang.

Kapal yang boleh menyebrang ke Adonara, terbatas pada kapal milik pemerintah, TNI, atau kepolisian, yang difungsikan untuk menyalurkan bantuan logistik, ataupun mengevakuasi warga yang membutuhkan pengobatan, agar bisa dibawa ke Rumah Sakit di Larantuka.

Meski demikian, Pelabuhan Pante Tana Merah, yang lokasinya tidak begitu jauh dari Pelabuhan Larantuka, tetap bisa melayani penyebrangan menuju Pulau Adonara, menggunakan kapal tradisional yang berukuran lebih kecil, dengan kapasitas maksimal 4 orang.

Di Pulau Adonara, sejumlah jalan dan jembatan utama masih hancur dan rusak, seperti tertimbun longsor, ataupun terputus tersapu banjir bandang.

Untuk sementara, Logistik yang bisa masuk melalui pelabuhan Pante Tana Merah, Larantuka, bisa masuk ke Adonara melalui Kecamatan Adonara Barat, dan harus melanjutkan kembali perjalanan menggunakan mobil truck atau pick up, memutari pulau dengan jarak tempuh hingga tiga jam, untuk menuju titik terdampak banjir bandang di Kecamatan Adonara Timur, dan Kecamatan Ilu Belong.

Dengan situasi dan kondisi seperti itu, penyaluran logistik tentu semakin terhambat, alat berat seperti eksavator sulit untuk dibawa ke Pulau Adonara. Padahal alat berat merupakan alat yang kini paling dibutuhkan, untuk membantu proses evakuasi korban, dan rumah-rumah warga yang masih terendam lumpur.

Setali tiga uang dengan infrastruktur yang terputus, listrik di Pulau Adonara juga sudah lima hari padam. Masyarakat Pulau Adonara harus melewati malam dengan gelap gulita, tanpa penerangan. Hal ini juga berdampak pada proses pencarian korban dan evakuasi.

Tim Basarnas yang hanya berjumlah 15 orang di Pulau Adonara, sebenarnya sudah mencoba menyampaikan kondisi itu kepada Basarnas tingkat kabupaten. Namun, belum ada respon dari Kabupaten, untuk menyelesaikan berbagai permasalahan terkait evakuasi, di Pulau Adonara.

“Sampai hari keempat pasca banjir, kami sudah laporkan ke Basarnas tingkat Kabupaten, terkait permasalahan kami di sini. Tapi belum ada respon, jadi sampai sekarang di Desa Nelalamadike ini, ya cuma ada satu eksavator. Padahal ini desa paling terdampak dengan korban jiwa paling banyak,” ujar Komandan Tim Basarnas di Desa Nelalamadike, Pulau Adonara, Riswan Dwi Putra.

Senada, Kapolda Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol Lathoria Latief seusai meninjau langsung Desa Nelalamadike mengungkapkan, alat berat di desa tersebut masih sangat kurang. Kapolda NTT berencana untuk menyampaikan permasalahan itu ke Bupati Flores Timur dan Gubernur NTT.

“Saya lihat memang rasanya kurang sekali eksavator di sini. Ditambah lagi kondisi terdampak juga sudah tidak layak untuk ditinggali, warga harusnya direlokasi dari sini. Saya akan coba sampaikan ke Pemerintah Flores Timur dan ke Gubernur Nusa Tenggara Timur” ujar Kapolda. (A-1)

Baca Juga

lampost.co

Polisi Ringkus Dua Pelaku Begal Anak Bupati Brebes, Satu Ditembak

👤Supardji Rasban 🕔Senin 19 April 2021, 10:01 WIB
Anak bupati Brebes, El Santi Nabila mengalami trauma akibat kejadian...
MI/Amiruddin Abdullah Reubee

Harga Turun, Petani Sawit di Aceh Lesu

👤Amiruddin Abdullah Reubee 🕔Senin 19 April 2021, 09:43 WIB
"Bulan lalu harganya sudah mencapai Rp 1.850 per kilo, kini menurun sangat jauh yaitu Rp1.400 per kg. Kami tidak tahu mengapa bisa...
ANTARA FOTO/Rivan Awal L

Pemkab Temanggung Tunggu Aturan Lengkap Soal Mudik

👤Tosiani 🕔Senin 19 April 2021, 09:24 WIB
"Kalau sudah lengkap, Pemda akan segera membuat Surat Edaran (SE) tentang pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri, pengamanan Idul Fitri,...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Jalan Tol dan PKT untuk Ekonomi yang Lebih Baik

Pembangunan jalan tol sejatinya berpengaruh terhadap roda perekonomian bahkan sejak mulai tahap perencanaan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya